
Bunga makin tersenyum lebar, ia tak menyangka setelah 6 tahun berlalu, Nathan-nya kini sudah semakin bijak dan dewasa. Lalu Bunga mengalungkan lengannya pada leher Nathan kemudian ia memberanikan diri mengecup bibir Nathan yang selanjutnya disambut Nathan dengan sebuah pagutan dan luma*tan yang mesra, dalam, dan pastinya hot.
Saat pasokan oksigen makin menipis, Nathan pun melepaskan pagutannya dengan tatapan yang tak putus dari sosok pujaan hati.
"Aku kangen banget sama kamu, sayang," bisik Nathan lirih nan sensual di telinga Bunga membuat Bunga seketika meremang, hembusan nafas Nathan menyusuri leher dan tengkuk Bunga menghantarkan desir-desir halus yang sontak saja membuat Bunga memejamkan matanya.
Jemari itu mulai menyusup ke tempat favorit Nathan yang baru kembali terjamah setelah terakhir saat icip-icip beberapa waktu lalu. Nathan memainkan sesuatu yang ada di dalam sana dengan jemarinya membuat Bunga tak kuasa menolak. Bukan hanya Nathan yang rindu, tapi Bunga juga. Bila beberapa waktu lalu mereka dengan sekuat tenaga meredam hasrat yang membara dalam diri mereka karena gejolak gairah yang tersulut dari aktivitas icip-icip, maka kali ini mereka membiarkan gelora itu membakar diri mereka hingga ruangan ber'AC itu jadi terasa panas membara.
Jemari itu terus bermain pun bibir itu terus bergerak menyusuri inci demi inci kulit indah Bunga yang kini mulai terbuka karena bathrobe yang Bunga kenakan telah tersingkap. Mata Nathan sampai terperangah memandangi keindahan yang begitu ia kagumi itu. Nathan akui dia memang laki-laki brengsekkk, tapi sebrengsek-brengseknya dia, hanya tubuh Bunga yang pernah ia lihat secara langsung dan nikmati serta rasakan. Hanya Bunga, tak ada dan tak pernah ada yang lain. Secantik dan seseksi apapun perempuan di luar sana, jiwa dan raganya hanya terpaku pada satu perempuan saja, yaitu Bunganya.
Bunga melenguh panjang saat Nathan mulai menyerangnya dengan makin bersemangat. Matanya terpejam, pasrah atas apa yang akan dilakukan sang suami. Membiarkannya melakukan dan mengambil apa saja yang ia inginkan dari dirinya karena itu memang sudah menjadi haknya.
Tidak ada lagi kata atau kalimat yang keluar dari bibir keduanya. Mereka telah larut dalam gelora asmara yang kian membuncah. Saling mendaki satu sama lain mencapai puncak yang sudah sungguh sangat lama tidak mereka rasakan.
Hanya suara ******* tertahan dan bunyi penyatuan keduanya yang terdengar. Desah yang terkadang bercampur dengan erangan dan pekikkan kecil dari Bunga yang dibuat Nathan tak berdaya. Hingga akhirnya suara lirih dan sensual diantara nafas yang memburu itu terdengar kembali, sebuah ungkapan penuh pengharapan dari Nathan pada Bunga.
"Bunga, aku ingin kau hamil anakku lagi. Aku mencintaimu, sayang. Sangat." Setelah mengucapkan kalimat itu, Nathan kembali melabuhkan kecupan demi kecupan ke seluruh wajah Bunga yang disambut Bunga dengan sebuah kecupan dalam dan panjang hingga kegiatan penyatuan pun terulang kembali entah untuk yang keberapa kalinya di siang menjelang sore itu.
*
*
*
Bunga mengerjapkan matanya, netranya tampak memfokuskan pandangannya, mencoba mencerna, dimanakah ia berada. Hingga terdengar suara lenguhan dari sampingnya disertai sebuah pelukan hangat yang kian mengerat membuat Bunga lantas menoleh. Ia tersenyum malu hingga semburat merah terbit di pipinya saat adegan demi adegan percintaannya dengan Nathan melintas di benaknya.
Dipandanginya wajah tampan suaminya dengan seksama. Dalam hati, terkadang ada rasa tak percaya akhirnya ia dipertemukan kembali D
__ADS_1
dengan mantan kekasihnya, cinta pertamanya. Bahkan kini mereka telah dipersatukan kembali dalam ikatan yang lebih sakral, yaitu tali pernikahan. Ada rasa bahagia yang membuncah di relung sanubarinya. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan ini.
Ada rasa syukur yang tak terkira dalam hatinya. Ia sangat-sangat bersyukur masih dicintai oleh pria di hadapannya itu. Padahal bila mau, Nathan bisa mendapatkan wanita manapun yang pastinya lebih sempurna dari dirinya, lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih segalanya dari dirinya. Apalagi Nathan lulusan luar negeri, ia yakin di luar sana banyak gadis yang menyukainya. Tidak sulit untuk menyukai laki-laki seperti Nathan. Tapi Nathan justru tetap memilih dirinya, bahkan tak pernah tergantikan sama seperti dirinya yang tak mampu membuka hatinya untuk orang lain. Hati mereka seolah terkunci satu sama lain sehingga tak ada celah sama sekali untuk orang lain menyusup ke dalam hati mereka.
