LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LVI Kiss


__ADS_3

Suasana haru memenuhi ruangan tempat Bunga dirawat. Semua orang menangis. Semua orang saling menumpahkan segala kesedihan, kerinduan, dan juga penyesalan.


Pak Broto bahkan tak henti-hentinya memeluk dan menciumi wajah putrinya yang selama bertahun-tahun ini tak pernah mencicipi bahagianya diperhatikan dan dilimpahi kasih sayang darinya. Pak Broto begitu menyesali perbuatan bodohnya selama ini. Dalam tangisnya, tak henti-hentinya Pak Broto melantunkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan oleh sang Pencipta sehingga ia memiliki waktu untuk menebus segala kesalahannya selama ini.


"Maafkan bapak, nak. Maafkan sikap bapak selama ini. Bapak sungguh menyesali perbuatan bodoh bapak selama ini. Bapak benar-benar minta maaf nak karena sudah menyia-nyiakan dirimu selama ini. Mengabaikan mu dan menganggapmu penyebab kematian ibumu. Padahal bapak tahu, jodoh, rejeki, maut itu di tangan Allah, tapi bapak justru dengan egoisnya menyalahkan dirimu, bapak benar-benar minta maaf, nak. Bapak menyesal," tutur pak Broto yang terus terisak penuh penyesalan.


"Kakak juga minta maaf, dek. Kakak benar-benar minta maaf, kakak menyesal. Kakak sudah mengingkari janji kakak sama ibu. Seharusnya kakak menjaga, melindungi, dan menyayangi kamu, tapi kakak justru ... kakak justru mengabaikan kamu. Kakak justru kerap menyalahkanmu atas kepergian ibu. Maafkan kakak dek, kakak menyesal," tukas Bayu yang kini duduk di sebelah kanan Bunga. Ia tak henti-hentinya menyeka air matanya karena bah asin yang terus berlomba-lomba keluar dari pelupuk matanya.


Bunga tak dapat menahan kesedihannya. Ia pun menangis hingga sesegukan. Ia tak menyangka, akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana ia bisa merasakan kasih sayang dari dua orang yang sering dirindu dalam setiap doanya.


"Ba-bapak, ka-kak Bayu ... hiks ... hiks ... u-dah ... ja-jangan me-nangis la-gi. Bu-nga ng-nggak marah kok sama ba-pak sama ka-kak. Bunga ... Bunga sayang sama bapak dan kakak. Ja-jangan benci Bunga lagi," ucap Bunga parau dengan suara terputus-putus karena tangisnya yang sulit dikendalikan.


Nathan terdiam sembari terisak melihat bagaimana Bunga akhirnya bisa melepas kerinduan kepada orang-orang yang dicintainya. Ia benar-benar terharu, akhirnya ia bisa menyatukan kembali wanita yang dicintainya dengan keluarga yang sempat mengusirnya. Tak ada yang lebih membahagiakannya saat ini selain memberikan kebahagiaan pada orang-orangnya yang tercinta.


...***...


Karena hari telah cukup larut, keluarga Bunga pun pamit pulang ke rumah mereka. Mereka pun sangat berharap bila sudah sembuh nanti, Bunga mau menginap di rumah mereka. Setelah keadaan telah kembali sepi, Nathan lantas hendak kembali membantu Bunga membersihkan diri sebelum membantu memberikannya makan.


"Ka-kau mau apa?" tanya Bunga bingung saat melihat Nathan meletakkan baskom berisi air hangat di samping tempat tidur beserta waslap dan handuk.


Nathan mengerjapkan matanya jenaka sembari tersenyum konyol, "membersihkan tubuhmu, apalagi?"

__ADS_1


"Membersihkan tubuhku? Maksudnya?" tanya Bunga bingung membuat Nathan menyeringai.


"Yaaaa ... membersihkan tubuhmu, mulai dari tangan, leher, perut, da-da, ketiak, kaki, bahkan ... itu tu ... Memangnya kau pikir selama 1 bulan ini tubuhmu dibiarkan begitu saja, tidak dibersihkan, hm?"


Sontak saja apa yang baru saja disampaikan Nathan barusan membuat Bunga membelalakkan matanya.


"Heheheh ... kau ... pasti hanya bercanda kan, Nath?" ujar Bunga seraya terkekeh bodoh.


