LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. XXXVIII Benar-benar Kecewa


__ADS_3

"Kia, itu suara siapa nak? Kok ada suara anak kecil? Ada tamu ya!" seru ibu Bunga dari dalam kamarnya.


"Iya, Ma. Kita kedatangan tamu istimewa." sahut Kia antusias.


Mendengar suara sang ibu kembali setelah sekian tahun lamanya, sontak saja membuat jantung Bunga berdebar. Peluh pun mulai menetes membasahi beberapa bagian tubuhnya. Tangannya berkeringat dingin. Rasa takut, cemas, dan juga was-was bercampur aduk menjadi satu. Ia khawatir dengan respon sang ibu saat melihatnya nanti.


Bunga menelan ludahnya sendiri saat terdengar seperti suara roda yang beradu dengan lantai. Suara derit pintu yang terbuka membuat nafas Bunga tercekat.


Nathan yang melihat ekspresi tegang pada Bunga lantas menggenggam tangannya berharap sama seperti dahulu, genggaman tangannya mampu memberikan ketenangan pada sang pujaan hati. Namun Bunga tak menyadari hal tersebut. Dan benar saja, deru nafas Bunga yang tadi terdengar memburu perlahan terdengar lebih teratur.


"Memangnya siapa tamu isti-me-wa-nya ... Bu-Bunga ... Ini beneran kamu, sayang? Putri mama ... Bunga ... Bunga anakku ... "


Tiba-tiba lidah ibu Bunga terasa kelu. Bahkan kata-kata yang keluar dari bibirnya pun terbata-bata. Merasa belum yakin dengan apa yang ia lihat saat ini


Melihat ibunya yang terduduk di kursi roda, sontak membuat Bunga meraung sambil menangis pilu. Ia pun gegas berlari dan menekuk lututnya kemudian menggapai telapak tangan ibunya. Dibawanya tangan yang kulitnya mulai mengeriput itu ke bibirnya, dikecupnya hingga berkali-kali dengan air mata berderai.


"Iya, Bu, ini Bunga. Ini beneran Bunga. Putri ibu, anak ibu. Ibu ... " raung Bunga tak mampu lagi membendung air matanya yang makin deras membasahi pipi.


Setelah 6 tahun lamanya, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk menemui wanita hebat yang merupakan ibunya ini. Betapa ia begitu merindukan ibunya ini. Diluahkannya segala rasa rindu yang lama membara dalam hatinya.


"Ya Allah, nak. Akhirnya kamu kembali. Ini sangat merindukanmu, nak. Ibu kangen kamu. Kenapa baru sekarang kamu kemari? Kenapa baru sekarang kamu menemui ibu, sayang?" cecar Ibu Bunga dengan mata yang telah basah.


"Maaf, Bu. Maafin Bunga yang baru datang sekarang. Bunga ... Bunga takut, Bu. Bunga takut diusir lagi. Bunga ... Bunga hanya nggak ingin bapak dan kak Bayu marah-marah lagi, usir Bunga lagi," adunya pada sang ibu.

__ADS_1


Ya, memang itulah yang selalu membayangi Bunga. Rasa takut. Ia terlalu takut dengan orang tuanya. Ia tahu, orang tuanya juga kakaknya begitu kecewa dengan dirinya hingga tanpa perasaan mengusir dirinya yang tengah hamil. Tak ada tempat bernaung. Tak ada tempat tinggal. Tak ada tempat pelarian. Tak ada tempat bersandar. Mereka tak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Ia benar-benar sendirian. Bagaikan seorang tunawisma terkatung-katung tak tentu arah. Hanya bermodalkan sebuah tas ransel yang berisi beberapa helai baju dan buku tabungan hasil mengikuti lomba-lomba selama ini yang memang tak pernah dipakainya. Ia pikir, uang itu bisa ia jadikan modal untuk tambahan mendaftar kuliah, namun nyatanya yang itu digunakan untuk bertahan hidup dan tambahan biaya persalinan. Dan yang lebih pahit lagi, uang itu juga digunakan untuk biaya pemakaman putranya, saudara kembar Putri. Sampai sekarang, semua itu masih menjadi rahasia. Tak ada yang tahu, semua masih jadi rahasia Bunga. Terlalu pahit untuk menceritakannya. Mengingat hal itu, rasanya membuatnya sangat hancur. Tak ada sandaran, namun tetap harus bertahan demi Putri kecilnya tercinta.


"Maafkan ibu nak yang tidak mampu membelamu. Maafkan ibu karena tak mampu meredam amarah bapakmu. Maafkan ibu karena tak mampu menolongmu. Semua salah ibu. Ibu terlalu lemah, nak," lirih ibu Bunga yang terisak lalu dipeluknya tubuh Bunga. Mereka berdua menangis saling berpelukan.


Lalu Kia pun ikut bergabung sambil menggumamkan kata maaf. Mereka bertiga pun saling berpelukan satu sama lain. Pelukan kerinduan.


