LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LXVI Dulu, kini, dan nanti.


__ADS_3

Sepanjang acara resepsi pernikahan Bunga dan Nathan, kedua orang tua Edgar hanya bisa menahan malu dalam diri. Bagaimana tidak, mereka dulu begitu menganggap rendah Bunga, menganggapnya tak pantas untuk putra mereka hanya karena pendidikan, tak memiliki keluarga, dan memiliki anak di luar nikah. Hal yang membuat mereka menentang mati-matian keinginan putra mereka untuk meminang Bunga menjadi istrinya. Membuat mereka mengambil keputusan sepihak dengan menikahkan Edgar dengan perempuan pilihan mereka.


Namun, kini, karma sepertinya mulai berlaku. Setelah tempo lalu ia merendahkan Bunga dan putrinya, kini ia dihukum dengan tidak bisa lagi berharap banyak pada sang putra dan istrinya. Berharap bisa segera menimang cucu dari keduanya sebab baik putra maupun menantunya memiliki kekurangan masing-masing sehingga kecil kemungkinan bagi keduanya untuk bisa memiliki keturunan. Inilah hasil dari merendahkan orang lain dan memaksakan kehendak.


Wanita pilihan mereka sebenarnya masih teman kecil Edgar. Dia sudah lama memiliki perasaan pada Edgar dan berkat kegigihannya, mereka pun mengatur rencana untuk menikahkan keduanya. Bahkan mereka mengatur rencana agar Edgar tak dapat menolak perjodohan itu dan bersedia menikah dengan Rinda.


Dan kini, nasi telah jadi bubur. Mereka hanya bisa menerima segalanya karena memang ini adalah buah dari perbuatan mereka sendiri.


Dan di pesta ini, fakta-fakta mencengangkan pun bermunculan. Bagaimana tidak, wanita yang ia rendahkan itu ternyata putri dosen yang merupakan senior ayah Edgar sendiri. Mereka pikir, Bunga hanya perempuan biasa, tidak memiliki keluarga, bila putra mereka menikah dengannya, maka masa depannya pasti akan suram, itu pikir mereka.


Tapi lihat ... ternyata Bunga memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna. Dan yang lebih mencengangkan lagi, ternyata yang meminang Bunga bukanlah orang sembarangan. Dia adalah putra dari dokter ahli kanker terkemuka di negara ini. Bahkan ibunya merupakan sahabat dari pemilik perusahaan Angkasa Grup sampai-sampai pesta pernikahan mereka pun disponsori langsung oleh sang pemilik. Sungguh luar biasa.


Dan fakta tak kalah mencengangkan adalah laki-laki yang menikahinya merupakan ayah biologis dari Putri Bunga sendiri. Tadi Edgar sempat menceritakan sedikit apa yang ia ketahui. Bahkan kini mereka akan dikaruniai seorang keturunan lagi. Bunga tengah hamil anak keduanya. Sesuatu yang membuat kedua orang tua Edgar merasa iri. Mungkin bila saat itu mereka tidak egois dan mau menerima Bunga, bisa jadi yang dikandung Bunga saat ini adalah buah hati Edgar.


Ah, lagi-lagi itu tinggallah angan. Nasi telah jadi bubur.


Mereka hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Tuhan memberikan mereka kesempatan untuk melihat hadirnya seorang bayi di tengah-tengah keluarga mereka.


...***...


Malam kian larut, akhirnya pesta pun telah usai. Bunga dan Nathan kini telah kembali ke kamar mereka. Untuk beberapa hari ke depan, mereka akan menginap di hotel itu sebagai ganti honeymoon yang tertunda.


Ya, seminggu yang lalu Nathan dan Bunga memang sempat berkonsultasi dengan dokter tentang rencana mereka untuk berbulan madu di luar negeri. Tapi karena kandungan Bunga masih terlalu muda dan belum kuat alias masih rentan, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan penerbangan meskipun jarak dekat. Apalagi dengan riwayat melahirkan terakhir Bunga.


Khawatir terjadi sesuatu pada kandungannya, mereka pun lebih memilih menghabiskan bulan madu mereka di hotel tempat dilaksanakannya pesta pernikahan saja. Rencananya, mereka baru akan berbulan madu saat usia kandungan Bunga sudah masuk trimester kedua. Honeymoon sekaligus babymoon kata mereka.

__ADS_1


Memasuki ruangan yang kini telah dipenuhi semerbak harum bunga, membuat kinerja jantung Bunga bergolak hebat. Perasaannya berdebar-debar layaknya pengantin baru yang akan melakukan ritual malam pertama.


"Astaga, kok jantungku jedag-jedug gini!" gumam Bunga di depan cermin. Ia sedang berusaha melepaskan gaun pengantinnya. Walaupun awalnya agak sulit, akhirnya ia bisa juga.


Bunga menutup tubuhnya dengan kimono handuk sambil membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make up, sedangkan Nathan telah lebih dahulu berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


30 menit kemudian, keduanya tampak telah membersihkan diri. Mereka duduk bersisian di atas ranjang king size di kamar hotel tersebut. Bunga yang hanya mengenakan kimono katun terlihat begitu seksi di mata Nathan.


