Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Senang


__ADS_3

Naisila menutup mulut mendengar ucapan Azka. Ia bahkan tak menyangka bahwa kematian Azka dilakukan oleh orang yang ia kenal.


"Siapa orang yang sudah melakukan ini padamu?" tanya Naisila penasaran.


"Aku takan memberitahumu La. Biarkan aku yang membalaskan semua ini pada si kepar* itu. Aku tak ingin kau ikut dalam masalah yang menimpaku sebab orang tersebut memiliki ikatan kuat dengan para orang bodoh"


Naisila terdiam. Ia benar benar terkejut dengan kehadiran Azka yang kini telah menjadi seorang arwah penasaran sepertinya. Terlebih lagi Azka adalah pria yang baik dan tampan sehingga siapapun yang mengenal dirinya pasti akan jatuh hati dan berteman dengannya.


"Lalu, kemana istrimu mas? apa dia tahu bahwa kau sudah mati?"


Azka terdiam ia tak ingin menjawab pertanyaan Naisila mengenai istrinya yang sudah lama pergi dengan kekasih barunya. Azka bahkan ingat betul dengan sang istri yang lebih memilih pria pengangguran untuk berkencan dan memilih mengakhiri hubungan dengannya yang sudah jelas jelas mapan dan berwibawa.


"Emh. ngomong ngomong kau sudah lama disini La" tanya Azka mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah lama seperti ini mas. Kau bahkan bisa lihat perutku yang besar dan menggantung seperti ini. Aku bahkan tak bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu sebab nyawa anakku sudah direnggut paksa oleh ayahnya sendiri"


Azka mengerutkan kening, mencoba mencerna ucapan dari mantan kekasihnya.


"Maksudmu La?" tanya Azka penasaran.


Dengan senyumnya yang manis, Naisila mulai menceritakan kisah kelamnya dengan sang suami dan kakak tirinya. ia bahkan menceritakan betapa keji dan kejamnya kedua manusia itu yang tega membunuh dirinya saat tengah mengadung seperti ini.


"Kau bahkan bisa merasakan bagaimana sakitnya ketika ajal menjemputmu kan mas? itu pun sama ku rasakan saat beberaoa kali Mas Fahmi dan Mbak Nindi menendang perutku yang besar hingga darah tak henti hentinya keluar dari sela sela kakiku yang sudah menegang menahan sakit"


Azka sungguh tak tahu kematian Naisila setragis ini. Ia bahkan hanya tahu bahwa Naisila mati karena pendarahan hebat saat hamil dan warga pun hanya tahu bahwa Naisila di rampok di dalam rumahnya ketika sendirian.

__ADS_1


Tak ada warga satu pun yang menyangka dan curiga pada Fahmi dan Nindi. Bahkan mereka sibuk menjodohkan keduanya yang tampak begitu sedih dan terpukul saat pemakaman Naisila dilangsungkan.


"Aku tahu ibuku sangat membencimu. Tapi aku tak tahu bahwa dengan ibuku menikahkan dan menjodohkanmu dengan Fahmi, nasibmu akan setragis ini La"


Azka menundukan kepala dan mulai mencoba menahan kesedihan di hatinya. Ia bahkan ingin sekali bersanding dan menjaga Naisila, namun Fahmi justru bertindak sekeji ini dan membuat wanita yang dulu pernah ia cintai mati dengan cara yang sangat kejam.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan setelah menjadi arwah ?" tanya Naisila dengan dingin.


"Aku hanya ingin membalaskan dendam pada pembunuhku dan tentunya ingin membalaskan semua rasa sakit yang aku alami. Aku bahkan tak pernah berfikir bahwa tubuhku yang sehat dan bugar akan di temukan dengan keadaan yang sangat busuk dan mengkhawatirkan. Aku juga sempat tak menerima kenyataan bahwa diriku telah mati. Aku juga beberapa kali mencoba untuk mengikuti para tenaga medis yang membawa jasadku agar mereka mau membantuku. Namun, alih alih mendapatkan pertolongan, mereka malah berlari, berteriak dan mencoba mengusirku dengan ayat ayat yang kini sangat menyakitkan jika terdengar"


Tak bisa di pungkiri memang kini ayat ayat suci yang dulu sering di bacakan baik oleh Naisila ataupun Azka justru kini sangat menyakitkan jika terdengar. Mereka bahkan sangat takut jika melihat orang yang berniat pergi untuk beribadah ke masjid dan akan segera bersembunyi jika waktu shalat akan tiba.


