LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LXVII Perkara durian


__ADS_3

Nathan membuka matanya saat mendengar suara alarm-nya. Dengan cepat, ia mematikan suara handphonenya itu sebelum membangunkan Bunga yang masih terlelap. Dia pun segera duduk setelah mendapatkan kesadaran penuh. Terdengar bacaan Tahrim menjemput adzan subuh bersahut-sahutan dari masjid yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Nathan pun bergegas turun dari atas ranjang dengan perlahan dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia pun segera mengenakan baju kokonya dan barulah ia menghampiri sang istri untuk mengajaknya berjamaah bersama.


"Sayang, bangun!" ucap Nathan pelan. Ia tak boleh membangunkan Bunga secara tiba-tiba sebab ia tidak ingin membuat Bunga terkejut hingga membuatnya jadi pusing.


Bunga tampak mengerjakapkan matanya. Setelah mendapatkan kesadaran penuh, ia pun segera duduk.


"Sayang, udah subuh ya?"


"Sebentar lagi. Buruan mandi gih terus kita jamaah," ajak Nathan yang langsung diangguki Bunga dengan senyum lebarnya. Bunga pun mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya, barulah ia turun dari atas ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sudah sejak lama Bunga memimpikan momen-momen seperti ini, bukan hanya memiliki pendamping, dicintai laki-laki yang juga mencintai dirinya, mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari laki-laki yang dicintainya, tapi juga merasakan bisa melakukan shalat berjamaah dengan sang suami sebagai imamnya. Dan ia amat sangat bersyukur, perlahan Nathan berusaha menjadi lebih baik. Ia bahkan sudah sanggup mengimami dirinya saat melakukan shalat berjamaah.


Ah, sungguh indah dunia ini rasanya!


Istri mana yang tak bahagia bila sang suami bukan hanya menjadi pendamping tapi juga pembimbing.


Setelah selesai mandi, Bunga pun segera keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe putih yang disediakan di kamar hotel tersebut. Matanya terperangah saat melihat sajadah mereka berdua telah terbentang berikut mukena untuk dirinya. Bunga tersenyum bahagia, ia pun bergegas mengambil pakaian secara asal untuk ia kenakan sesegera mungkin. Setelah selesai, ia segera mengenakan mukena dan mereka pun segera melaksanakan shalat subuh mereka secara berjamaah.


Setelah selesai, tak lupa Nathan mengangkat tangannya, melangitnya doa-doa dan ungkapan syukur atas segala yang ia miliki saat ini. Tak lupa ia memohon ampunan atas dosa-dosa mereka di masa lalu yang diaamiinkan oleh Bunga. Seusai melaksanakan shalat subuh, Bunga mencium punggung tangan Nathan lalu disambung dengan ciuman panjang dan hangat dari Nathan di dahi Bunga.


...***...


"Sayang," panggil Bunga yang kini sedang rebahan di atas ranjang sambil bersandar di dada Nathan.


"Hmmm ... kamu mau sesuatu?"


"Aku pingin sesuatu sih, tapi ... "


"Tapi apa? Katakan aja. Aku malah pingin banget kamu ngidam sesuatu. Usia kehamilan kamu udah bulan ke sekian, tapi aku belum pernah mendengar satu kali pun kamu meminta sesuatu alih-alih ngidam."


"Tapi aku takut kamu nggak bisa mengabulkannya."


"Apapun untuk kamu, pasti akan aku usahakan," ucap Nathan dengan pasti.

__ADS_1


"Serius?"


"Aku serius, sayaaaang. Ayo, bilang aja jangan ragu!"


"Iya sayang, bilang aja. Kalau suami kamu ini nggak bisa wujudkan, biar mama jewer biar tahu rasa," timpal Stefani yang kini sudah duduk di samping Bunga sambil mengusap perutnya yang kian membukit.


"Mama ih, siapa juga yang nggak mau. Aku malah nunggu banget momen kayak gini. Udah lama aku pingin dengar menantu kesayangan mama ini ngidam sesuatu, apa kek gitu, tapi nggak ada sama sekali. Makanya aku antusias banget pas Bunga bilang dia pingin sesuatu," ucapnya pada sang mama sambil mencebikkan bibirnya. "Jadi sayang, kamu mau apa, hm? Bilang gih, biar bisa ayang beb kamu ini cariin segera," tukas Nathan penuh antusias.


"Sayang, aku pingin banget makan durian. Kamu mau kan cariin?"


Glek ...


"Sa-sayang, kamu ... serius?" cicit Nathan yang sudah panas dingin membuat Stefani terkekeh.


"Iya, aku ingin banget. Kamu bisa kan beliin? Terus kupasin juga buat aku, mau kan!" melas Bunga.


"Tapi sayang ... "


"Sayang, boleh minta bik Sumi aja nggak? Atau pak Toni? Atau mama aja deh, boleh kan?" melas Nathan. Bukannya tak mau, tapi ia tak bisa mencium aroma si raja buah itu walaupun sedikit. Bisa-bisa dia muntah-muntah lalu panas dingin dan lemas seketika.


"Tapi aku maunya kamu yang beli, Yang!" rengek Bunga membuat Nathan kian kebingungan.


Nathan tampak menatap Stefani dengan tatapan memelas, tapi Stefani hanya bisa mengedikkan bahunya. Ia tidak bisa membantu apa-apa kali ini. Apalagi ini keinginan pertama menantunya saat hamil seperti ini, dalam kata lain ini merupakan ngidam pertama Bunga selama masa kehamilannya. Tentu mana tega Iya tidak mewujudkan keinginan menantunya tersebut.