Putri yang melihat Bunga menangis sontak saja merasa ketakutan. Bibirnya ikut bergetar. Perlahan, air matanya turun membasahi pipi. Awalnya hanya isakan namun lama-kelamaan tangis Putri benar-benar pecah saat melihat bukan hanya Bunga yang menangis tapi nenek dan juga tantenya.


"Huaaaaa ... huaaaaa .... huaaaaa ... mama ... mama ... mama kenapa nangis? Huaaaa ... "


Sontak saja ketiga perempuan berbeda generasi itu melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada Putri yang kini sudah berada dalam gendongan Nathan. Nathan berusaha menenangkan Putri, tapi tampaknya Putri sudah kadung ketakutan.


"Papa ... mama, papa ... kenapa mama nangis? Huaaaa ... "


"Cup cup cup, sayang, jangan nangis ya! Mama cuma sedang melepas kangen sama nenek aja. Mama nggak kenapa-napa kok, Putri tenang ya sayang!" bujuk Nathan.


"Bu, kenalin, ini Putri, anak Bunga, cucu ibu," ujar Bunga memperkenalkan Putri pada sang ibu. Lalu pandangan Bunga beralih ke Putri, "sayang, kenalin, ini neneknya Putri. Sekarang, Putri udah punya nenek," tukas Bunga membuat Putri menghentikan tangisannya lalu mengalihkan perhatiannya pada sang nenek.


"Bunga ... di-dia ... "


"Iya, Bu. Ini Putri, anak Bunga. Cucu ibu."


"Nenek?" beo Putri sambil mengerjapkan matanya polos.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Ibu Bunga pun langsung meraup tubuh mungil Putri ke dalam dekapannya. Dipeluknya erat tubuh mungil Putri, diciuminya seluruh bagian wajah Putri dengan penuh cinta dan kasih serta kerinduan bercampur penyesalan.


Setelah drama tangis-menangis itu usai, di sinilah mereka berada. Di taman belakang rumah, tempat Bunga dahulu sering menghabiskan waktu sembari membaca buku-bukunya.


Bunga telah memperkenalkan Nathan. Awalnya Ibu Bunga menatap murka Nathan dengan wajah merah pada. Tapi dilihat dari ketulusan Nathan ingin meminta maaf dan menebus segala kesalahannya, tak pelak membuat Ibu Bunga terenyuh. Apalagi saat Nathan tanpa ragu bersujud di kakinya sembari terus-menerus mengucapkan permohonan maaf padanya karena telah menyia-nyiakan Bunga dan Putri selama ini.


Ibu Bunga pun akhirnya memaklumi bahwasanya saat itu memang Nathan dan Bunga masih terlalu belia untuk bersikap bijak dan dewasa. Sebagai orang tua pun, ia merasa gagal. Sebab bukannya merangkul, ia dan suaminya justru menyudutkan Bunga. Seharusnya saat itu merangkul Bunga dan mencari tahu siapa ayahnya. Kalaupun Nathan pergi, setidaknya mereka bisa menemui orang tuan Nathan untuk mengungkapkan permasalahan dan mencari solusi. Bukannya mengusir tanpa memikirkan dampaknya. Namun, meskipun begitu, ibu Bunga benar-benar bersyukur sebab sebab ternyata keadaan putrinya baik-baik saja. Pun cucunya. Namun Bunga belum benar-benar menceritakan betapa berat hidupnya dahulu.


"Saya benar-benar menyesal, Tan. Saya memang bodoh karena tidak mempercayai ucapan Bunga saat itu. Saya memang laki-laki brengsekkk, Tan. Saya mohon maafkan salah dan dosa saya Tante. Ini semua murni karena kesalahan saya," ucap Nathan di sela isak tangisnya.


Bunga yang melihat bagaimana Nathan bersujud di kaki ibunya dapat merasakan ketulusan dari ucapan Nathan tersebut. Beruntung Kia mengerti keadaan jadi ia mengajak Putri ke kamarnya. Ia tak mau Putri tiba-tiba menangis lagi karena melihat lagi-lagi mereka bersedih dan menumpahkan tangisan mereka. Namun, tiba-tiba suara menggelegar seseorang menginterupsi permohonan maaf itu membuat ketiga orang dewasa yang sedang berada di taman itu terlonjak kaget dan menoleh.


Seketika, wajah Bunga pias. Bibirnya kelu tak mampu berucap. Tubuhnya bergetar. Keringat dingin pun telah membasahi beberapa bagian tubuhnya. Ia ... benar-benar ketakutan saat ini.


"Mau apa kau kembali lagi ke rumah ini anak sialan!" bentak ayah Bunga murka. Di sampingnya tampak Batu menatap tajam Bunga dan Nathan secara bergantian dengan tangan terkepal erat.


"Ba-bapak ... " cicit Bunga dengan suara bergetar.


"Saya bukan bapak kamu. Saya tidak punya anak murahan seperti kamu. Keluar dari rumah saya sekarang sebelum saya melakukan hal yang lebih menyakitkan pada kalian berdua!" bentak Ayah Bunga lagi membuat persendian Bunga terasa begitu lemas.


Ternyata, 6 tahun belum merubah kakak dan ayahnya.


Bunga ... benar-benar kecewa.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2