
Hari sudah cukup larut, tapi Bunga tak kunjung bisa memejamkan matanya. Pikirannya berkecamuk. Bunga merasa lelah jiwa dan raganya. Terlalu banyak masalah yang mengganggu pikirannya. Bunga sampai berpikir, kapankah ia bisa bahagia? Adakah kebahagiaan untuk dirinya?
Dipandanginya wajah Putri yang sangat mirip dengan wajah Nathan. Ia begitu lelap dalam tidurnya. Teringat kata-kata Putri saat ia sedang berbicara dengan Niko tadi, Putri menginginkan papa tapi hanya Nathan, papa Nathan katanya. Ia tak ingin laki-laki lain menjadi papanya.
Hati Bunga berdenyut nyeri mendengar hal itu. Ingin Bunga mempersembahkan kebahagiaan seperti keinginan buah hati tercintanya, tapi bisakah dirinya?
Jujur saja, jantungnya masih berdebar kencang setiap ia melihat Nathan. Ia akui, dalam rasa benci, rasa cinta itu ternyata masih utuh adanya. Setiap debarannya masih mengukirkan nama Nathan. Setelah apa yang ia buat, nyatanya nama laki-laki itu masih utuh bertahta dalam relung sanubarinya. Bodoh memamg. Bunga mengakui dirinya memang sangatlah bodoh. Tapi mau bagaimana lagi, perasaan ini, bukan di bawah kendalinya. Ia tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
Tapi, mungkinkah ia melabuhkan lagi hatinya pada sosok laki-laki yang telah menggoreskan luka sedemikian rupa yang bahkan hingga sekarang masih menganga lebar?
Hatinya nyeri bila mengingat perjuangannya selama ini. Sendirian. Kesepian. Tiada seorang pun yang bisa ia jadikan sandaran. Hanyalah sang pemilik kehidupan tempatnya melabuhkan harapan.
...***...
"Mbak ... " panggil Niko lirih.
"Hmmm ... " gumam Bunga sambil menatap Niko yang tampak salah tingkah. "Kenapa kamu, Ko?" tanya Bunga merasa heran. Tidak biasanya Niko tampak seperti sedang kebingungan.
"Emmm ... itu ... anu, aku ... aku ... "
"Aku apa sih, Ko? Kok jadi tiba-tiba gagu gitu sih!" potong Bunga mengerutkan keningnya.
Niko menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Kemudian tangannya merogoh isi tas yang kerap ia cangklong kemana-mana dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Apa ini?" tanya Bunga heran saat melihat sebuah kertas tebal berukiran indah.
"Itu ... ah ... mbak buka aja sendiri deh! Itu ... itu titipan mama. Aku sebenarnya nggak mau kasiin, tapi entar aku kualat dikasi amanah sama mama malah nggak disampein. Aku ... benar-benar mohon maaf ya, mbak," ucap Niko sambil mengusap rambutnya kasar.
Bunga lantas membuka simpul pita yang ada di depannya. Bunga tahu benda apa itu, tapi yang Bunga tak tahu, apa isi, maksud, dan tujuannya.
"Ini ... "
Niko menghela nafas berat, "mama maksa jodohin kak Edgar sama Rinda, anaknya temen mama. Kak Edgar udah nolak sih, tapi ... mama mogok makan sampai masuk rumah sakit. Terpaksa kak Edgar nurut dan itu undangan pernikahan mereka. Terserah sih mbak mau datang atau nggak. Niko cuma mau nyampein amanah aja. Sekali lagi, maafin mama sama kak Edgar ya mbak," tutur Niko tak enak hati. Bunga mengulas senyum, sungguh, ia tidak merasakan apa-apa. Marah tidak, apalagi sedih.
__ADS_1
"Nggak papa kok, Ko. Semoga aja, pernikahan kakak kamu langgeng dan bahagia ya," ujar Bunga dengan senyum merekah. Niko sampai tertegun melihatnya.
'Benar-benar cantik,' puji Niko dalam hati.
...***...
"Assalamu'alaikum," ucap Nathan sambil mengetuk pintu rumah kontrakan Bunga.
Sadar kalau suara itu merupakan suara sang ayah, Putri pun gegas berlari dan berusaha membukakan pintu.
"Mama, buka kuncinya, Ma. Papa datang, Ma," teriak Putri. Bunga yang sedang mencuci pakaian pun segera membilas tangannya dan mengelapnya dengan serbet yang ia gantung di dapur. Setelah kering, ia pun bergegas membantu Putri membukakan pintu.