Dengan berat hati, Nathan pun mengiyakan permintaan istrinya tersebut. Harapnya, ia bisa bertahan dengan aroma si raja buah yang terkenal amat sangat menyengat itu. Bagi pecinta buah tersebut, tentu mereka akan sangat menyukainya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak bisa mencium aroma buah itu sama sekali. Namun, ia harus menahan diri dari keengganan itu, semua demi istri dan calon buah hatinya yang ada di dalam kandungan istri tercintanya.


Sebelum pergi, Nathan terlebih dahulu menyiapkan alat tempurnya. Setelah segalanya siap, ia pun segera pergi mencari penjual buah tersebut. Apalagi kini sedang musimnya, ia yakin dapat menemukan penjual buah itu dengan mudah di pinggir-pinggir jalan seperti yang biasa ia lihat.


1 jam kemudian, terdengar deru mobil Nathan telah masuk ke pekarangan rumah. Dengan mata berbinar, Bunga pun bergegas menyambut kepulangan sang suami dari membeli buah yang amat sangat ia inginkan tersebut.


Baru saja Nathan turun dari dalam mobil, Bunga sudah tidak dapat mengontrol tawanya yang tiba-tiba saja meledak. Ia pun segera duduk, karena sudah tidak bisa mengontrol tawanya yang kadung meledak.


Stefani yang mendengar tawa sang menantu pun segera bergegas melihat Apa yang sebenarnya telah terjadi. Sama seperti Bunga, Stefani pun sudah tidak dapat mengontrol tawanya lagi. Bagaimana tidak, penampilan Nathan sudah seperti astronot yang baru saja mendarat di luar angkasa. Dengan memakai masker berlapis, ditutup helm, memakai jaket tebal dan sarung tangan juga saat memegangnya seolah begitu anti dengan buah yang rasanya sungguh enak itu.

__ADS_1


"Astaga sayang, kamu mau jadi astronot?"


"Papa, papa kok kayak gitu? Waaaa ... papa bawa durian, yeee yeee yeee, Putri mau makan durian," pekik Putri yang begitu antusias saat melihat Nathan datang membawa beberapa durian yang diikat menjadi satu menggunakan tali rafia.


"Seneng bener yang liat buah durian. Emang apa enaknya, baunya aja ... rrrr ... " Nathan memasang ekspresi bergidik ngeri saat membayangkan memakan buah yang aromanya sudah menguar begitu kuat. Wajar saja Nathan sampai memakai masker berlapis sebab aroma buahnya memang benar-benar luar biasa. Padahal kulitnya belum dikupas, apalagi bila buahnya sudah dikupas nanti.


"Kita bawa ke taman samping aja, sayang. Biar aromanya nggak memenuhi ruangan," tukas Bunga yang juga merasa kasihan dengan suaminya itu.


"Kalian kupas sendiri ya?"


Bunga mencebik, dia kan ingin dikupasin dan ditemani,. tapi Nathan malah ingin segera beranjak dari sana.


"Bukannya aku nggak mau temenin, Yang, cuma ... haish .... Ya udah, aku bantu kupas," ujarnya terpaksa mengalah, demi baby, demi Putri, dan demi istri, apa sih yang nggak bisa Nathan lakukan. Loncat ke lautan api pun, Nathan berani. Api asmara maksudnya. Kalau api beneran, mati dong, terus gimana dengan Bunga dan anak-anaknya nanti?


Sebelum mengupas buah durian, Nathan lebih dahulu menyemprotkan parfum yang banyak ke sekujur tubuhnya termasuk ke masker yang ia kenakan. Tujuannya adalah agar ia tidak mencium aroma durian sama sekali, tetapi apakah cara itu ampuh?


...***...


"Hoek ... Hoek ... Hoek ... Yang, please, jangan minta durian lagi ya! Ampun, aku nggak kuat!" ujar Nathan memuntahkan isi perutnya.


Setelah drama mengupas buah durian, akhirnya Nathan benar-benar tepar. Ternyata aroma parfum tetap dapat dikalahkan oleh aroma buah durian yang sangat menyengat. Hidungnya yang sensitif terhadap buah tersebut membuatnya tergolek tak berdaya di tempat tidur setelah beberapa kali muntah. Bukannya iba, Bunga dan Stefani malah cekikikan melihat bapak satu anak itu. Nathan hanya bisa mencebikkan bibirnya yang pucat akibat ulah dua eh kini ditambah Putri jadi 3 perempuan itu.


"Nggak janji deh papa sayang," sahut Bunga sambil menutup mulutnya yang tak sanggup menahan tawa.


"Papa lucu deh kan durian enak, pa, kok papa nggak suka sih?" seloroh Putri sambil cekikikan. "Nih, liat Putri makan hmmm ... eeeenaaaakkkk ... Hahahah ... "


"Putri mulai nakal ya!" sergah Nathan dengan mata melotot membuat Putri langsung kabur seraya cekikikan.


"Lariiii ... " pekik Putri girang yang justru membuat Nathan tersenyum lebar. Tak apalah pikirnya dia harus sedikit menderita karena tak tahan dengan aroma si raja buah yang begitu menyiksa, apalagi gantinya ia bisa melihat binar bahagia bukan hanya di wajah istrinya, tapi juga Putri kesayangannya.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2