
Pria dengan pakaian serba hitam itu kini tengah duduk tepat di atas batu tempat jasad ia pertama kali ditemukan oleh seorang warga di kampung tersebut. Pria itu tampak beberapa kali mencelupkan tangannya ke dalam air seolah mencari sesuatu di dalam sana. Namun Naisila bahkan belum berani memanggil pria tersebut dan memilih untuk mengawasinya saja dari jauh seraya menatapnya. Hingga tak lama kemudian pria itu tiba tiba saja menoleh kearah pohon tempat Naisila duduk dan tersenyum ramah padanya.
Naisila bahkan sedikit terkejut ketika menatap pria di hadapannya dan mulai mengingat kembali nama pria yang tampak tak asing baginya. Pria itu bahkan mulai terlihat berdiri dan berjalan ke arah Naisila dan mencoba mendekat ke arah Naisila duduk. Pria itu bahkan terlihat sangat mengenal Naisila, berbeda dengan Naisila yang masih menerka nerka siapa sosok pria di hadapannya tersebut.
"Kau ternyata disini La" ucap pria itu pada Naisila dengan santai.
Sontak saja Naisila terkejut dengan ucapan pria di depannya. Pria itu bahkan kini menatap Naisila dari bawah pohon dan mencoba naik dengan cara memanjat persis seperti manusia pada umumnya.
"Kenapa kau tinggal disini La? apa kau tak bisa masuk kedalam rumahmu? apa kau tak bisa tinggal di rumah yang sudah dibangun atas jeri payahmu? tanya pria itu lagi pada Naisila.
Naisila benar benar bingung dan tak tahu harus mengatakan atau menjawab apa perkataan pria yang kini duduk di sampingnya.
"Kenapa kau diam? apa kau masih marah padaku? apa kau tak bisa menerima kenyataan bahwa cintaku tak pernah pudar bahkan setelah aku dijodohkan dan terpaksa menikah dengan wanita pilihan ibuku? maafkan aku sebelumnya jika memang lukaku benar benar membuat kau membenciku dan tak ingin melihatku lagi. Tapi kau bahkan tak pernah memberitahuku jika kau sudah menikah dan aku bahkan tak tahu jika kau sudah tiada"
"Sudah cukup jangan katakan apapun padaku. Aku bahkan tak mengenalmu dan tak tahu siapa kau. Aku kesini hanya ingin melihat siapa pria yang baru saja di temukan mati akibat bunuh diri. Dan kenapa kau terus saja membicarakan hal hal yang jelas ku tak tahu.'
Pria itu tersenyum tipis dan mulai menetap kosong ke arah depan. Ia bahkan kini mengayunkan kakinya seraya mulai menikmati malam ini bersama Naisila di atas pohon.
__ADS_1
"Entah kau memang lupa dan kehilangan ingatanmu saat tiada, ataupun kau pura pura lupa karena masih membenciku"
"Kau ini siapa? kau terus saja membicarakan omong kosong di hadapanku! aku bahkan tak tahu kau siapa!" Naisila bangkit dan bersiap untuk pergi.
Namun arwah pria itu justru menahannya untuk tak pergi dan mulai menjelaskan jati dirinya yang asli.
"Jika kau lupa maka baik. Aku akan memberitahumu idetitasku. Aku adalah Azka La. Azka, putra pertama dari keluarga Wardhana yang terkenal pintar, cerdas dan lulusan universitas luar negeri. Apa kau ingat?"
Naisila mulai mencoba mengingat ngingat nama pria tersebut dan ia pun mulai sedikit mendapatkan gambaran masa lalunya yang terhapus sejak kematiannya.
"Az...Azka. Ka....kau Azka" ucap Naisila degan terbata bata.
Naisila terdiam. Ia ingat bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Naisila yang merupakan anak yatim piatu bahkan harus hidup hanya berdua dengan sang kakak tiri yang kini justru merebut suaminya yaitu Fahmi.
Dulu Azka yang merupakan lulusan universitas di luar negeri, pulang kampung dan tak sengaja menabrak seorang wanita cantik yang sedang mengendarai sepeda di perkebunan milik ayahnya yang merupakan saudagar kaya. Azka bahkan mencintai Naisila pada pandangan pertama dan ia kerap kali mencoba mendekati gadis cantik tersebut hanya untuk menjadi teman dan lama kelamaan ia pun mulai mencintainya dan berniat untuk mempersunting nya.
Namun, latar belakang Naisila yang hanya merupakan anak seorang petani miskin dan yatim piatu, membuat ibu Azka tak merestui hubungan keduanya dan menjodohkan Azka dengan seorang putri pemilik kebun cengkeh di kampung sebrang. Azka bahkan beberapa kali menentang perjodohan ini dan meminta Naisila untuk ikut kabur dan menikah dengannya di kota nanti.
__ADS_1
Namun Naisila yang memiliki kakak tiri bersikeras untuk tetap tinggal di kampung dan tetao ingin membuat Azka sadar bahwa dirinya dan Azka menag berbeda secara finansial dan pendidikan. Naisila bahkan kerap menjauhi Azka dan memintanya untuk pergi dari rumahnya jika Azka datang dan membujuknya.
Dan akhirnya adalah, Azka harus tetap menikahi putri saudagar kaya itu karena ancaman bunuh diri yang akan ia lakukan jika sampai Azka menolaknya. Hati Naisila memang hancur berekpingan. Namun dengan cepat sang ibu Azka menjodohkan Naisila dengan salah satu pekerjanya di kebun yang tak lain adalah teman spesial kakak tirinya.
Hingga saat Azka dan istrinya pergi memulai hidup di kota, Naisila pun melangsungkan pernikahan dengan Fahmi di kampungnya tanpa di ketahui oleh Azka sendiri.
Awal pernikahan keduanya tampak bahagia dan rukun tentram. Sampai pada saat sang kakak tiri Naisila yang ingin ikut tinggal bersamanya, mulai membuat kekacauan dan keributan setiap hari dirumahnya. Fahmi dan kakak tiri Naisila terlibat cinta terlarang dibelakangnya dan mereka kerap memanfaatkan keadaan rumah Naisila yang kosong untuk memadu kasih.
Hingga saat Naisila mulai diketahui hamil oleh Fahmi dan Nindi. Keduanya bahkan mulai merencanakan pengusiran pada Naisila agar keduanya bisa leluasa tingg di rumah tersebut tanpa tawa anak kecil yang nantinya akan lahir.
"Apa kau mulai ingat denganku La?" tanya Azka dengan senyum manisnya.
Naisila terdiam. Ia kini mulai ingat denagn sosok Azka yang telah lama tak ia temui. Naisila bahkan tak tahu bahwa Azka memiliki tato elang di tangan kirinya sebab Azka selama ia kenal selalu saja memakai pakaian dengan lengan panjang dan tertutup.
"Jadi pria yang di ketahui warga bunuh diri di sungai ini adalah kamu mas?" tanya Naisila seolah tak percaya.
Azka menganggukan kepala dan mulai terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Ke...kenapa kau melakukan ini mas? kenapa kau mengakhiri hidupmu seperti ini? apa imanmu kurang sehingga kau malah berbuat nekat seperti ini?" cecar Naisila dengan menahan tangisnya.
"Aku bukanlah orang yang memilih kematianku seperti ini. Aku bahkan tak siap mati dan tak ingin mati dengan cara seperti ini. Aku masih memiliki iman dan takut akan kematian sebab ku tahu amalku masih terlalu sedikit untuk bekal La. Aku dibunuh dan pembunuhnya kau pasti sangat kenal"