LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LX Permintaan Putri


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan proses tranplantasi berjalan lancar, namun bukan berarti Putri telah diizinkan pulang. Ia masih harus menjalani beberapa prosedur dan observasi demi memastikan keadaan Putri benar-benar baik untuk diajak pulang ke rumah.


Tampak Bunga sedang menunggui Putri yang baru saja memejamkan matanya, sedangkan Nathan sudah tertidur sejak beberapa waktu yang lalu sebab mereka bergantian menjaga Putri. Demi memastikan Putrinya selalu baik-baik saja, setiap berjaga di malam hari, Nathan sampai tak ingin memejamkan matanya meski sejenak. Sesuai janjinya, ia akan menjaga Bunga dan Putri sebaik mungkin. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diperolehnya untuk menjaga dan menjadi bagian dari hidup Bunga dan Putri. Baginya, Bunga dan Putri adalah hidupnya, sumber kebahagiaannya. Akan ia jaga dua perempuan kesayangannya itu sebaik mungkin.


Saat sedang bermain ponsel, tiba-tiba pintu ruang rawat inap Putri terbuka, kemudian masuklah Bayi disusul Bela di belakangnya membuat dahi Bunga mengernyit.


"Kalian ... kok bisa barengan?" tunjuk Bunga merasa heran dengan kedatangan kedua orang itu yang anehnya bisa berbarengan.


Bayu dan Bela sontak saling menoleh, Bayu menatap datar, sedangkan Bela melengos begitu saja membuat Bunga tersenyum geli.


"Kok pada diem sih? Lagi sariawan?" goda Bunga. Namun Bayu cuek saja. Ia justru berjalan mendekati Bunga kemudian mengecup puncak kepalanya. Suatu kebiasaan yang baru dimulainya belum lama ini.


"Kakak tadi dari rumah terus ibu minta kamu pulang, beristirahat. Ajak juga Nathan, kasihan, semenjak Putri masuk rumah sakit, dia belum ada istirahat yang benar," tukas Bayu sambil mengusap kepala Bunga.


"Tapi Putri kak?"


"Kan ada kakak, sayang. Nanti kalau Putri bangun, kakak kasi dia pengertian. Kamu dan Nathan butuh istirahat di rumah. Kakak nggak mau, karena terlalu fokus dengan Putri, kalian malah jatuh sakit. Tadi kakak juga ketemu papa kalian dan beliau juga menyarankan hal yang sama, nurut omongan kakak ya!" ujar Bayu lagi.


"Iya Bunga, aku juga akan ikut jaga disini. Sebentar lagi Lilya nyusul," timpal Bela membuat Bunga menghela nafasnya.


Dengan terpaksa, Bunga pun mengangguk. Bunga meringis saat akan membangunkan Nathan sebab ia jadi mengingat permintaan Putri sebelum tidur tadi.


"Nath, bangun!"


"Eunghhh ... ada apa, sayang?" lirih Nathan dengan suara serak khas baru bangun tidur. "Eh, kak Bayu, baru datang?" sapa Nathan sambil mengucek matanya kemudian menguap.


"Iya. Kamu bersiap-siap aja, ajak Bunga pulang. Kalian istirahat lah di rumah. Biar kakak yang jaga Putri," ujar Bayu yang kemudian Nathan pun menoleh ke arah Bunga untuk meminta pendapatnya. Kemudian Bunga justru memalingkan wajahnya pura-pura masa bodoh lantas membuat Nathan diam-diam tersenyum menyeringai.


Lalu Nathan turun dari atas sofa panjang di ruangan itu, kemudian mengambil kunci mobilnya yang terkapar di atas meja sambil mengerling nakal pada sang istri. Bunga yang melihatnya lantas mendengus, ia tahu apa yang sedang ada dalam otak suaminya itu apalagi kalau bukan hal-hal yang berbau bermesyum ria.


"Yuk, pulang!" ajak Nathan.


"Nggak ah, kamu balik aja sendiri," tukas Bunga membuat Nathan melongo. Nathan melotot tajam pada Bunga yang bersikap acuh tak acuh. Kemudian menggenggam erat tangannya.


"Eh, apaan sih? Ak --"

__ADS_1


"Ssst ... Jangan berisik kenapa, Nga?" tegur Bayu pada sang adik dengan mata melotot. "Pulang sana daripada bikin ribut di sini," ketus Bayu sambil melotot tajam ke arah adik dan adik iparnya.


Bunga meringis kemudian segera berdiri membuat Nathan tersenyum puas. Setelah berpamitan pada sang kakak ipar, Nathan pun membawa sang istri keluar tanpa melepaskan tangannya.


