Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Siapa


__ADS_3

Tak berselang lama, berita tentang kematian seorang pria bertato elang di tangan kirinya itu mulai tersebar luas di kampung tersebut. Banyak sekali kejadian aneh yang menimpa mayat tersebut saat hendak di evakuasi oleh tim sar di dasar sungai. Selain berat badan dari pria tersebut cukup berat. Bau busuk yang begitu menusuk di hidung membuat seluruh warga yang menyaksikan pun ikut tak kuasa walaupun masih penasaran.


"Lihatlah bola matanya yang membesar dan wajahnya yang hampir busuk. Pria itu benar benar mati dengan sangat mengenasakan ya. Dia bahkan memilih kematiannya sendiri dengan cara seperti ini" ucap salah satu warga yang melawati pohon tempat Sri dan Naisila tinggal.


Sri bahkan kembali teringat wajah rusak dari pria misterius itu yang sulit sekali di kenali akibat membusuk dan kedua bola matanya yang hampir keluar.


"Kau melihat mayatnya tidak Sri?" tanya Naisila penasaran.


"Aku tak tau Sil. Aku hanya melihatnya sekilas dan aku pun tak melihat arwah pria itu ada di samping mayatnya. Aku bahkan degan jelas melihat bagaimana busuknya wajah pria itu. ihhh, sekali melihat aku bahkan teringat kembali semengerikan apa sosok nya jika jadi set*n Sil" terang Sri dengan jelas.


"Kau juga sangat menakutkan Sri jika kau kembali ke wujud aslimu. Kau bahkan sangat terlihat menyedihkan dengan gigimu yang tersisa hanya beberapa biji saja dan itu pun mulai menghitam."


Sri segera menepuk pelan pundak Naisila dengan geram.


"Kau bahkan memiliki wajah yang robek dan kening yang berlubang akibat pukulan. Rambutmu yang panjang dan kusut bahkan sangat membuatku ingin tertawa sebab kau tampak seperti pohon beringin yang ada di ujung jalan raya ini"


"Kau tahu kan bagaimana kerasnya pukulan dan siksaan si kepara* itu padaku Sil. Pipiku saja hampir tak bertulang akibat siksaan dari kedua ibl* berwujud manusia itu" Sri membalas candaan Naisila dengan santai.


Padahal jika ingat kembali pada saat saat dimana dirinya di siksa dan dibunuh secara keji oleh suaminya, Sri bahkan sangat sakit hati dan sedih. Namun kini setelah kematian dari wanita penggoda dan kegilaan pada suaminya, Sri kini mulai lupa dengan rasa sakit di hatinya akibat ia pun sudah mulai merasa lega dengan dendamnya yang sudah usai.


"Emh Sri, bisakah aku melihat tempat pria misterius itu mati bunuh diri?" tanya Naisila dengan pelan.

__ADS_1


Sontak saja Sri menatap Naisila dengan heran sebab tak seperti biasanya Sila yang ia kenal sangat penasaran dengan sosok pria tersebut


"Apa yang ingin kau ketahui Sil? apa kau ingin melihat bagaiamana hancurnya wajah dia? atau kau penasaran dengan hantu pria yang mungkin saat ini sedang bergentayangan?"


"Ish kau ini Sri. Aku hanya ingin tahu saja dimana pria itu mati dan apakah dia menjadi sosok hantu gentayangan seperti kita? toh kita saja mati di bunuh menjadi hantu penasaran dan tak tahu cara bisa kembali dengan tenang padahal dendam kau pun Sri sudah terbalaskan. Lalu aku ingin tahu, apakah pria itu juga sama gentayangan seperti kita sebab dia bahkan mati karena sudah bosan hidup"


"Iya ya, kau benar Sil. Aku pun saat tahu aku mati, aku sangat ingin hidup kembali dan tak terima dengan kenyataan pahit bahwa nyawaku telah terpisah dari ragaku sendiri. Kita yang mati dibunuh saja ingin hidup, lalu kenapa pria bodoh itu mengakhiri hidupnya dan ingin menjadi set*n seperti kita? dasar pria aneh"


Sri terus saja bergumam dengan kesal. Hingga Naisila pun pergi meninggalkannya sendirian.


