LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LXX


__ADS_3

Ruang persalinan terbuka lebar, tak lama kemudian Nathan keluar dengan penampilan yang berantakan. Kemejanya yang tadinya rapi sudah acak-acakan dan rambut pun tampak awut-awutan, namun berbanding terbalik dengan senyumnya yang merekah begitu lebarnya. Sorot matanya pun berbinar begitu indah, menyiratkan kebahagiaan yang tak terhingga sehingga menular ke yang lainnya juga.


"Mama," serunya saat keluar dari ruang persalinan. Nathan pun langsung berhambur ke pelukan Stefani. Ia memeluknya sambil meneteskan air mata bahagia. "Ma, terima kasih sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkan Nathan. Maaf kalau Nathan belum bisa membahagiakan mama. Aku yakin, mama pun sama seperti Bunga saat berjuang melahirkanku dulu. Terima kasih, ma, dan ... Alhamdulillah bayi kami ... lahir dengan selamat, sehat, dan tanpa kekurangan apapun. Putra kami ... Bunga berhasil melahirkan Putra kami, ma. Nathan ... Nathan sangat bahagia, akhirnya Nathan diberikan kesempatan untuk melihat dan mendampingi Bunga melahirkan. Nathan sangat bahagia, ma," ucapnya tergugu di pelukan Stefani.


Mendengar menantunya melahirkan anak keduanya, cucu laki-lakinya, Stefani berseru hamdalah dengan buncahan kebahagiaan tak terhingga.


"Masya Allah, selamat ya, sayang. Semoga putramu menjadi anak yang Sholeh dan berbakti pada orang tua, bangsa, dan negara.


Mendengar hal tersebut, yang lainnya pun turut mengucapkan selamat. Mereka turut berbahagia mendengar kabar gembira itu.


...***...


Selepas melahirkan, Bunga diminta untuk beristirahat. Satu jam kemudian, Bunga telah bangun sebab ia merasakan nyeri di area ***********.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Itu pa ... "


"Apa?"


"Itu, payudaraku sakit. Kayaknya ASI-nya udah mulai mau keluar. Bisa tolong ambilkan waslap dan baskom berisi air hangat nggak? Aku mau kompres dan bersihkan dulu biar nanti bisa mulai nyusuin si adek," cicit Bunga. Nathan pun dengan sigap menyiapkan apa yang dibutuhkan Bunga. Beruntung ruangan itu di bagian ranjang di lengkapi tirai, jadi biarpun di ruangan itu banyak anggota keluarga yang berkumpul, Bunga tetap bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya tanpa terganggu sama sekali.


"Sini papa bantu, sayang!"


"Nggak usah, pa, mama bisa sendiri kok," tolak Bunga sambil memeras waslap.


"Udah, kamu berbaring aja. Jangan khawatir, aku masih bisa mengontrol diri kok," bisik Nathan seraya mengerling membuat Bunga mendengkus. Wajahnya tiba-tiba memerah saat Nathan mulai membersihkan area areola Bunga dengan pelan-pelan dan hati-hati.

__ADS_1


Nathan hanya tersenyum geli melihat ekspresi malu-malu Bunga.


"Pa, aku mau pipis," cicit Bunga.


Seperti suami siaga, Nathan pun membimbing Bunga masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, Nathan kembali membimbing Bunga kembali ke atas ranjang. Tak lama kemudian,bada seorang perawat yang mengantarkan bayi Bunga dan Nathan untuk disusui.


Nathan terkekeh geli melihat bagaimana bayi mungil itu menghisap susu dengan begitu lahapnya seolah ia begitu haus dan lapar.


"Anak papa lucu banget sih."


"Kamu udah siapin namanya, sayang?" tanya Bunga.


"Udah, Satria Buana Wiryatama," ujar Nathan tersenyum sumringah. Bila anak pertama mereka, Bunga yang memberikan nama, maka di kesempatan ini, Bunga minta Nathan yang memberikan nama pada anaknya.


"Bagus," ucap Bunga.


"Tentu dong. Oh ya sayang, sebenarnya sudah lama aku penasaran, Buana itu akronim dari nama kita kan? Bunga dan Nathan?"


"Kenapa kamu masih selipin nama aku dan nama keluarga aku? Padahal saat itu aku ... "


"Karena kamu papanya dan mama mereka ini sangat mencintai papanya, apa salah?"