"Wa'alaikum salam, Papa," sahut Putri sambil berseru girang. Ia bahkan langsung berhambur ke pelukan Nathan. Nathan yang tak siap sampai reflek mundur ke belakang. Untung saja ia bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya, kalau tidak ia sudah terjungkal ke belakang.
"Putri, hati-hati, nak!" hardik Bunga terkejut melihat tingkah putrinya yang terlalu antusias.
"Nggak apa, kok, Nga," ucap Nathan mencoba menenangkan. "Oh ya, Princess nya papa, papa bawa apa ayo tebak?" ujar Nathan yang sudah berjongkok di depan pintu. Ia tidak berani masuk sebelum dipersilahkan. Apalagi hari sudah cukup larut walaupun masih jam setengah 8 malam.
"Tebak dong!" ujar Nathan sambil mengulum senyum.
"Emmm ... donat?" terkanya.
Nathan menggeleng, "bukan."
"Ayam goreng kriuk-kriuk?" terka Putri lagi tapi lagi-lagi Nathan menggeleng dengan senyum merekah.
"Yah papa, apa sih? Putri nggak tahu. Ayolah pa, jangan tebak-tebakan lagi," rajuk Putri sambil mencebikkan bibirnya.
"Ya udah, kalau gitu cium pipi papa dulu baru papa kasih tau," ujarnya sambil menyodorkan pipi. Tanpa banyak bicara, Putri pun mengecup pipi kanan, kiri, dan dahi Nathan dengan riang.
Setelah itu, Nathan pun segera memberikan paper bag yang ternyata isinya adalah pizza dan burger. Juga ada sebuah kantong lagi yang ternyata berisi es krim berukuran besar membuat Putri memekik girang.
"Yeay, makasih papa," serunya girang. "Mama ... mama ... papa beliin Putri pizza sama krabby patty nya Spongebob, ma. Yeay, akhirnya Putri bisa makan krabby patty. Ada es krim juga ma, gede banget," serunya lagi benar-benar bahagia.
__ADS_1
Bunga tersenyum tipis sambil menatap nanar sang putri. Ia sedih sebab selama ini belum bisa membahagiakan putri semata wayangnya itu.
"Jangan lompat-lompat terus, Put! Nanti jatuh terus biru-biru lagi," sergah Bunga saat melihat putrinya sibuk berlompat-lompatan.
"Jadi biru-biru di paha Putri itu karena jatuh, Nga?" tanya Nathan yang arah pandangannya telah beralih ke Bunga.
"Aku juga nggak ngerti, Nath. Tapi kata Putri kalau aku tanyain ya gitu, kadang karena jatuh, kadang dia bilang nabrak sesuatu."
"Emangnya sering kayak gitu?"
"Lumayan sih," jawab Bunga singkat. Ia masih belum bersedia banyak bicara dengan Nathan.
"Nak, udah ya! Sini papa bantu bukain, kita makan sama-sama yuk!" ajak Nathan agar Putri bisa lebih tenang dan tidak melompat-lompat lagi.
Putri pun menurut dan langsung duduk di karpet ruang tamu kontrakan itu yang justru membuat Nathan bingung, bagaimana cara ia membuka makanan-makanan itu bila ia saja masih berjongkok di luar pintu.
"Papa kok di sana aja? Ayo sini pa, kita makan sama-sama!" seru Putri membuat Nathan mendongak menatap Bunga.
Bunga menghela nafasnya, kemudian mempersilahkan Nathan untuk masuk. Nathan tersenyum lebar saat diizinkan untuk masuk. Kemudian ia pun segera membuka satu persatu makanan itu. Putri melahapnya dengan mata berbinar.
"Papa, papa beli krabby patty ini di krusty krabb ya? Berarti papa ketemu sama Spongebob dong ya pa?" tanya Putri polos membuat Nathan dan Bunga tak dapat menahan tawa mereka.
...***...
"Nga, bisa aku nanti ngomong sebentar?" tanya Nathan pada Bunga yang sedang menggendong Putri yang sudah terlelap untuk dibaringkan di kamar mereka. Bunga hanya mengangguk tanpa berucap satu patah katapun.
"Mau bicara apa? Cepatlah! Hari sudah larut, aku nggak enak sama tetangga," tukas Bunga datar membuat Nathan tersenyum maklum.
"Nga, menikahlah denganku! Izinkan aku bertanggung jawab pada kalian berdua. Izinkan aku menebus semua kesalahanku dan waktu kita yang hilang karena kebodohanku di masa lalu, kau mau kan!" tanya Nathan tegas dan penuh kesungguhan.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1