
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Merasa namanya disebut, Bunga pun lantas menoleh. Namun ia segera memalingkan wajahnya kembali. Wajahnya memerah, bagaimana tidak, ia melihat dada Nathan yang ternyata kini makin bidang dan berotot. Meskipun tidak membentuk roti sobek seperti kata orang-orang, tapi tetap saja, dada dengan kulit putih dan kencang itu mampu membuat wajahnya terasa terbakar. Desir-desir halus menjalar di setiap sendi hingga pembuluh darahnya. Jantungnya pun sudah berdebar tidak karuan.
"A-aku hanya ingin ke dapur mau ... mau ambil minum," jawab Bunga terbata.
"Biar aku saja. Kamu tunggu saja di sini, oke!" ujar Nathan lembut sambil mengusap puncak kepala Bunga membuat Bunga menggigit bibir bawahnya.
Bunga mengangguk dengan wajah tersipu.
"Pipi kamu kenapa merah? Kamu sakit?" tanya Nathan cemas. "Kalau ada yang sakit, bilang aku sayang. Aku nggak mau kamu sakit lagi," ujar Nathan yang kini telah berdiri di hadapan Bunga. Ia meraih wajah Bunga dengan kedua telapak tangannya sehingga kini mata mereka saling bersirobok. Namun, Bunga kembali mengalihkan pandangannya. Nathan belum juga mengenakan bajunya. Atau memang kebiasaan Nathan tidur malam tanpa pakaian? Bunga juga tidak tahu. Sebab selama di rumah sakit, Nathan selalu mengenakan pakaiannya.
"Aku ... nggak papa kok," jawab Bunga sambil meletakkan telapak tangannya di atas tangan kanan Nathan yang menyentuh pipi kirinya.
"Tapi ini ... "
"Makanya kamu pakai baju. Apa kamu nggak malu," ketus Bunga membuat Nathan membulatkan matanya kemudian terkekeh.
"Oh, jadi itu alasannya! Bukankah dulu ... "
"Itu kan dulu. Udah lama banget, Nath," rengek Bunga. Sesuatu yang telah lama tidak ia dengar membuat Nathan merapatkan tubuhnya dan melingkarkan lengannya di pinggang Bunga.
"Nath," desis Bunga merasa grogi.
"Kenapa?"
"K-kau mau apa?"
"Aku ... mau kamu," lirih Nathan yang kemudian mengecup bibir Bunga singkat namun mampu menghantarkan sengatan listrik jutaan volt pada tubuh Bunga. Meskipun ia sudah merasakan kembali nikmatnya bercumbu saat di rumah sakit, tapi tetap saja, ia masih belum terbiasa.
__ADS_1
"Tapi ... tapi aku ... "
Melihat wajah Bunga yang memerah dan cara bicaranya yang gelagapan, sontak saja membuat Nathan terkekeh gemas. Kemudian ia melabuhkan kecupan ke seluruh wajah Bunga membuat wanita itu terkekeh geli karena ulahnya.
"Ya Allah, rasanya aku bersyukur banget bisa dipertemukan sama kamu lagi, sayang. Dan yang lebih membahagiakan lagi, aku akhirnya bisa menjadikan kamu milikku seutuhnya. Jujur, aku sebenarnya pingin banget nyentuh kamu. Tapi ... aku harus sabar. Kondisi tubuh kamu belum benar-benar pulih. Tapi aku boleh kan icip-icip sedikit?" pinta Nathan membuat Bunga mengerjapkan matanya.
"Icip-icip sedikit?" beo Bunga yang tak mengerti.
"Iya, tapi kamu tadi mau ambil minum untuk minum sekarang atau nanti?"
"Untuk nanti sih, memangnya kenapa?"
"Mau icip-icip sedikit lah, mau apa lagi. Mau full servis kan belum bisa, jadi ... "
"Aaakh ... Nathan ... " pekik Bunga saat tubuhnya tiba-tiba melayang karena diangkat Nathan. Kemudian Nathan mendudukkan Bunga di tepi ranjang. Nathan pun ikut menyusul lalu ia meletakkan sebelah tangannya di belakang tengkuk Bunga. Paham akan apa yang ingin dilakukan Nathan, Bunga pun memejamkan matanya kemudian mereka pun mulai menyatukan bibir mereka. Saling menyesap, memagut, dan melu*mat mereka lakukan dengan penuh cinta. Sungguh, sebenarnya mereka selama ini saling memendam rindu. Buncahan itu terasa menyesakkan dada. Namun akhirnya kini mereka berdua dapat bernafas dengan lega sebab mereka dapat kembali bersama dalam ikatan yang jelas, yaitu pernikahan.