"Dasar set*n tak tahu diri! kau malah pergi meninggalkan aku sendirian disini !" Sri pergi menyusul Naisila yang pergi terlebih dahulu ke dekat sungai.


Naisila bahkan kini mulai mencoba mencium bau anyir darah bekas orang tersebut bunuh diri, namun anehnya hidung Naisila bahkan tak bisa mencium dengan pasti letak jatuhnya pria misterius itu.


"Ya ini tempatnya. Dan tuh lihat, bebatuan yang membentuk kurung itu adalah tempat jasadnya ditemukan. Pria itu benar benar mati dengan keadaan mengenaskan dengan kepala yang hampir hancur mungkin akibat benturan"


"Emh, tapi anehnya aku bahkan tak mencium aroma darah dari seseorang disini Sri. Apa mungkin dia mati bukan karena bunuh diri, melainkan dibunuh seseorang?"


"Aku pun tak tahu Nai. Aku bahkan tak ada saat peia itu jatuh ataupun di buang. Lagi pula kenapa kau sangat penasaan dengan sosok ini sih. Apa kau memiliki kenalan pria bertato elang saat masih hidup?" tanya Sri pada Naisila dengan penasaran.


Naisila hanya mampu terdiam. Ia juga tak tahu dengan alasan kenapa ia sangat tertarik denga identitas pria yang menunggal di sungai tersebut padahal iatak tahu siapa pun yang memiliki tato elang semasa hidupnya. Namun mungkin saja beberapa ingatan saat ia masih hidup telah hilang sebagian bersamaan dengan jati dirinya yang berubah menjadi seirang arwah.

__ADS_1


"Mungkin saja aku mengenal pria ini saat aku masih hidup Sri. Aku ingin sekali melihat wujud pria yang mati ini walaupun dengan wajahnya yang hancur" jelas Naisila dengan pelan.


"Ya sudah, kau tunggu saja dia di atas pohon bambu ini. Aku akan pergi menakuti orang malam ini di pos ronda. Kebetulan malam ini Pak Kasim akan bertugas untuk menjaga keamanan kampung.


Naisila bahkan mengernyitkan alis mendengar ucapan Sri.


"Kenapa kau sangat tertarik dengan Pak Kasim Sri? apa jangan jangan kau suka dengan pria tua bangka itu?" ejek Naisila dengan tawanya.


"Aku bukan menyukai pri berkumis tebal itu Sil. Aku hanya ungin membalas budi baiknya sebab tak pernah sedikit pun narah dengan tindakanku yang sekalu mencuri ayam ayam ternak miliknya di kandang. Aku hanya ingin menemaninya di pos ronda, itu g itung sebagai ucapan terimakasih saja"


Naisila tersenyum menatap sahabatnya yang kini mulai memainkan rambut kusutnya.


"Ya sudah kau pergi saja sana. Aku akan menginap malam ini di pohon bambu ini sendirian" jelas Naisila pada Sri.


"Baiklah kalau itu maumu Sil. Aku akan pergi bertemu yayang Kosim dulu ya. Dadah. Hihihihi" Sri terbang dengan taeanya yang menggema di saat senja mulai datang di kampung ini.


Naisila bahkan mulai pergi ke posisi ternyamannya di atas pohon bambu dekat jembatan tempat jasad pria misterius itu di temukan. Hingga beberapa saat kemudian senja pun mulai terlihat menampilkan sinar jingganya yang menghiasi angkasa.


Naisila dengan sabar menunggu kedatangan sosok misterius pria yang mati bunuh diri di jembatan tersebut. Bahkan sesekali Naisila bersenandung riang di atas pohon untuk memecah kesunyian malam ini di tempat tersebut. Hingga saat dirinya tengah menyisir rambut dengan tangannya, terlihat bayangan hitam mulai semakin jelas di atas bebatuan tempat pria misterius yang Sri katakan mati ditemukan.


Bayangan hitam legam itu perlahan mulai tampak dengan jelas dan kini berubah menjadi sosok pria yang sedang duduk menatap air tenang di hadapannya. Naisila bahkan mencoba menajamkan pandangannya agar bisa jelas menatap wajah pria tersebut.

__ADS_1


"Siapa dia" gumam Naisila dengan pelan.


__ADS_2