"Aku sungguh-sungguh, sayang. Bukankah aku adalah suamimu, tentu sudah jadi kewajibanku merawatmu terutama saat sedang sakit seperti ini," pungkas Nathan yang sudah menegang waslap basah dan dengan perlahan meraih tangan Bunga dan mengelapnya. Bunya tersentak saat jemari Nathan menyentuh kulitnya. Sontak saja Bunga reflek menarik lengannya, tapi tangan Nathan lebih dahulu mencegahnya.


"Nath ... " Bunga terkesiap saat tangan Nathan mengusap lengan Bunga hingga ke bagian atas.


"Kenapa?" tanya Nathan tanpa menghentikan kegiatannya.


"Nga," sergah Nathan dengan mata mendelik. "Sejak aku mengucap ijab kabul di depan ayahmu sejak saat itu juga kau sudah menjadi tanggung jawabku. Dan saat ini kondisimu belum benar-benar baik-baik saja jadi aku akan tetap membantumu membersihkan tubuhmu. Kau tak perlu malu karena bukan hanya kali ini saja aku melakukannya tapi sejak lebih dari 2 Minggu yang lalu akulah yang selalu membersihkan setiap inci tubuhmu jadi kau diam saja. Bukankah dulu aku juga sudah melihat seluruh tubuhmu tanpa sehelai benang pun? Jadi niat apa malu?"


"Nath," potong Bunga dengan mata melotot yang justru membuat Nathan terkekeh.


'Udah sayang, kalau memang kau malu, tutup saja matamu! Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Setidaknya untuk saat ini," tukasnya dengan senyum jahilnya.


"Ma-maksdumu?"

__ADS_1


"Udah, berhenti bicara. Kapan selesainya kalau kau terus bicara. Padahal kau baru saja sadarkan diri, tapi tenagamu sepertinya telah pulih 100%. Atau ... kau mau kita melakukan malam pertama kita yang tertunda?"


"Nathan Wiryatama!" pekik Bunga dengan mata melotot tajam dan wajah memerah membuat Nathan tergelak kencang.


Kemudian Bunga reflek menutup matanya saat Nathan mulai membuka kancing baju Bunga satu persatu dengan acuh tak acuh.


Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, darahnya berdesir, sudah sekian lama ia tak merasakan perasaan aneh seperti ini. Pikirannya meremang saat jemari Nathan tanpa sengaja menyentuh permukaan kulitnya.


Bunga bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri karena desiran hangat yang seolah mengalir di setiap aliran darahnya.


"Kau kenapa, sayang?" bisik Nathan saat ia menyadari Bunga yang bukan hanya salah tingkah tapi juga merasa begitu gugup karena tindakannya.


Tiba-tiba saja Bunga membuka matanya. Mata mereka berdua bersirobok. Binar cinta dapat Bunga tangkap dari netra pria di hadapannya itu. Pun Nathan masih bisa merasakan kalau di hati wanitanya ini masih ada dirinya yang bertahta, tak pernah tergantikan.


"Bunga ... " lirih Nathan tepat di depan wajah Bunga. Bunga bergeming. Ia seakan terhipnotis dengan tatapan mata Nathan yang dalam dan hangat. Hangat nafasnya dapat Bunga rasakan menerpa wajahnya membuat Bunga menelan ludahnya sendiri. "Bunga ... aku sungguh merindukanmu," bisiknya lagi kemudian dengan perlahan Nathan menyatukan bibir mereka dan menyecap bibir Bunga dengan begitu lembut dan penuh perasaan. Pagutan itu benar-benar lembut menyiratkan kerinduan yang begitu besar pada kekasih hati yang telah lama terpisah. Nathan mengecup bibir atas dan bawah Bunga bergantian. Ia menyesapnya dengan lembut seakan takut menyakiti apalagi ini merupakan ciuman mereka untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya mereka tidak saling merasakan bibir masing-masing.


Bunga awalnya mematung dan menegang kaku. Namun, karena Nathan memperlakukannya dengan begitu lembut, perlahan Bunga pun menyambut pagutan itu dengan penuh perasaan. Jujur, ia pun merindukan saat-saat seperti ini.


"Aku mencintaimu, Bunga. Sangat mencintaimu," ucap Nathan tepat di depan wajah Bunga setelah Nathan melepaskan pagutan mereka dengan nafas terengah.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2