LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. XLVIII Putus asa


__ADS_3

...Bernard Soulier Syndrome...


Kalimat itu terus terngiang di benak Bunga sejak pertama kali mendengarnya dari bibir dokter Agus dan dokter Alan, sang kakek dari putrinya sendiri. Bunga termangu sambil menatap sang putri yang sedang terlelap dengan infus tergantung. Sedangkan dokter Alan sedang berbincang dengan dokter Agus dan dokter Stefan dengan istilah-istilah asing yang tidak dimengerti Bunga.


Air mata Bunga lagi-lagi menetes, entah mengapa beberapa tahun ini air mata begitu setia mendampingi dirinya. Begitu setia menemani hari-harinya. Seakan tak ada celah sedikitpun untuk dirinya merasakan kebahagiaan.


Bernard Soulier Syndrome merupakan suatu penyakit langka, penyakit genetik yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit yang mengancam jiwa bila pendarahan terus terjadi dan tidak terkendali.


Mengapa harus putrinya yang mengalami ini?


Mengapa harus monster itu yang hidup di tubuh putrinya?


Mengapa?


Seribu kata mengapa terlontar di benak Bunga, tapi ia tak menemukan satupun jawabannya.


"Ini salahku. Ini pasti salahku. Ini semua salahku. Aku ... akulah penyebab semua ini. Gara-gara aku, putriku sakit seperti ini. Semua kesalahanku. Aku memang ibu yang buruk. Aku ibu yang bodoh. Aku ... ini salahku. Semua ini salahku. Aku sungguh ibu yang buruk. Aku ... " Bunga terus-terusan meracau menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan kini tangan Bunga telah naik ke atas kepalanya kemudian menarik-narik rambutnya sendiri. Putus asa, kekecewaan, kesedihan, tertekan, rasa bersalah, semua rasa bercampur menjadi satu. Satu persatu kilasan kehidupannya yang jauh dari kata bahagia seolah menertawai dirinya.


Nathan yang sedang berbincang dengan ayahnya sontak terkejut saat mendengar racauan putus asa yang menyalahkan diri sendiri dari Bunga. Nathan pun sontak panik dan bergegas mendekati ibu dari putrinya tersebut kemudian mencoba menghentikannya dengan menahan kedua tangan yang sibuk menjambak rambutnya sendiri. Namun, Bunga seolah tuli, rasa frustasi dan putus asa membuatnya kini makin terbelenggu dalam rasa bersalah yang menjadi-jadi.


"Bunga, hentikan! Kamu jangan kayak gini, Nga! Berhenti Bunga! Stop! Hei, ini bukan salah kamu! Aku mohon, jangan kayak gini! Please Bunga, jangan sakiti diri kamu kayak gini! Kamu nggak salah. Kamu ibu yang hebat."


Nathan terus berusaha menenangkan Bunga, namun Bunga tidak mempedulikan ucapan Nathan sama sekali.


"Aku ibu yang jahat. Aku ini yang tidak berguna. Aku salah. Aku bodoh. Aku ibu yang kejam. Aku ibu yang gagal. Gara-gara aku, Putri sakit. Semua gara-gara aku. Semua salahku .... "


"Bunga, berhenti aku bilang!" bentak Nathan akhirnya karena Bunga tak kunjung berhenti meracau sambil menjambak rambutnya sendiri.


Seketika Bunga menghentikan gerakannya. Lalu wajahnya mendongak dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Seandainya aku sigap membawa Putri ke rumah sakit, pasti penyakit itu takkan mungkin makin menggerogoti tubuh Putri. Ini salahku, Nath. Ini salahku. INI SALAHKU. SALAHKU. SEMUA SALAHKU." Jerit Bunga kehilangan kendali.


Lalu ia berdiri dan menabrak bahu Nathan kemudian berlari tak tentu arah sambil berteriak dan menangis kencang.


Nathan yang panik pun segera mengejar Bunga. Ia takut Bunga melakukan hal yang tidak-tidak karena pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja. Nathan paham bagaimana perasaan Bunga saat ini. Hidupnya tertolak. Bahkan keluarganya sendiri menolak kehadirannya. Lalu kini, ia dihadapkan dengan keadaan sang Putri yang tidak baik-baik saja. Sudah tentu hal tersebut memberikan pukulan begitu telak pada jiwanya.


Nathan terus mengejar Bunga yang sudah masuk ke dalam lift. Stefan yang ikut mengkhawatirkan keadaan keponakannya pun turut mengejar. Namun belum sempat Nathan ikut masuk ke dalam lift, lift sudah lebih dahulu tertutup rapat dan bergerak sesuai angka yang dituju.