"Sayang, boleh aku ... "


Bunga menunduk malu sambil mengangguk mbuat Nathan segera merapatkan tubuhnya dengan Bunga. Keduanya saling bertatapan dalam satu garis lurus yang melenakan. Debaran itu kian menggila, apalagi saat Nathan menarik pinggang Bunga hingga tubuh keduanya merapat sempurna.


Bunga pun segera mengalungkan tangannya di leher Nathan. Lalu tanpa aba-aba, Nathan memagut bibir Bunga dengan mata yang tertutup. Menggerakkannya dengan gerakan yang begitu sensual dan bergairah.


Nathan membawa tubuh sang istri ke dalam kungkungannya tanpa melepaskan pagutannya sama sekali. Ia terus melu*mat bibir istrinya dengan lidah yang saling bertaut, penuh desakan.


Tangan Nathan perlahan menari-nari di atas daging kenyal yang masih tertutupi kimono satin tersebut. Tangannya terus bergerak mere*mas dan memilik ujungnya membuat Bunga melenguh dalam lima*tan yang penuh gairah.


Tak puas tidak menyentuh secara langsung, Nathan meraih simpul yang berbentuk pinta di depan dada Bunga dan menariknya hingga terlepas. Hingga terpampanglah kini si daging kenyal yang kini ukurannya sudah mulai membesar, mungkin karena faktor kehamilan.


Ketika pasokan oksigen kian menipis, Nathan melepaskan pagutannya dan mulai membawa bibirnya menjelajahi setiap inci kulit tubuh Bunga yang telah terpampang di hadapannya.


Bibir itu turun ke dagu, pipi, laku berlabuh di leher. Ia memberikan beberapa gigitan halus disana disertai sedikit jilatan hingga membuat Bunga melenguh dengan dada yang naik turun.


Tak cukup sampai di situ, Nathan pun membawa bibirnya menuju tulang selangka kemudian berlabuh di atas salah satu daging kenyal Bunga yang sudah terlihat menegang akibat rangsangan yang ia beri.

__ADS_1


Tubuh keduanya kian memanas, bahkan pendingin udara di kabar hotel itupun tak mampu mencegah peluh yang keluar dari setiap pori yang ada di tubuh masing-masing.


Sadar gairahnya kian bergelora, pun Bunga yang menginginkan lebih, Nathan lantas melepas kimono satin di tubuh Bunga dan melemparnya asal, disusul dirinya yang juga melepaskan semua helaian yang tadi sempat membalut tubuhnya.


Kini keduanya sama-sama polos. Nathan yang sudah hafal setiap titik-titik sensitif sang istri lantas segera menyentuhnya dengan lembut membuat Bunga merasa seperti melayang di awang-awang. Nathan memang sangat pandai menerbangkannya hingga ia tak sanggup menahan desa*hannya yang sukses meluncur dengan begitu merdu.


Bunga terengah-engah saat ia berhasil sampai pada puncaknya membuat Nathan tersenyum dalam setiap cumbuannya. Entah berapa kali sudah Bunga mendapatkan pelepasannya hanya dengan permainan bibir dan jari Nathan. Hingga tibalah saatnya Nathan untuk mengejar pelepasannya, barulah ia mulai menyatukan miliknya dan Bunga. Ia melakukannya dengan lembut dan perlahan. Ia tak ingin tergesa karena ada buah hatinya yang sedang tertidur di dalam sana.


Nathan menghujam dengan lembut namun intens. Bunga tampak meracau saat Nathan melakukan sedikit hentakan. Nathan pun kembali memagut bibir Bunga saat hujaman itu kian dalam dan mendesak.


"Nath."


"Bunga."


Nathan kian terpacu saat mendengar Bunga menyebutkan namanya. Hujaman itu kian dalam dan di saat bersamaan Nathan merasakan gelombang besar yang bersiap menyapu bersih gairahnya yang membara. Hingga tibalah ia pada puncak sang gelombang, Nathan pun bergegas menarik miliknya hingga semburan benihnya pun tumpah ruah di atas perut Bunga yang sudah sedikit membukit. Ia sengaja melakukan itu sebab menurut dokter cairan itu bisa memicu kontraksi bila dibuang di dalam. Tentu hal itu berbahaya apalagi Bunga masih hamil muda, yaitu trimester pertama.


Nafas keduanya terengah dengan peluh yang sudah membanjiri sekujur tubuh mereka berdua. Keduanya saling melemparkan senyum, senyum penuh kelegaan dan kebahagiaan. Nathan mengusap peluh di dahi Bunga lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Terima kasih sayang atas malam yang selalu luar biasa ini," ucapnya sambil merebahkan dirinya di samping Bunga. Ia merengkuh tubuh Bunga dan mendekapnya erat. Tak lupa ia melabuhkan beberapa kecupan di dahi, hidung, pipi, dan berakhir di bibir. "Aku mencintaimu, sayang. Dulu, kini, dan nanti, hanya kamu satu wanita yang aku cintai. I love you every beat of my heart."


"I love you too, from beginning till now, and forever."


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2