
"Pa, Om, kenalin, ini Bunga. Dan yang itu Putri, anak Nathan dan Bunga," ujar Nathan membuat Bunga terbelalak kaget.
"Bunga, kenalin, ini papa aku dan ini Om aku, adik mama. Mereka adalah dokter yang juga bekerja di sini."
Sontak saja, apa yang dikatakan Nathan membuat Bunga panas dingin. Peluh mengalir dari sekujur tubuhnya. Ia takut dan khawatir, bagaimana bila keluarga Nathan menolak dirinya dan anaknya sama seperti keluarga Edgar? Bunga benar-benar takut dan cemas kali ini.
Dengan tangan bergetar, Bunga menyodorkan tangannya dan mencium punggung tangan dokter Alan. Belum sempat Bunga menarik tangannya, Alam justru menarik tubuh mungil Bunga ke dalam pelukannya.
"Maafin papa ya, nak! Papa benar-benar tidak tahu kalau anak papa yang kurang ajar ini telah membuat kamu menderita sendirian. Papa atas nama Nathan dan keluarga besar, memohon maaf sebesar-besarnya pada kamu. Seandainya papa tahu kamu mengandung cucu papa, pasti papa akan menjaga kamu. Nggak akan biarkan kamu terlunta-lunta dan menderita seorang diri," ucap Akan dengan bibir bergetar. Ia terisak, membayangkan wanita rapuh seperti Bunga harus berjuang seorang diri demi anak yang ada di dalam kandungannya. Kemudian melahirkan seorang diri dan berjuang membesarkan seorang diri pula. Sungguh Alan mengagumi Bunga. Bunga adalah definisi wanita tangguh, sama seperti istrinya. Ia masih sangat ingat, bagaimana Stefani berjuang seorang diri melawan penyakitnya. Mereka sama-sama perempuan tangguh dalam versi dan jenis perjuangan yang berbeda.
Bunga bungkam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia terlalu shock saat ini. Reaksi ayah Nathan sungguh di luar dugaannya. Ia pikir, sosok seperti dokter Alan yang bisa Bunga tebak merupakan dokter senior di rumah sakit itu akan menolaknya dengan keras. Menentangnya, tidak mempercayai Putri sebagai cucunya, kalaupun mau menerima, hanya sebatas mengakui setelah terlebih dahulu melakukan test DNA. Kemudian yang paling menakutkan, mereka akan mengambil Putri dari sisinya. Tapi ternyata, ketakutannya itu tidak terjadi. Ayah Nathan justru melontarkan permintaan maaf. Bahkan Bunga dapat merasakan punggung sang dokter bergetar. Bunga juga dapat mendengar isakan lirih dari bibir sang dokter senior.
Mata Bunga tiba-tiba memanas. Bagaimana bisa, sosok ayah dari Nathan justru tidak membencinya. Sangat berbanding terbalik dengan ayah kandungnya sendiri. Bunga tersenyum miris. Matanya berkaca-kaca. Perlahan, bulir hangat itu mengalir dari pelupuk matanya.
"Papa, apa itu opa Putri?" celetuk Putri membuat Alan dan Bunga yang berpelukan lantas melepaskan pelukan mereka. Kini Alan pun beranjak mendekati Putri. Benar kata putranya, tanpa perlu melakukan test DNA pun orang-orang akan langsung menebak kalau Putri memang anak kandung putranya. Cucunya.
"Benar sayang. Ini Opa Putri, papanya papa," ujar Nathan.
__ADS_1
Sontak saja, Alan langsung berhambur memeluk tubuh Putri dengan berhati-hati. Alan tak dapat mengontrol air matanya yang makin mengalir deras. Alan sungguh menyesali, mengapa pertemuan mereka harus dalam keadaan menyakitkan seperti ini.
"Cucu Opa cantik banget sih! Maafin Opa ya, baru datang sekarang," ujar Alan lirih. Air mata seakan berlomba-lomba ingin meringsek keluar dari pelupuk mata Alan. Hatinya begitu pilu melihat sosok sang cucu terbaring lemah seperti ini.