Sesuatu yang pernah musnah dari impian seorang Bunga, kini justru jadi kenyataan yang tak terduga. Dan yang lebih istimewa, mereka kini menjadi satu keluarga besar. Kedua keluarga menyambut hangat penyatuan mereka. Sebuah restu yang dalam mimpi saja, Bunga tak berani membayangkan. Namun kini semua sudah dalam genggamannya.
Dan kini, disinilah Bunga berada. Setelah 1 bulan berlalu, kini Bunga kembali lagi ke rumah sakit bukan karena sakit, melainkan bersakit-sakitan ria demi Putri. Setelah melalui prosedur panjang yang dilakukan, hasil pemeriksaan HLA yang cocok merujuk pada dirinya, yaitu Bunga, ibu kandung Putri sendiri. Bukan Nathan ataupun anggota keluarga lainnya. Jadilah Bunga kembali berjuang setelah dulu berjuang di meja operasi untuk melahirkan Putri.
"Sakit?" tanya Nathan sambil mengelus puncak kepala sang istri yang kini tergolek lemah di ranjang dengan keteter yang menancap di leher.
"Bunga menggeleng lemah, "semua ini demi Putri. Jadi ini semua tidak terasa sakit, Nath."
Nathan mengangguk lalu menjatuhkan kecupan mesra yang begitu manis yang membuat orang lain yang ada dalam ruangan itu auto iri melihatnya.
"Kamu wanita paling hebat dan kuat yang pernah aku kenal, sayang."
Wajah mereka begitu dekat, netra mereka saling tatap dengan binar cinta yang terlihat nyata.
__ADS_1
"Kau tahu, siapa yang membuatku bertransformasi menjadi wanita sekuat ini, Nath?"
Bunga tersenyum, wajahnya sedikit pucat, sesekali Bunga mengernyit, tanda bahwa ia merasa kesakitan.
"Siapa dia? Aku hendak berterima kasih padanya, sayang karena telah berhasil mengubah gadis manjaku menjadi sekuat ini," tanya Nathan tersenyum simpul. Nathan meraih tangan Bunga dan meremas tangan itu dengan begitu lembut dan hangat .
"Kamu," jawab Bunga tegas membuat dahi Nathan berkerut. "Bukan bualan apalagi gombal karena nyatanya memang demikian."
Dulu Bunga merupakan gadis manja meskipun sifat itu tidak ia tunjukkan pada semua orang melainkan hanya pada orang tertentu saja. Terkhususnya sang ibu dan Nathan yang kerap melimpahinya dengan sejuta cinta dan perhatian. Namun, setelah ia mengetahui dirinya sedang mengandung buah hatinya dan Nathan, menjadikannya wanita tangguh dan juga mandiri. Segalanya ia lakukan seorang diri atas dasar tanggung jawabnya pada sang buah hati, Putri Buana Wiryatama.
"Menitipkan Putri padaku telah membuatku banyak berubah. Terima kasih, Nath. Aku tak pernah menyesali masa lalu kita sebab bagiku semua itu adalah anugerah. Bukankah takdir setiap manusia telah digariskan Yang Maha Kuasa? Kita manusia hanya bisa melakoni. Sekali lagi, terima kasih, Nathanku."
Mata Nathan kembali berkaca-kaca. Ia kembali memeluk dan melabuhkan banyak kecupan ke kepala hingga seluruh wajah sang istri membuat Kia, Bayu, Lilya, dan Bela yang berada di ruangan yang sama segera beringsut mundur dan melangkah keluar.
"Duh, nggak kuat! Nasib jones gini amat sih!" keluh Bela membuat Lilya dan Kia terkekeh.
"Emang mbak Bela masih jomblo? Ah, kok Kia nggak percaya sih?"
"Kok nggak percaya?" tanya Bela heran.
"Mbak Bela secantik gini, mana Kia mau percaya kalau sedang jomblo."
"Emang salah kalau mbak jomblo? Kalau mbak belum nemu yang cocok jadi gimana?"
"Kalau sama kakak Kia yang ganteng ini, mbak Bela mau nggak?"
"Apa?" seru Bela dan Lilya bersamaan membuat Kia terkekeh, sedangkan Bayu justru melotot ke arah Kia.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...