Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Kecewa


__ADS_3

Kedua remaja itu hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan wanita di depannya. Entah rasa penyesalan atau rasa malu yang mereka dapatkan. Namun terlihat jelas sang hadis remaja hanya bisa tertunduk dengan air matanya yang terus saja mengalir deras. 


"Kenapa kau menuruti saja kemauan pria bajin**n ini? Kenapa kau tak melaporkan tindakannya pada saat dia mengancam? Dengarkan aku baik baik. Aku memang seorang polisi, namun saat ini aku hanya ingin berbincang denganmu sebagai seorang wanita dan anggap saja aku kakakmu. Apa kau tak kasihan melihat ibumu ketika tahu tentang kejadian memalukan ini?"


Gadis itu terdiam dan mulai terlihat memelintir ujung bajunya karena menahan rasa bersalah.


"Aku tahu kau memang salah dan bisa di katakan kau wanita yang aku pun tak bisa definisikan sebelumnya. Kau cantik dan kau pasti sangat penurut. Tapi ingat janin yang yang gugurkan mungkin saja nanti bisa jadi penyelamatmu jika saja tak di gugurkan. Anak itu bahkan tak salah dan hanya kalian berdua yang salah dan berdosa. Aku tak ingin menghardik kalian namun entah kenapa hatiku sangat sakit ketika membayangkan jika orang tua kalian tahu nantinya. Dan ku harap jika sampai hukuman kalian berakhir, aku ingin kalian bisa memperbaiki hidup dan jangan berbuat hal yang nekat lagi"


Petugas itu pun berjalan meninggalkan keduanya di ruangan tersebut. Hingga tak lama kemudian jeritan dan tangisan dari dua orang ibu yang baru saja sampai terdengar begitu menyayat hati. Ya, kedua ibu itu adalah ibu dari gadis yang baru saja mengugurkan kandungannya dan kekasihnya.


Terlihat jelas rasa marah dan kecewa tersirat dari kedua wajah wanita paruh baya yang saat ini terkulai lemas di dalam kantor polisi. Mereka berdua bahkan belum bisa di pertemukan dengan kedua pasangan kekasih itu sebab para polisi pun tak ingin para orang tua melakukan hal diluar batas karena emosi.


"Saya harap ibu dan bapak bisa tenang" ucap salah satu komandan yang bertugas .


Gaduhnya suara warga membuat kedua orang tua itu semakin menjerit dan menangis tersedu sedu. Hati orang tua mana yang tak sakit ketika mendapati kenyataan bahwa anak mereka telah berbuat hal diluar batas dan dengan nafsu yang membuat mereka hancur. Terlebih lagi omongan tetangga dan orang sekitar yang nantinya akan menghancurkan mental serta masa depan mereka sebagai sanksi sosial.


"Bagaimana bisa tenang pak! Mereka pasti sagat marah dan kecewa pada kedua anak tak tahu di untung itu! Kami pun sebagai orang tua jika ada d posisi itu maka tak segan segan akan mengusirnya dan mungkin saja membunuh mereka!" Ucap salah satu warga di luar ruangan.


Tangis seorang ibu makin menjadi jadi hingga polisi pun turun tangan dan terpaksa mempertemukan mereka dengan anaknya masing masing. 

__ADS_1


Bukan pelukan juga bukan kasih sayang yang mereka dapatkan setelah membesarkan anak anaknya dengan kasih sayang. Namun, rasa kecewa dan malu yang mereka dapatkan setelah tahu kejadian memalukan ini dari para warga dan polisi yang menelpon sebelumnya.


Ibu dari Melsa berlari dan menjambak anaknya dengan sangat kuat. Ia begitu kecewa mendapatkan kenyataan bahwa anak yang ia sayangi dan besarkan penuh cinta justru berbuat hal tak pantas sampai sampai melakukan aborsi secara ilegal.


"Apa salah ibu hah!? Apa salah ibu sehingga kau malah memberikan kotoran telat di muka ibu Melisa! Apa kau tak tahu seberapa sayangnya ibu padamu? Apa yang telah ibu lakukan kepadamu sehingga kau memberikan rasa sakit ini pada ibu nak? Apa?!"


