
"Apa ? Bunga hamil? Apa benar apa yang barusan Nathan katakan, nak?" seru Stefani dengan bola mata berbinar cerah. Hatinya sungguh bahagia mendapatkan kabar gembira ini. Mereka memang telah memiliki cucu yaitu Putri, Stefani ingin sekali kembali merasakan bahagianya menggendong seorang bayi. Terlebih itu cucunya sendiri, anak dari Putra semata wayangnya.
"Benar, ma. Bunga hamil dan usianya udah 5 Minggu," jawab Bunga sambil tersenyum lebar.
"Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah, selamat ya, sayang. Mama bahagia banget. Mama yakin Papa, ibu, bapak, sama kakak dan adik kamu pasti juga sangat bahagia mendengar kabar gembira ini."
Tak sabar mengabarkan kabar bahagia ini, Stefani pun segera mengambil handphonenya kemudian menghubungi Alan, setelah selesai, ia menghubungi Karlina. Sebagai besan, mereka cukup dekat. Mereka selalu menyempatkan diri saling menghubungi ataupun mampir ke rumah masing-masing.
Tentu saja kabar bahagia itu disambut dengan penuh suka cita oleh kedua keluarga besar itu termasuk Putri.
"Jadi di perut mama ada adek Putri, ma?" tanya Putri dengan binar antusias di netranya.
"Iya, sayang. Putri senang?"
"Senang, ma. Putri senang banget. Adek Putri cowok apa cewek, ma? Terus kapan keluarnya? Tapi kok perutnya nggak gendut? Kalau dedek bayinya ada dalam perut mama, gimana cara makannnya, ma? Kalau adeknya nangis, gimana ma? Terus kalau adeknya mau keluar, lewat mana ma kan perut mama nggak ada pintunya?" cecar Putri dengan berbagai pertanyaan yang membuat Bunga menggaruk-garuk pelipisnya.
Putrinya sangat pintar sampai sekali bertanya bisa menciptakan banyak pertanyaan seperti itu, tapi yang jadi masalah, bagaimana menjabarkannya satu persatu? Bunga jadi bingung sekaligus pusing sendiri karena ulah putri sulungnya ini.
"Putri itu mau nanya apa buat mama pusing, sayang? Nggak liat, mama sampai garuk-garuk gitu," seloroh Bayu sambil terkekeh geli karena pertanyaan sang keponakan. Yang lainnya pun ikut tergelak karena tingkah menggemaskan Putri.
Setelah mengetahui kabar bahagia kehamilan Bunga, dua keluarga besar Alan dan Pak Broto pun sepakat untuk merayakannya dengan makan malam bersama.
Putri pun mengerucutkan bibirnya, "Putri kan cuma nanya Om. Emang Putri buat mama pusing ya, ma? Mau Putri pijit kepalanya?" tawar Putri.
"Enggak usah, sayang. Mama nggak papa kok. Mengenai pertanyaan Putri tadi, bisa mama jawab tapi sedikit, nggak papa ya!" ucap Bunga lembut. Ia paham, Putri sedang dalam fase memiliki keingintahuan yang tinggi jadi sebagai seorang ibu, baiknya ia menjelaskan sedikit dengan bahasa yang mudah dipahami tentunya. "Putri tadi nanya, adiknya cowok apa cewek, mama belum tahu, sayang. Tapi Putri harus ingat, mau adik Putri cewek ataupun cowok Putri harus sa---- "
"yang," lanjut Putri .
__ADS_1
"Bagus. Pintar anak mama."
"Anak papa juga dong," imbuh Nathan yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa segelas susu khusus ibu hamil.
"Iya, anak mama dan papa," jelas Bunga sambil terkekeh. "Makasih, papa," ucap Bunga dengan senyum lebarnya sambil menerima segelas susu coklat hangat dari tangan Nathan.
Semua anggota keluarga yang berkumpul tersenyum bahagia melihat pasangan yang tampak begitu bahagia itu. Binar cinta merekah indah di wajah mereka berdua. Setelah segala ujian dan cobaan, akhirnya masa bahagia untuk pasangan itu datang juga. Walaupun tak ada jaminan selamanya hanya ada bahagia sebab namanya hidup adakalanya kita harus merasakan kepahitan, kesedihan. Namanya juga hidup, cobaan itu bisa datang kapan saja dan dalam bentuk apa saja. Namun keduanya meyakinkan, seberat apapun cobaan yang datang menghadang, mereka akan berupaya menghadapinya bersama dengan tangan saling menggenggam dan takkan pernah terlepaskan.