"Kenapa senyum-senyum liatin aku, hm? Aku tahu aku memang tampan," seloroh Nathan dengan mata terpejam membuat Bunga mendelikan matanya.
"Ck ... narsis," cibir Bunga membuat Nathan lantas membuka matanya sambil terkekeh. Kemudian Nathan mengeratkan pelukannya. Kulit mereka yang saling bersentuhan tanpa penghalang, lagi-lagi membuat sesuatu dalam diri keduanya bangkit kembali. Bahkan Bunga dapat merasakan sesuatu di bawah sana telah kembali mengeras hanya karena kulit mereka yang saling menempel tanpa cela. Tapi sebisa mungkin mereka menahan gejolak itu. Hari sudah cukup sore, mereka sadar, mereka tidak bisa kembali melakukannya. Waktu mereka masih panjang. Perlahan saja, tak perlu tergesa. Nikmati saja setiap sensasinya, maka semua akan terasa lebih indah.
"Tapi memang kenyataannya begitu kan!" Bolehkan Nathan sedikit narsis karena memang begitulah faktanya.
"Iya, iya, kamu memang tampan, tampan banget malah. Aku sampai-sampai mikir, kok bisa sih laki-laki setampan, sepintar, sesukses, bahkan nyaris sempurna seperti kamu, yang padahal bisa saja mendapatkan perempuan lain yang juga lebih segalanya dari aku, justru memilih aku menjadi pendampingmu," tukas Bunga mengeluarkan segala kecamuk di benaknya.
Nathan lantas memiringkan tubuhnya sambil menumpu kepalanya dengan satu lengannya. Dipandanginya wajah cantik wanita yang masih ia cintai itu dengan begitu lekat. Tangan sebelahnya bergerak mengusap pipi Bunga yang sudah sedikit berisi, tidak seperti beberapa bulan lalu, khususnya saat mereka baru bertemu kembali, sangat tirus hingga membuat Nathan begitu sedih dan merasa bersalah karenanya.
"Karena itu kamu. Kalau hatiku telah memilihmu menjadi pemilik hatiku, aku bisa apa? Aku sudah cerita kan, aku sudah pernah mencoba mendekati perempuan lain, tapi aku nggak bisa. Yang ada di hati dan pikiranku hanya kamu. Hati dan pikiranku seolah hanya terkunci padamu. Nggak bisa yang lain," lirih Nathan sambil menyusuri bibir Bunga dengan ibu jarinya. "Bukankah kau pun sama sepertiku, sayang?" tanya Nathan membuat Bunga mengangguk sumringah.
Setelah beberapa Minggu menikah, baru kali ini mereka saling menumpahkan isi hati mereka. Mengungkapkan rasa, menuangkan segala ganjalan yang ada.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih karena telah menjaga dan mempertahankan Putri. Bahkan kau merelakan masa depan dan impianmu demi buah cinta kita. Terima kasih juga karena telah bersedia menerimaku, memberikanku kesempatan menjadi pendamping hidupmu."
"Ck ... emang ada pilihan lain. Toh bangun-bangun tahunya aku udah jadi istri kamu, gimana mau nolak lagi coba?" cibir Bunga membuat Nathan menyeringai lebar.
"Tapi kamu ikhlas kan nerima aku?"
"Kalau aku nggak terima, mana mungkin kita satu ranjang tanpa sehelai benang pun saat ini, benarkan?"
Seringai Nathan kian lebar setelah mendengar itu. Memang benar, bukan? Kalau Bunga tidak menerimanya, mana mungkin mereka bisa bercinta begitu hebat seperti tadi, bukan?
__ADS_1
"Kau benar, sayang. Bagaimana kalau kita mandi sambil melanjutkan yang tadi?" seringai Nathan sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat Bunga membulatkan matanya.
"No, ini udah terlalu sore, Nath. Kayak nggak ada waktu lain aja, apa kata mama kamu kalo udah sesore ini kita nggak keluar kamar juga. Mana udah menjelang Maghrib. Udah, buruan mandi aja sana!" titah Bunga sambil bersungut-sungut.
Nathan terkekeh, kemudian ia turun dari ranjang tanpa menutupi bagian tubuhnya yang tak tertutup sehelai benangpun dengan santainya. Bunga reflek menutup matanya. Tapi dengan isengnya Nathan justru mengangkat tubuh Bunga yang juga polos hingga ia memekik terkejut.
"Nath," pekik Bunga.
"Apa sayang?"
"Turunin!"
"Kenapa? Bukankah mandi bersama itu lebih menyenangkan dan hemat waktu."
"Tapi aku nggak mau ... "
"Iya, iya, tenang aja. Aku nggak bakal nerkam kamu kok. Kan malam nanti masih bisa, jadi sekarang kita mandi dulu aja terus video call sama Putri., bagaimana?"
Bunga tampak berpikir, kemudian menyerah dengan pasrah.
"Ya udah. Tapi awas ya macam-macam!" ancam Bunga membuat Nathan terkekeh.
"Iya, iya, sayang. Takut bener, kayak anak perawan aja yang baru mau malam pertama," jawab Nathan santai membuat Bunga mendengkus mendengarnya. Kemudian mereka pun masuk ke dalam kamar mandi. Mereka memang benar-benar hanya mandi, tanpa melakukan yang asik-asik lagi.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1