Tangisnya begitu terdengar sangat pilu. Melisa bahkan menangis dan berusaha memegang tangan ibunya.


"Jangan sentuh ibu! Kau bahkan tak seperti ibu dan ayahmu! Kami tak memiliki putri yang jahat sepertimu! Aku bahkan tak mengenal dirimu sebab putriku yang aku sayangi kini sedang meraih pendidikannya agar bisa menjadi seorang bidan! Itulah yang dilakukan putri kecil kami!"


"Bu, maafkan Melisa bu. Melisa salah, Melisa berdosa bu. Melisa tak tahu jika hal ini akan menjadi seburuk ini. Melsa diancam dan hanya dengan menuruti setiap perkataan Aryo lah Melisa bisa selamat"


Tamparan keras mendarat di pipi mulut gadis belia itu. Ibu dari Aryo yang sejak tadi sedang memarahi putra semata wayangnya pun tak terima jika anaknya di tuduh sebagai peran utama dalam kejadian ini.


"Cukup! Jangan salahkan anakku gadis mura**n! Kau sendiri yang merayu dan menggoda putraku! Kau bahkan tak tahu malu menyerahkan tubuhmu pada pria yang bukan suamimu di usia semuda ini! Aku tahu kau orang miskin, maka kau ingin berhubungan dengan putraku sebab kami berasal dari keluarga kaya. Benar bukan!"


Ibu Melisa hanya terdiam. Harga dirinya sudah hancur ketika para warga membicarakan kelakuan putrinya. Jiwanya bahkan sudah hilang bersamaan dengan kenyataan menyakitkan mengenai putri kecilnya.


"Dasar jal**ng kecil! Kau bahkan terlihat seperti sampah di mataku dan kau bahkan terlihat sangat menyedihkan sekarang! Kau tak pantas mendapatkan pria manapun setelah kejadian ini! Cuihh!" Ibu Aryo meludah ke sisi kanan hingga membuat Ibu dari Melsa merasa geram dan marah.

__ADS_1


Dengan cepat ibu dari Melisa mencengkram leher Ibu Aryo dan mencoba mencekiknya sekuat tenaga. Kejadian itu pun membuat para polisi, Melisa dan Aryo begitu panik. Tak terkecuali ayah Aryo dan Melisa yang mencoba melerai keduanya.


"Sudah hentikan! Ini kantor polisi jangan ada keributan disini paham!"


Ibu Melisa terus saja mencengkram erat leher Ibu Aryo hingga wanita tersebut sulit untuk bernafas dan wajahnya terlihat sagat merah. Aryo bahkan tak segan menarik tangan wanita paruh baya di depannya dan mendorongnya dengan sangat keras hingga membuat Melisa marah dan menamparnya dengan sangat keras.


"Jangan lakukan hal itu pada ibuku Aryo!"


Aryo terdiam, matanya menatap nyalang pada sang gadis yang selama ini ia cintai.


"Ini semua salahmu! Jika saja kau menbuang janin itu dengan aman maka kita takan berada di tempat ini!" Aryo berteriak degan keras hingga membuat semua mata kini menatapnya.


Kedua orang tua remaja itu bahkan belum di beritahu tentang janin yang telah di gugurkan oleh Aryo dan Melisa sebab para polisi pun tahu bagaimana terguncangnya mereka ketika mengetahui tentang kelakuan mereka di dalam gubug. Namun, ucapan Aryo telah membuat mereka tahu kebenaran yang lebih menyakitkan lagi.


Tubuh Ibu Melisa dan ayahnya begitu bergetar hebat kala mendengar kelakuan putri kecil yang selama ini mereka sayangi sepenuh hati. Dengan cepat Ibu Melsa bahkan diam dan duduk di atas lantai begitu saja. Tatapannya yang kosong serta diamnya membuat Melisa panik dan ketakutan.


"Bu maafkan Melsa bu. Maaf" Meliaa bersujud di kaki wanita yang sudah melahirkan serta membesarkannya.


Terlihat deraian air mata jatuh dengan deras membasahi pipi keriput dari ayah Melisa yang kini luruh di atas lantai memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2