"Sial!" umpat Nathan saat pintu lift telah tertutup rapat.


"Di sana, Nath!" seru Stefan saat melihat pintu lift satunya terbuka.


Dengan langkah panjang, Nathan segera masuk ke dalam sana diikuti Stefan. Entah mengapa, gerak lift itu seakan begitu lambat bahkan lebih lambat dari gerakan siput pikirnya. Ia sedang diburu waktu. Ia terlampau panik dan cemas.


"Tenang Nath, Bunga pasti takkan kenapa-napa!" ujar Stefan mencoba menenangkan. Namun, perkataan Stefan itu bagaikan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Ia sama sekali tak menggubrisnya. Stefan paham, keponakannya saat ini sedang dilanda kecemasan.


Hingga denting lift berbunyi, baru saja pintu lift terbuka, Nathan langsung berlari menerobos bahkan ia tak peduli orang-orang yang berdiri di depan lift hampir terjatuh karena ulahnya yang menerabas mereka begitu saja.


"Aku mohon Bunga, jangan melakukan hal nekat!" gumamnya dengan nafas tersengal sambil memperhatikan ke sekeliling, berharap ia segera melihat keberadaan Bunga.


"Nath, itu Bunga!" seru Stefan saat menangkap keberadaan Bunga yang berlari menuju jalanan.


Mata Nathan terbelalak, nafasnya makin memburu, dan degup jantungnya pun kian bertalu-talu saat melihat Bunga berlari seperti orang kesetanan menuju jalanan yang saat ini sedang begitu padat dan ramai. Ia berlari sekencang mungkin. Ia takut terjadi sesuatu pada Bunga-nya.


"Bungaaaaaa ... "


Bruakkk ...


"Bu-Bunga ... tidaaaak ... Bunga ... Bunga .... tidak Bunga, jangan tinggalin aku, aku mohon, Bunga! Bungaaaaaa ... " teriak Nathan dengan tungkai yang kian melemah saat namun tetap berusaha melangkah saat melihat tubuh ringkih kekasih hatinya itu terpental karena tertabrak mobil yang sedang melaju cukup kencang.

__ADS_1


Seketika jalanan menjadi riuh. Nathan terjatuh lemah di depan tubuh yang kini bersimbah darah. Dengan tangan bergetar, ia meraih kepala Bunga dan meletakkannya di pangkuannya.


"Bunga ... bangun, sayang! Aku mohon, bangun! Jangan tinggalin aku dan Putri! Kau tahu sayang, selama 6 tahun ini, tak pernah satu hari pun aku tak mengingat kamu. Aku cinta kamu. Aku mohon, jangan tinggalin aku, sayang. Aku mohon! Bungaaaa ... bangun, Nga! Buka mata kamu, bukaaaa ... Bunga .... banguuuuunnnn ... "


Semua orang yang melihat betapa histerisnya Nathan, tak pelak ikut meneteskan air mata. Mereka pikir, pasangan itu bertengkar hingga yang perempuan nekat menyeberangi jalan raya yang berakibat tertabrak mobil.


Stefan yang tadinya mematung lantas segera meminta bantuan tim medis untuk segera membawa Bunga ke ruang UGD.


"Nath, udah, tenang! Kita harus segera menyelamatkan Bunga, sekarang!" pekik Stefan saat Nathan tak henti-hentinya meraung.


Lalu Stefan memberi kode pada para perawat untuk memindahkan Bunga ke atas brankar dan membawanya ke ruangan UGD.


"Om, Bunga akan baik-baik aja kan, Om? Dia akan sembuhkan? Bunga pasti bakal sembuh lagi kan, Om? Aku nggak mau kehilangan Bunga lagi, Om. Aku nggak akan sanggup," racau Nathan sambil terus berlari mengejar brankar yang membawa tubuh Bunga yang sudah tak sadarkan diri.


...***...


Reader : Thor, tega banget sih bikin Bunga kayak gitu?


Othor : Maafkeun, emang alurnya gini sesuai judul Luka Bunga. 🙏🙏🙏


Reader : Thor, Bunga dan Putri bakal sembuh kan?


Othor : Kita lihat aja entar! 😁😁😁


Othor mau istirahat dulu ya! Lagi migrain. 😵


Migrain terus sih, Thor!


Iya, sampai bosen nih bentar-bentar migrain. 😵😵😵

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰**...


__ADS_2