"Kok cuma mama yang papa buatin, Putri kan juga mau pa," rajuk Putri dengan bibir mencebik.
"Oh, Putri mau juga? Let's go, kita buat bersama!" seru Nathan sambil meraih tubuh mungil Putri ke dalam gendongannya.
"Let's go papa," seru Putri bahagia.
...***...
"Sayang, kamu pingin sesuatu nggak?" tanya Nathan sambil menghempaskan bokongnya di sebelah Bunga yang sedang menonton televisi.
"Masa' sih nggak ada. Kamu kan lagi hamil, emangnya kamu nggak pingin sesuatu apa gitu? Biasa kan wanita hamil itu suka ngidam mau apa gitu," cecar Nathan penasaran. Selama ini yang menjadi salah satu penyesalannya adalah tidak menemani masa-masa kehamilan Bunga saat hamil Putra dan Putri. Ia yakin, karena saat itu Bunga hidup dalam serba kekurangan, pasti saat mengidam ia banyak melewatkan keinginannya. Untuk itulah ia sering bertanya pada Bunga kalau-kalau Bunga mengidam sesuatu. Ia ingin menebus segala kesalahannya di masa lalu dengan melakukan yang terbaik saat istrinya hamil seperti saat ini.
"Tapi emang nggak ada, sayang. Kamu aneh deh, kalau suami-suami lain mungkin banyak yang bersorak hore istrinya nggak ngerepotin dengan mengidam yang aneh-aneh, tapi kamu sebaliknya. Kamu malah pingin banget aku ngidam sesuatu." Bunga mengerutkan keningnya heran dengan sikap sang suami.
"Ya aku kan pingin nunjukin perhatian aku ke kamu, Yang. Ngomong-ngomong, waktu hamil Putra dan Putri kamu ada ngidam sesuatu nggak?" tanya Nathan penasaran.
"Ada."
"Terus kewujudan nggak?"
__ADS_1
Bunga menggeleng membuat dada Nathan tiba-tiba merasa ngilu.
"E-emang kamu mau apa?" tanya Nathan hati-hati. Bila perlu, ia akan menggantinya sekarang dengan membelikan apa saja yang pernah Bunga inginkan namun tidak bisa ia wujudkan di masa lalu.
"Ketemu sama kamu, dipeluk kamu, dicium kamu, melihat senyum kamu, disuapin kamu, makan bareng kamu ... Yang paling aku inginkan adalah KAMU."
Bunga mengatakan yang sesungguhnya. Di tengah rasa kecewa dirinya, namun setiap saat setiap waktu, ia justru selalu merindukan Nathan dan berharap bertemu dengannya.
Namun sayang, keinginannya hanya bisa ia pendam dalam hati. Keinginannya tidak bisa ia wujudkan sama sekali. Hanya selembar foto yang bisa ia jadikan pengobat rindunya. Hanya selembar foto yang bisa ia jadikan penawar keinginannya itu.
Tanpa bisa dibendung, Nathan meneteskan air matanya. Ia menangis, terisak pilu. Lantas ia segera meraih tubuh Bunga dan memeluknya erat.
"Maaf, maafkan aku, sayang. Maafkan atas kebodohanku itu. Gara-gara kebodohanku, kau jadi hidup menderita."
Bunga lantas membalas pelukan Nathan, "kok kamu jadi nangis sih, sayang? Kan aku cuma cerita, bukannya mau bikin kamu nangis. Lagipula itu masa lalu. Seburuk apapun masa lalu, tapi aku tidak pernah menyesalinya. Apalagi bila balasannya kebahagiaan dan cinta luar biasa dari kamu dan keluarga, aku nggak mempermasalahkannya lagi kok."
"Ya Allah sayang, sebenarnya hati kamu terbuat dari apa? Kenapa hatimu baik banget? Padahal kesalahanku sangat besar, tapi kamu mau maafin. Aku benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti kamu." Ungkap Nathan yang begitu mengagumi kebaikan hati sang istri.
"Emangnya kamu mau aku marah terus benci? Sanggup? Nggak kan?"
Nathan menggeleng cepat seraya menatap lekat netra Bunga.
"Aku nggak bakal sanggup. Tapi bila itu memang terjadi, aku siap menebusnya dan menunggu maafmu meski harus menunggu seumur hidup."
"Suami aku kok so sweet banget sih! Jadi makin, sayang deh! Cup ... "
"Apalagi aku, makin sayang banget. Pokoknya I love you bertubi-tubi," ujar Nathan yang kemudian membanjiri wajah Bunga dengan kecupan membuat Bunga terkekeh kegelian.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...