"Sekarang aku hanya bisa diam dan meratapi nasibku yang entah harus bagaimana ku mulai lagi. Aku bingung dan tak tahu arah untuk pulang. Namun kebencian serta rasa dendam di hatiku kian hari kian bertambah apalagi jika mengingat bagaimana sadisnya mereka memukul dan membenturkan kepalaku"


"Pada awalnya aku pun sama sepertimu mas. Aku bingung, aku sedih, aku bahkan tak tahu jika aku sudah mati. Aku tak bisa mempercayai bahwa cintaku justru membawa petaka dan kematianku sendiri. Aku bahkan kerap menangis meratapi nasibku yang sangat menyedihkan. Hingga aku pun mulai mencoba menerima nasibku ini dan mulai mencari kesenanganku tersendiri di dunia baruku"


********


Hari ini salah hari pertama pertemuan antara Azka dan Naisila setelah terpisahkan beberapa tahun silam. Keduanya saling bertukar pikiran dan saling bertukar cerita satu sama lain untuk menghilangkan rasa gundah di hatinya masing masing.


Hingga tak lama kemudian, pagi pun telah menampakan sinarnya yang cerah dan menghangatkan. Inilah waktunya untuk Azka pergi sebab sebentar lagi jasadnya akan di otopsi oleh beberapa tenaga medis untuk mengetahui bagaimana ia bisa mati dan berapa lama ia sudah berada didalam sungai tempat jasadnya di temukan.


"Aku pergi La. Kau jaga dirimu baik baik. Walaupun kau bukan manusia lagi. Tapi setidaknya kau harus tetap berusaha membalaskan dendam mu pada keduanya dan ingatlah selalu bahwa tuhan itu ada dan kau akan kembali pada masanya nanti. Aku pamit"


Sosok Azka perlahan lahan mulai pudar dan menghilang. Naisila bahkan tak tahu kemana pria itu akan pergi dan siapa orang yang sudah tega membunuh orang sebaiknya. Sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali pergi ke pohon tempatnya tinggal dan memberitahu tentang Azka pada Sri yang mungkin saat ini tengah menunggunya pulang.

__ADS_1


Dengan rambutnya yang kusut serta tangannya yang terlihat begitu panjang, Sri kini tengah mencoba meraih sesuatu dari balik ranting pepohonan tempatnya berdiri.


"Sri ! sedang apa kau di sana?! teriak Naisila dengan kencang.


Sri yang tengah sibuk pun hanya menatap sahabatnya itu sekilas dan mulai kembali meraih sesuatu dibalik pohon tersebut.


Naisila bahkan mulai menghampiri sahabatnya dan duduk seraya memperhatikan benda yang sedang di raih oleh Sri di atas pohon tersebut.


"Kau ini tuli Sri?! sejak tadi aku bertanya padamu dan kau hanya menatapku dengan bisu"


Sri kemudian berhasil mengambil bungkusan putih di atas pohon tersebut dan mulai duduk di samping Naisila. Ia bahkan terlihat tertawa bahagia ketika mendapatkan sesuatu bungkusan putih yang cukup kecil itu di tangannya.


"Apa itu Sri? cepat buka!"


Naisila mencoba meraih bungkusan putih di tangan sahabatnya tersebut. Namun dengan cepat Sri mencoba menjauhkannya dan membuka bungkusan itu dengan riangnya.


"Akhirnya aku bisa mendapatkan ini lagi La" ucap Sri girang.


"Itu apa Sri, beritahu aku apa itu"


Sri mulai merogoh bungkusan putih di tangannya dan menjulurkan sebuah kain putih dengan ikatan yang menyerupai pocong pada Naisila.


"Lihat ini La. Aku baru saja menemukan jain yang dibuang seseorang di dalam tong sampah. Dan saat aku hendak membawanya ke atas pohon, bungkusan itu malah tersangkut dengan kuat pada dahan dahan pohon yang mulai rimbun"


Terlihat jelas oleh Naisila sesosok janin kecil yang masih merah tengah meringkuk di genggaman Sri. Naisila bahkan tak kuasa saat melihat tangan dan kaki sang bayi yang sudah terlepas dari posisinya.

__ADS_1


__ADS_2