Setibanya di rumah orang tua Nathan, Nathan langsung membawa istrinya itu ke kamar. Kemudian ia meminta istrinya mandi terlebih dahulu setelah itu baru dirinya.


"Nath." Bunga menelan ludah susah payah saat Nathan telah merangkak naik ke atas tubuhnya. Rupanya Nathan tidak main-main dengan perkataannya di rumah sakit tadi yang ingin mewujudkan permintaan sang putri yang menginginkan seorang adik.


*


*


*


Flashback on


"Papa, Putri sudah berhasil susun puzzle nya, Putri pintar kan?" tukas Putri ceria. Meskipun selang infus masih menancap di punggung tangannya, tapi tak lantas membuat keceriaannya meredup.


"Wah, anak papa memang pintar! Papa bangga sama kamu, sayang," puji Nathan yang kemudian ia mengecupi puncak kepala Putri dengan sayang.


Bunga menoleh ke arah Nathan yang meminta penjelasan, apa yang dimaksud dengan Putri.


Nathan pun hanya tersenyum geli membuat Bunga jengkel.


"Emang Putri minta apa sayang?"


"Tapi mama juga janji ya mau wujudkan?"


"Iya, tapi kamu bilang dulu, Putri emang mau apa?" tuntut Bunga meminta penjelasan.


"Putri minta adik sama papa jadi kata papa kalau Putri pintar, mama sama papa akan kasi Putri adik. Jadi, adik Putri mana ma, pa?" pinta Putri dengan wajah polosnya membuat mata Bunga terbelalak kemudian berganti menjadi pelototan tajam pada Nathan yang hanya ditanggapinya dengan tersenyum menyeringai.


"Putri sabar ya! Adiknya udah om proses kok," jawab Nathan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Bunga membuat Bunga mendelik tajam. "Iya kan, mama?"


Flashback off

__ADS_1


*


*


*


*


Adik?


Bunga meringis sendiri mengingat perjuangannya saat melahirkan dahulu. Terbesit rasa takut di benaknya, takut-takut hal serupa terjadi di kemudian hari.


"Sayang, mikirin apa, hm?" tanya Nathan heran saat melihat sang istri justru melamun di saat ia sudah mulai turn on.


"Aku ... aku teringat saat-saat aku melahirkan dulu. Nath, kau mau kan berjanji kau takkan pernah meninggalkanku lagi? Aku ... aku tak tahu bagaimana bisa bertahan bila kau pergi dan tinggalkan aku lagi," ucap Bunga sendu membuat perasaan bersalah lagi-lagi menghantam dada Nathan.


"Maaf, maafkan aku, sayang. Kau tak perlu takut, aku janji, aku takkan pernah meninggalkanmu dan akan selalu setia mendampingimu. Aku akan menebus segala kesalahanku di masa lalu, aku mohon percayalah padaku," ucap Nathan dengan penuh kesungguhan.


Bunga tersenyum sambil mengangguk, "tapi Nath?"


"Apa? Apa lagi yang ingin kau tanyakan padaku, hm?"


"Nath, kau tahu sendiri kan, penyakit Putri merupakan suatu kelainan genetik yang diturunkan, apakah bila kita punya anak lagi, anak kita itu akan ... "


"Ssst ... jangan terlalu banyak berpikir! Yang harus selalu kau tanamkan dalam hati, apapun yang terjadi, kau tidak sendiri. Ada aku, mama, papa, ibu, bapak, kak Bayu, Kia, dan yang lainnya yang akan selalu ada untukmu, untuk kita. Kini kita dikelilingi orang-orang yang menyayangi kita dan aku yakin begitu pula anak-anak kita kelak. Namun tetap saja, kita harus selalu berdoa, agar anak-anak kita kelak selalu diberikan perlindungan dan kesehatan dari yang maha kuasa. Apapun yang terjadi, yakinlah Allah takkan memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya."


Bunga makin tersenyum lebar, ia tak menyangka setelah 6 tahun berlalu, Nathan-nya kini sudah semakin bijak dan dewasa. Lalu Bunga mengalungkan lengannya pada leher Nathan kemudian ia memberanikan diri mengecup bibir Nathan yang selanjutnya disambut Nathan dengan sebuah pagutan dan luma*tan yang mesra, dalam, dan pastinya HOT.


...***...


R : Ish, othor kentang banget sih! 🙄


O : ðŸĪŠðŸ˜‚😝ðŸĪĢ


Telapak tangan othor radang bestieeee, ngetik ribuan kata perhari. Jadi segitu dulu ya! 😄

__ADS_1


...Happy reading ðŸĨ°ðŸĨ°ðŸĨ°...


__ADS_2