
Naisila terdiam..Ia benar benar sedih mendengar tentang kematian gadis remaja itu. Namun ia pun tak bisa berbuat apapun sebab ini mungkin takdir yang sudah ada pada diri gadis tersebut.
Entahlah, saat ini Naisila bahkan tak tahu bagaimana rasanya memilih kematian sendiri dengan cara yang mengerikan. Ia bahkan ingin kembali hidup setelah di lenyapkan oleh suami serta kakak tirinya sendiri.
"Sekarang Sri, kau mau kemana? apakah kau ingin menemui gadis yang sudah kau takuti itu? kau bahkan membuatnya tertangkap dan menderita sekarang" Naisila tersenyum mengejek Sri.
Namun, Sri bahkan terdiam dan mulai mengingat sesuatu yang telah terjadi padanya.
"Aku bahkan tak berniat untuk membuatnya melakukan hal ini La. Dia sendiri yang ingin mengakhiri hidupnya setelah ketahuan. Aku bahkan menghukumnya hanya agar dia bertaubat dan kembali pada jalan yang benar. Tapi dia malah berbuat seperti ini dan mengakhiri hidupnya tanpa aku minta. Aku bingung La, apa ini salahku atau bukan" Sri menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
Ia benar benar bingung dengan tindakannya sebab ia pun tak berniat membuat Melisa memilih untuk bunuh diri.
"Sekarang kau temui saja gadis itu dan beritahu kenapa dia melakukan hal seperti ini padahal mengakhiri hidup bukanlah penyelesaian masalah. Justru dengan mengakhiri hidupnya sendiri, dia malah mempersulit kehidupannya sebab tak ada lagi cara untuk dia menyelesaikannya. Dulu saat ia hidup, ia ingin mati. Lalu sekarang setelah mati dia ingin hidup. Kan aneh Sri"
Sri hanya menganggukan kepala. Ia mulai berfikir bagaimana cara agar dirinya bisa kembali ke pada penguasa alam dan bisa bersatu kembali dengan putranya. Ia benar benar tak mengira bahwa dengan menyelesaikan dendam nya pada suami serta beberapa pria yang ikut membunuhnya, ia sampai kini belum bisa kembali.
"Aku pergi dulu La. Aku ingin bertemu dengan gadis bodo* itu dan membuatnya ketakutan"
Sri kemudian terbang dan menghilang dari pandangan Naisila. Sri bahkan tak perlu waktu yang lama untuk bisa sampai di rumah sakit tempat gadis remaja itu berada sekarang setelah menjadi arwah.
__ADS_1
Sri dengan santainya masuk menembus pintu dan menatap sekelilingnya yang terasa sangat biasa saja. Banyak sekali arwah arwah yang bergentayangan sebab urusan mereka di dunia ini bekum selesai sama sepertinya. Namun Sri tertarik dengan arwah Melisa yang baru saja ia temui kemarin dalam keadaan masih hidup .
Sri mendengar jeritan dan tangisan dari beberapa pasien yang terdengar sangat pilu dan menyedihkan. Dan ia pun mendengar beberapa kali arwah anak kecil berlaku lalang bermain ke sana kemari dengan lincahnya tanpa ketakutan dalam hati mereka.
Sri tersenyum tipis kala melihat anak kecil yang kini sudah tak lagi menjadi serang manusia, berlarian dan tertawa bersama dengan yang lainnya. Sri bahkan ingin sekali memeluk mereka karena teringat dengan putra kecilnya yang sudah lama tiada.
Mata Sri kini terpikat dengan ruangan yang penuh sekali diisi oleh beberapa petugas berseragam coklat didalamnya. Sri tahu bahwa ruangan itu adalah tempat dimana jasad melisa berada dania ingin sekali bertemu dengan arwah gadis belia tersebut.
"Ku tahu kau bisa merasakan kehadiranku" gumam Sri dengan pelan.
