
"Nga, bisa aku nanti ngomong sebentar?" tanya Nathan pada Bunga yang sedang menggendong Putri yang sudah terlelap untuk dibaringkan di kamar mereka. Bunga hanya mengangguk tanpa berucap satu patah katapun.
"Mau bicara apa? Cepatlah! Hari sudah larut, aku nggak enak sama tetangga," tukas Bunga datar membuat Nathan tersenyum maklum.
"Nga, menikahlah denganku! Izinkan aku bertanggung jawab pada kalian berdua. Izinkan aku menebus semua kesalahanku dan waktu kita yang hilang karena kebodohanku di masa lalu, kau mau kan!" tanya Nathan tegas dan penuh kesungguhan.
Mendengar itu, Bunga menyunggingkan senyum sinis. Dulu ... ia memang pernah bermimpi menjadi istri dari seorang Nathan Wiryatama, tapi kini ... impian itu kandas seiring dengan segala derita yang ia hadapi seorang diri.
Bila beberapa tahun yang lalu, ia masih menunggu Nathan datang kembali, mencarinya, menjemputnya, lalu menikahinya, namun kini ... keinginan itu menguap entah kemana. Terlalu banyak yang mesti pikirkan. Jika kemarin saat Edgar menawarinya pernikahan, ia masih memupuk harapan bisa membina keluarga bahagia, tapi kini harapan itu seakan sirna. Apa mungkin orang seperti dirinya bisa diterima? Jangan-jangan yang ia dapatkan lagi-lagi penghinaan. Keluarganya saja tidak mengharapkan dirinya, tidak mempedulikannya, apalagi orang lain. Ia sudah lelah bermimpi. Keinginannya kini hanyalah membesarkan Putri dan melimpahkan kebahagiaan untuk putrinya itu.
"Menikah? Apa kau tak salah bicara?" sinis Bunga sambil menatap lekat Nathan yang masih terus memandanginya.
"Iya, Nga, kenapa? Ada yang salah?"
"Ada karena aku tidak ingin menikah denganmu. Kau pikir semudah itu memperbaiki keadaan setelah apa yang kau lakukan dan aku alami? Kau pikir, dengan kita menikah segala permasalahan akan selesai? Nggak Nath. Nggak akan. Aku ... hatiku terlanjur sakit. Sakit banget, Nath. Aku ... aku hancur," ucap Bunga dengan bercucuran air mata. "Bila 6, 5, bahkan 4 tahun yang lalu aku masih menanti kedatanganmu, namun kini nggak. Hati ini, kepercayaan ini, rasa cinta ini kau hancurkan begitu saja. Kau pergi tanpa kembali dan mencoba mencari keberadaanku. Bahkan saat kau pergi pun kau tidak berusaha untuk menemui ku terlebih dahulu. Di saat kau di sana mengejar cita-cita mu dan bersenang-senang dengan teman-temanmu, lalu di sini aku harus berjuang seorang diri untuk Putri dan ... "
Bunga seketika bungkam. Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Lidahnya seketika kelu. Bibirnya bergetar. Air matanya mengalir makin deras saat teringat tubuh sang putra yang telah membujur kaku dan tak sempat menghirup udara sedikit pun.
Bunga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia meraung saat memori itu kembali lagi membuat rasa bersalah kian merajai hati.
Mendengar kata-kata Bunga yang tiba-tiba terputus kemudian perubahan ekspresi juga raungan Bunga membuat Nathan bingung. Hatinya ikut sakit melihat Bunga seperti itu. Apakah ada sesuatu yang terlewat yang tidak diketahuinya. Tapi apa? Apa itu?
"Putri dan apa Nga? Kamu kenapa? Kamu kenapa makin histeris kayak gini? Nga, aku mohon jangan buat aku bingung!" lirih Nathan seraya memegang pundak Bunga berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Mama ... " Tiba-tiba Putri datang dan memeluk tubuh Bunga sambil menangis. Bunga seketika tersentak mendengar suara Putri. Gegas ia menyeka air matanya secara kasar dengan punggung tangannya.
"Putri kenapa? Kok bangun sambil nangis?" tanya Bunga dengan suara serak disertai isakan.
"Mama, tadi Abang temuin Putri. Kata Abang ... mama nggak boleh sedih lagi. Nggak boleh nangis lagi. Mama harus bahagia, itu kata Abang. Mama kenapa nangis? Putri nakal ya? Maafin Putri ya ma kalau Putri nakal. Mama jangan nangis lagi. Entar Abang nggak mau temuin Putri lagi kalau mama nangis," lirih Putri sambil sesegukan.
Deg ...
