
Sri menatap Melisa dengan iba dan mulai mencoba membantunya agar bisa terlihat lebih baik.
"Sekarang kau datanglah pada ayah dan ibumu. Bersimpuhlah di bawah kakinya dan meminta maaf dengan tulus. Kau hanya perlu ingat kembali kesalahan serta dosa dosa yang telah kau perbuat pada mereka dan anakmu. Kau harus menyesali setiap tindakan burukmu dengan hati yang tulus tanpa kepalsuan"
Melisa menganggukan kepala. Ia tahu benar apa saja kesalahannya yang telah ia perbuat dan ia pun tahu bagaimana harus menyesali semua tindakannya pada ibu dan ayahnya.
"Doa ibu dan ayah adalah doa yang paling tulus di dunia ini . Setega apapun kejahatan yang telah kau perbuat. Sekejam apa tindakanmu pada mereka dan seburuk apa kelakuan mu pada mereka, ibu dan ayahmu pasti akan selalu memaafkan kesalahanmu. Dia hanya mampu membenci dari mulut tanpa bisa membenciku dari hatinya. Kau tega melakukan semua itu pada mereka dan mereka senantiasa akan memaafkanmu setelahnya" Sri mulai berjalan meninggalkan Melisa yang masih duduk di atas lantai.
Melisa pun ikut bangkit dan berjalan mengikuti langkah Sri yang begitu cepat.
"Sekarang kau masuk dan peluklah ibumu serta ayahmu. Ku tahu itu tak mungkin kau lakukan tapi berusahalah sampai kau bisa menyentuhnya walaupun hanya sebentar"
Sri menatap ayah dan ibu melisa yang saat ini masih menangis merayapi jasad putrinya.
"Baiklah. Aku akan masuk. Terimakasih karena sudah membuatku sadar dan menyesali setiap perbuatanku." Melisa tersenyum dan mulai masuk kembali kedalam ruangan tempat tubuhnya terbaring.
Terlihat dari balik kaca jendela saat ini Melisa tengah berusaha untuk memeluk Ibu serta ayahnya yang masih menangis meratapi kepergiannya. dengan hati yang ikhlas dan tulus Melisa meminta maaf pada ibu dan ayahnya hingga tiba-tiba saja sang Ibu merasakan kehadirannya. sang Ibu menangis dengan tersedu-sedu saat merasakan sensasi dingin di bagian punggungnya yang tak lain adalah tangan Melisa yang mencoba untuk memeluk tubuhnya dari belakang.
Sri yang melihat pemandangan tersebut pun mulai tersenyum dan pergi menghilangkan kembali ke tempat ia berasal.
__ADS_1
di sisi lain Aryo bahkan saat ini tengah menundukkan kepala merasa ada yang aneh dengan tingkah para polisi yang ada di kantor tempat ia ditahan. hingga tak lama kemudian salah satu dari anggota tersebut memberitahu pada Aryo bahwa sang kekasihnya yang tak lain adalah Melisa sekarang sudah berada di rumah sakit dalam keadaan meninggal dunia karena bunuh diri.
Aryo pun sangat syok dan hanya bisa terdiam mendengar kenyataan pahit bahwa sang kekasih yang selama ini ia jadikan sebagai budak nafsunya telah mengakhiri hidupnya dengan tragis di dalam sel tempat ia ditahan. Aryo benar-benar telah kehilangan seluruh kebahagiaannya yang selama ini ia dapatkan baik dari orang tua keluarga maupun Melisa yang senantiasa memberikan apapun yang ia mau walaupun semua itu dengan ancaman yang ia lakukan.
Aryo benar-benar sangat sedih mendengar berita tentang kematian Melisa hingga ia pun menangis dan meraung untuk meluapkan semua rasa sakit dan sedih yang selama ini ada di dalam hatinya. Aryo benar-benar menyesali setiap tindakan yang telah ia lakukan baik itu pada Melisa maupun keluarganya sendiri.
perbuatan kedua remaja tersebut memang sangat salah dan memang sangat dilarang oleh agama maupun negara. Dan dosa yang telah mereka lakukan pasti akan mendapatkan hukuman baik itu di dunia maupun di akhirat. Terlepas dari kesalahan yang telah mereka perbuat, kedua orang tuanya tetap menyimpan rasa sayang yang telah mereka berikan selama ini walaupun kini rasa benci dan kecewa tengah bersemayam di hati keduanya.
kini Sri memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke tempat ia berasal bersama Naysila yaitu di atas pohon tempat mereka tinggal. Sri merasa sangat bersalah pada Melisa karena ia telah membuat Melisa dan Aryo ditangkap oleh warga dalam keadaan yang memalukan hingga membuat depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
"sekarang kau kenapa terlihat murung Sri?" Naysila yang baru saja melihat temannya sampai mulai bertanya dengan ragu.
Sri justru memilih untuk mengalihkan pembicaraan pada Naysila dan membahas tentang pria misterius yang kemarin malam melakukan tindakan bunuh diri di aliran sungai dekat pohon mereka tinggal.
"Emh La, aku mau bertanya sesuatu padamu" ucap Sri dengan lembut.
Naisila mengerutkan keningnya meras heran dengan tingkah laku Sri yang tiba tiba saja terasa aneh.
"Jika ingin bertanya maka tanyakan saja Sri. Kau biasanya banyak bertanya"
__ADS_1
Naisila mulai memainkan rambut dan kakinya di atas pohon tersebut.
"Aku mau tanya tentang pria misterius yang sebelumnya bunuh diri di sungai itu. Apa kau sudah tahu identitas nya?" tanya Sri dengan gugup.
Naysila terdiam ia tertegun dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sri. Naysila bukannya enggan menjawab pertanyaan Sri namun ia memilih untuk diam sebab ia merasa jika kematian Azka tak terlalu penting untuknya ataupun untuk Sri.
"Aku tak tahu siapa dia Sri" jawab Naisila pelan.
Sri mulai menatap wajah Naisila yang terlihat murung dan sedih. Sri bakan tahu jika sahabatnya itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"katakan saja La siapa dia sebenarnya. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku dan aku pun tahu identitas dari pria yang kemarin bunuh diri. Aku sengaja ingin membuatmu tahu sendiri tentang identitas pria misterius itu sebab aku pernah melihatmu dan pria itu bersama dulu saat berada di pasar. Dan saat itu kulihat Kau tampak bahagia berada di samping pria itu. Dia adalah putra satu-satunya dari saudagar kaya yang ada di kampung kita kan La?"
Naysila langsung menatap Sri dengan tatapan terkejut. Naysila bahkan tak pernah merasa bahwa dirinya pernah bertemu Sri sebelumnya selama ia masih hidup menjadi seorang manusia.
"bagaimana mungkin engkau melihatku Sri sedangkan aku bahkan tak pernah melihatmu sebelumnya?" tanya Naisila dengan heran.
Sri tersenyum dengan manis.
"Dulu kita memang tak pernah saling bertegur sapa La. Aku bahkan tak pernah ingin mengenalmu sebelumnya sebab aku pun sibuk dengan hidupku dan juga putraku. Aku hanya kebetulan melihatmu di pasar saat sedang bersama pria itu disebuah toko aksesoris yang kebetulan sekali putraku pun sedang memilih aksesoris di toko tersebut"
__ADS_1
Naisila kembali teringat masa masa indahnya saat bersama dengan Azka. Ia benar benar tak tahu jika semua mata orang akan memandang dirinya yang saat itu tengah berjalan jalan mencari angin bersama Azka di dekat pasar.