
Melati harum kini telah di tenteng oleh seorang wanita yang tak asing dimata Azka. Wanita itu menutupi sebagian wajahnya dengan kain hitam agar tak terlihat oleh siapapun yang kini tengah mengerumuni liang lahat sang pewaris tunggal keluarga Wirahma yang meninggal dikira akibat bunuh diri.
"Mbok Darmi" gumam Azka dengan pelan.
Pria itu lantas bergegas menuju samping wanita tua yang kini tak tampak lagi bungkuk dan membawa tongkoh di tangannya.
"Mbok Darmi kesini?" tanya Azka mencoba berkomunikasi dengan wanita paruh baya di sampingnya.
Sekilas dapat terlihat jelas oleh Sri bahwa wanita yang kini sedang di tanya oleh arwah Azka dapat melihat juga dirinya. Bahkan Sri diam mematung kala ingat bahwa wanita itu tak asing baginya.
__ADS_1
"Mbok kenapa kesini? apa mbok mau bantu Azka membalaskan dendam?" tanyanya lagi namun tetap tak mendapatkan jawaban apapun dari Mbok Darmi.
Sorot mata wanita itu tajam menatap wanita paruh baya yang diajak bicara oleh Azka. Sri baru sadar sekarang bahwa wanita tua itu adalah sosok wanita yang hanya diam saja kala melihat tubuh dirinya dan sang putra kesayangan diseret begitu sadis oleh sekelompok orang suruhan suaminya untuk di semen di dinding sungai.
Kala itu Mbok Darmi dengan jelas mendengar dan melihat suara parau dari dirinya yang meminta tolong di dalam sebuah karung yang dibawa oleh tiga orang pria bertubuh kekar, namun Mbok Darmi justru diam saja dan tak membantunya dari kematian.
"Aku tak sudi melihat wanita berhati batu sepertinya" Sri seketika menghilang dari pandangan Azka hingga membuatnya heran dan merasa bingung.
Satu tetes air mata yang keluar dari Mbok Darmi berhasil membuat Azka terkejut. Selama ini ia mengenal Mbok Darmi, tak sekali pun perempuan itu menangis menceritakan keluarganya yang memprihatinkan. Namun kali ini Azka justru menjadi alasan wanita itu menangis untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Ku tahu Mbok mendengar suaraku dan merasa kasihan denganku. Maka dari itu tolong ungkap kematianku pada polisi dan warga sekitar. Kasih tahu mereka mbok kalau aku mati di bunuh oleh si jalan* itu dan si breng*ek Fahmi"
Lagi lagi Mbok Darmi terdiam, wanita paruh baya itu terdiam karena posisinya yang sekarang berada di tengah kerumunan mungkin akan diketahui oleh salah satu dari mereka. Mengingat tak ada satupun yang ingin berdekatan dengannya ataupun berbicara dengannya
"Apakah kau lupa akan keadaanku yang sering dijadikan sebagai kutukan oleh warga nak" ucap Mbok Darmi dengan pelan.
Wanita paruh baya itu bergumam dengan sangat pelan agar tak ada satupun yang sadar akan kehadirannya di pemakaman tersebut. Mbok Darmi hanya ingin ikut menyaksikan pemakaman pria yang selama ini memberikan pangan dan kebutuhan lainnya untuk menyambung hidup. Mbok Darmi hanya ingin ikut andil dalam proses pemakaman pria yang selama ini telah ia anggap sebagai putranya.
"Aku tak lupa mbok, aku sangat menghargaimu sebagai keluarga ku dan tak ingin kau kembali di hina bahkan diusir dari sini. Aku hanya terlalu senang dan berpikir bahwa kau akan membantu misiku untuk balas dendam"
__ADS_1
Mbok Darmi menggelengkan kepala dengan pelan. Ia datang kesini hanya untuk menaruh bunga yang sudah ia petik, untuk di taruh di atas kuburan Azka.