"Asik, Putri punya Opa. Nanti papa sama Opa anterin Putri ke sekolah ya biar temen-temen Putri tahu kalau Putri juga punya papa dan Opa. Jadi mereka nggak ngatain Putri anak haram lagi." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir mungil nan pucat Putri.
Deg ...
Hancur sudah hati semua orang dewasa yang ada di dalam ruangan itu. Hati mereka benar-benar hancur bagai dihujam sembilu hanya karena kata-kata polos penuh harapan dari Putri.
Awalnya Stefani merasa bingung, mengapa tiba-tiba saja suaminya meminta putranya menjemputnya ke rumah sakit.
Setibanya di ruangan Alan, Nathan langsung bersimpuh di hadapan Stefani dan memulai ceritanya. Hatinya begitu hancur saat tahu putra kesayangannya telah menghancurkan masa depan seorang gadis belia yang bahkan saat itu usianya baru menginjak 18 tahun sehingga harus mengalami kepahitan selama 6 tahun ini.
Yang lebih menyakitkan, perempuan itu harus berjuang serba sendiri karena diusir orang tuanya kemudian harus kehilangan salah satu anaknya karena kesehatannya yang buruk dan terjadi pendarahan hebat di saat sedang berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk biaya persalinan.
Dan seolah semesta belum puas mempermainkan kehidupannya, putri kecilnya, sekaligus cucunya harus mengalami sakit yang berbahaya.
__ADS_1
Menurut suaminya, penyakit ini kemungkinan karena faktor kelainan genetik dan karena dirinya merupakan mantan penderita kanker darah, putranya lah yang menjadi carrier atau pembawa penyakit tersebut hingga sampai ke tubuh mungil cucunya. Tapi penyakit tersebut telah bermutasi sehingga untuk mengetahui lebih jelas mengenai penyakit tersebut harus dilakukan uji sampel yang lebih spesifik.
Stefani terus menangis melihat tubuh lemah Putri. Apalagi setibanya di sana, lagi-lagi Putri mengalami mimisan hebat. Hati ibu mana yang tak pilu melihat anaknya terbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit. Setidaknya itulah yang Stefani rasakan untuk Bunga yang saat ini tak henti-hentinya terisak dengan bahu yang naik turun karena kondisi sang Putri yang kian mengkhawatirkan.
Tak tega melihat keadaan Bunga, Nathan pun segera memeluk tubuh Bunga. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu melainkan saat melihat anaknya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja seperti saat ini.
"Nath, aku mohon, tolong Putri! Selamatkan Putri! Aku ... aku nggak sanggup bernafas lagi bila sampai terjadi sesuatu pada Putri. Putri itu hidupku. Putri adalah separuh nafasku..Aku bisa mati bila sampai terjadi sesuatu pada Putri. Aku takut, Nath. Aku ... benar-benar takut," lirih Bunga yang merasa sedang berada di titik terendahnya. Dulu saat ia baru saja diusir, ia pikir itu merupakan titik terendahnya. Namun kini, ia baru sadar, titik terendahnya adalah saat dimana Putri kesayangan sedang terbaring tak berdaya dengan selang-selang kecil menempel di tubuhnya.
...***...
Seharusnya sesuai perkataan dokter, hasil laboratorium akan keluar setelah 2x24 jam. Namun karena setelah melakukan uji sampel, dokter Alan yang menggandeng hematolog senior, yaitu dokter Agus mendapati hal yang tak biasa dari trombosit Putri, yaitu ukuran trombosit Putri besarnya tak biasa dan jumlahnya pun sedikit. Alhasil, untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih spesifik, Alan mengirim sampel darah Putri ke Jerman.
Butuh waktu kurang lebih 1 Minggu untuk mendapatkan hasil terbaik dan kini hasilnya pun keluar. Hasil yang benar-benar tak terduga dan sukses menghancurkan hati Bunga hingga berkeping-keping.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1