Sri menatap arwah Melisa yang ada didalam dari luar jendela. Arwah itu bahkan kini sedang berusaha memeluk tubuh kedua orang tuanya dengan bagian kaki yang hampir putus dan terlihat darah segar berbau busuk terus keluar dari sela sela kakinya yang kini dalam posisi duduk di atas lantai.
Melisa menatap Sri yang saat ini tengah menatap kearahnya dan kemudian dengan segera menunduk karena merasa takut.
"Ikut aku sekarang!" Sri membentak arwah Melisa dan segera meyeretnya keluar dengan darah yang terus merembes dari sela kakinya.
"Kau mau bawa aku kemana? tolong lepaskan aku ! ibu ayah! tolong aku!" Melisa berusaha meraih tubuh sang ibu, namun dengan cepat Sri bahkan menarik gadis itu hingga keluar ruangan.
Sri membawa tubuh Melisa menuju ruangan yang sangat sepi dan sunyi. Ia benar benar tak tahu harus mengatakan apa pada sang gadis mengingat kini mereka telah berada di dunia yang sama dan dalam keadaan yang sama.
__ADS_1
"Apa kau sudah senang setelah menjadi hantu sepertiku ? hihihihi!' Sri tertawa hingga memekakan telinga.
Melisa bahkan seketika menutup telinganya yang terasa sakit akibat mendengar tawa yang keluar dari mulut Sri.
"Kumohon jauhi aku. Aku ingin kembali pada ibuku! aku ingin bersama ayah! kumohon tinggalkan aku!" Melisa memohon pada Sri agar Sri pergi dari pandangannya.
"Aku takan bisa pergi darimu Melisa. Kau bahkan sangatlah berdosa pada janin yang telah kau bunuh! kau ingatkan bagaimana teganya kau melenyapkan bayimu yang tak berdosa dan membuangnya begitu saja seperti sampah! oh jika kau belum ingat lalu aku akan beritahu mu sekarang. Apa kau ingat saat kau menikmati setiap permainan kekasihmu kemarin di dalam gubug?" Sri tertawa dengan keras hingga membuat Melisa semakin ketakutan.
Melisa bahkan tahu bagaimana menjijikannya tingkah dirinya sendiri saat bersama Aryo dan kini ia benar benar menyesali setiap perbuatannya.
"Kau menyesal dan aku ingin kembali! aku sudah tahu letak kesalahanku dan aku tak ingin mati! kumohon bantu aku untuk hidup kembali! kumohon!"
Melisa memeluk kaki Sri yang terasa begitu dingin. Melisa bahkan telah sadar akan posisinya di dunia ini yang tak lain adakah seorang arwah penasaran yang memiliki rasa sedih dan Kemalangan.
"Bukannya kau ingin mati? lalu kenapa sekarang kau ingin hidup?apa kau menyesak menjadi hantu?" tanya Sri seolah mengejek.
"Ya aku menyesal! aku menyesal karena sudah memilih jalan yang salah! aku menyesal karena sudah memberikan kehormatan ku pada pria yang hanya menginginkan kenikmatan saja! Dan aku pun menyesal karena sudah membunuh bayiku yang tak bersalah!"
Derai air mata Melisa begitu banyak. Jeritan serta rintihannya bahkan terdengar sangat pilu hingga membuat Sri merasa sedikit iba.
__ADS_1
"Kenapa kau malah mengakhiri hidupmu saat tahu bahwa kau melakukan kesalahan besar seperti ini?! kenapa kau malah memilih kematian sebagai jalan penyelesaian masalah tanpa berpikir terlebih dahulu? sekarang kau menyesal dan ingin hidup kembali. ini sudah terlambat. Kau benar benar terlambat. Kau bahkan bukannya bertaubat malah membuat hal yang mengerikan seperti ini! lihat! lihatlah betapa mengenaskannya dirimu sekarang" Sri menunjuk tangan Melisa yang menggantung dan hampir terputus.
Melisa hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang semakin buruk. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa agar tangannya bisa kembali seperti semula dan rasa sakit yang ia alami sedikit bisa terobati.