Benak Nathan bertanya-tanya, apa yang dimaksud Putri dengan Abang.
"A-abang? Siapa dia?" tanya Nathan dengan wajah penuh tanda-tandanya.
"Abang Putra, abangnya Putri," ucap Putri dengan suara parahnya karena masih mengantuk.
"Abang Putra? Abangnya Putri? Ma-maksudnya siapa? Dan ... dimana dia?" tanya Nathan dengan raut penasaran yang makin menjadi.
"Putra ... dia saudara kembar Putri. Dan dia ... telah pergi sebelum sempat menatap indahnya dunia."
Jeduarrrr ...
Nathan seperti disambar petir saat mendengar serentetan kata itu. Nathan sampai terkulai lemas tak berdaya. Matanya berkaca-kaca. Tanpa sadar, buliran hangat turun dari pelupuk matanya. Putranya ... ia memiliki seorang putra tapi telah tiada. Makin besar pula rasa bersalah dan penyesalan Nathan. Tak terbayang, bagaimana keadaan dan perasaan Bunga saat itu. Berjuang sendiri. Kehilangan sendiri.
Apakah mungkin ia mampu mengobati luka Bunga yang begitu besar dan dalam itu?
__ADS_1
...***...
"Bu," panggil pak Broto pada sang istri yang sedang melamun sambil menatap ke luar jendela kaca kamarnya. Sambil duduk di kursi roda, matanya menerawang ke langit yang tampak begitu kelam karena tak ada satupun bintang yang menghiasinya.
Karlina diam tak bergeming. Tak ia pedulikan suaminya yang kini tengah berdiri di belakangnya.
"Ngelamunin apa sih, Bu? Masih ngelamunin anak tak tahu diri itu?" sinis pak Broto.
Karlina lantas memutar kursi rodanya hingga mereka kini saling berhadapan.
"Anak tak tahu diri katamu? Perlu kau ingat mas, anak yang kau sebut tak tahu diri itu adalah anak kandungmu sendiri. Anak dari saudara kandungku. Anak yang ku besarkan dengan segenap jiwa dan ragaku. Anak dari perempuan yang sangat kau cintai. Anak yang diperjuangkan mbak Lina dengan mengorbankan nyawanya. Bahkan aku rela meninggalkan kekasihku hanya demi bisa merawatnya sepenuh hati. Entah bagaimana perasaan mbak Lina bila tahu begini sikap suaminya pada putri yang dilahirkannya susah payah. Aku yakin, di sana mbak Lina menangis kecewa dengan sikap dan perbuatanmu ini," desis Karlina sinis dengan rasa kecewa yang kian membuncah.
Bunga memang tidak dilahirkan Karlina dari rahimnya seperti Kia. Tapi yakinlah, rasa cintanya pada Bunga sama besarnya dengan anak kandungnya sendiri. Terlebih Bunga merupakan putri dari saudaranya. Hatinya sakit sekaligus hancur melihat putri dari saudara perempuannya diperlakukan secara tidak adil seperti itu.
"Tidak usah menceramahiku, Karlina. Apa yang dia alami itu memang sudah sepantasnya ia rasakan. Gara-gara dia Marlina meninggal, kau jangan lupakan fakta itu," bentak pak Broto tak peduli kalau istrinya sakit menyadari fakta hingga sekarang pun sang suami masih mencintai kakak perempuannya. Ingin marah, tapi apa daya. Tidak mungkin kan ia bilang cemburu. Semua orang pasti akan menertawakannya saat tahu ia cemburu dengan seseorang yang telah tiada.
"Namun kau pun lupa satu fakta mas, hidup mati itu di tangan Allah, bukan manusia. Dan setiap bayi yang lahir itu dalam keadaan suci tanpa noda apalagi dosa. Jadi kau tidak bisa menyalahkan Bunga atas kematian mbak Lina," balas Karlina dengan tangan mengepal. "Kau dan Bayu sama-sama egois, kalian tahu. Semoga kalian tidak menyesalinya di kemudian hari," desis Karlina lagi sambil menyeka air matanya secara kasar dengan punggung tangannya.
Pak Broto bungkam. Bahkan sampai Karlina berlalu pun ia masih bergeming di tempatnya. Tanpa mereka ketahui, seorang pemuda ikut mendengarkan pertengkaran suami istri itu dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Matanya memejam. Ada rasa sesak saat wajah Putri berkelebat di benaknya. Apalagi saat kata-kata Putri kembali terngiang di telinganya.
'Bu, apakah sikap ku selama ini sudah sangat keterlaluan?' lirihnya sambil mencengkram dadanya yang terasa nyeri.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...