"No, aku malah bahagia banget. Di saat hatimu sedang terluka pun, ternyata kau masih selalu mengingatku dan mencintaiku. Aku amat sangat bersyukur atas segala cinta yang kau berikan sayang. Salah satu hal yang paling aku syukuri setelah yang pertama lahir sebagai anak mama dan papa adalah aku dapat memilikimu sebagai pasangan hidupku. Makasih sayang, makasih, sudah selalu menjaga cinta kita dan berani bertaruh nyawa demi melahirkan anakku. Aku sangat mencintaimu sayang," tutur Nathan dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru menyeruak. Bunga mengangkat tangannya dan mengelus pipi Nathan dan mengusap seputik air mata yang jatuh dari pelupuk mata Nathan.


"Aku pun bersyukur bisa menjadi istrimu, sayang. Terima kasih karena telah menjaga kesucian cinta kita, meskipun kita terpisah jarak dan waktu tapi kau selalu setia hanya mencintaiku. Aku pun sangat mencintaimu, sayang." Bunga mengungkapkan perasaannya dengan tulus. Kemudian Nathan mendekatkan wajahnya lalu menyapukan bibirnya di atas bibir Bunga. Bukan kecupan biasa, tapi disertai luma*tan tanpa napsu. Yang ada hanya rasa cinta yang mengharu biru.


"Astaga, mata gue ternoda euy gara-gara kalian!" seru Bela saat membuka tirai justru ia dihadapkan dengan adegan ciuman mesra antara Bunga dan Nathan. Sama seperti Bela yang wajahnya telah memerah, Bayu pun sama sebab ia tengah berdiri di samping Bela.

__ADS_1


"Ck ... iri aja loe. Makanya buruan nikah biar ada lawan main adu bibir kayak kita," tukas Nathan membuat Bela bersungut-sungut.


"Cih, mentang-mentang udah nikah. Tenang aja bro, bentar lagi gue nyusul kalian kok. Nih lihat, apa yang ada di jari gue," ujar Bepa sambil memamerkan jari manisnya yang sudah tersemat sebuah cincin bermata ungu.


"Wah, siapa kira-kira laki-laki malang yang mempersunting cewek bar-bar kayak loe!" cibir Nathan membuat Bunga terkekeh.


"Kak, liat tuh, adik ipar kakak ejekin aku! Kasi pelajaran sana kak, seenaknya aja ngejekin calon kakak iparnya sendiri," rengek Bela pada Bayu membuat mata Nathan dan Bunga membola. Pun kedua orang tua Bayu yang tak menyangka putra mereka telah melamar seorang gadis yang merupakan sahabat adiknya sendiri.


"Kak Bayu? Kalian?" beo Bunga dengan mata membulat.


Bayu mengusap tengkuknya dengan wajah malu-malu, "ekhem ... i-iya, kakak udah lamar Bela. Pak, Bu, mohon restu Bayu yang ingin menikahi Bela," ucapnya pada kedua orang tuanya.


Pak Broto dan Karlina pun tersenyum sumringah, mana mungkin mereka melarang. Apalagi mereka telah lama mengenal Bela. Meskipun sedikit bar-bar, tapi Bela gadis yang baik dan cantik. Mereka turut bergembira atas kabar baik ini.


"Masya Allah nak, tentu bapak dan ibu merestui. Ya kan pak," ucap Karlina.


"Iya Bu, bapak juga setuju. Jadi, kapan kita akan ke rumah Bela untuk melamarnya langsung pada orang tuanya?"


"Kalau bisa sesegera mungkin, pak," celetuk Bayu seakan sudah tak sabar lagi ingin menikahi Bela.


"Hah! Kalian mau cepat-cepat bukan karena ... "


"Nggak, Bu. Nggak sama sekali, sumpah. Ya, Bayu pingin cepet-cepet soalnya Bayu juga pingin kayak Nathan ada yang urusin," cicit Bayu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu tergelak kencang. Ternyata diam-diam Bayu merasa iri pada adik iparnya sendiri karena ada yang mengurusi. Terlebih, ia bisa merasakan indahnya berumah tangga dengan perempuan yang sejak lama diam-diam ia sukai.


"Heh, jangan buru-buru dong, aku aja masih berbaring di sini, tega bener kalian. Kan aku juga mau ikutan," seru Bunga sambil bersungut-sungut.


"Iya, iya, calon adik ipar. Tenang aja, kami pasti nunggu kamu pulang kok," pungkas Bela dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2