
Hari ini salah hari yang paling menyakitkan bagi Melisa. Ia tahu bahwa dirinya salah dan kesalahannya sangatlah besar Ayah dan ibunya berhak marah dan kecewa padanya, namun ia tak tahu bahwa aib ini akan terbuka dan terbongkar. Melisa hanya bisa menangis sesegukan dalam keadaan hati dan raga yang hancur.
ia benar benar membuat kesalahan yang fatal dimulai ketika ia memulai hubungan mengerikan ini dengan Aryo, dan lagi ia malah mau melakukan hal yang terlarang bersama kekasihnya itu setelah mendapatkan ancaman dari kekasihnya. Namun ia pun sadar bahwa kesalahannya takan mungkin terjadi jika ia tak pacaran . Terlebih lagi ketika ia tahu tentang kehamilannya ia malah mengugurkan bayi yang tak bersalah itu dan membuangnya begitu saja.
Bayi tak bersalah itu harus meregang nyawa di tangan ibunya sendiri. Melisa menyesal dengan perbuatannya, namun terlambat. Ia kini harus menanggung malu dan dikucilkan orang sekitar. Ia bahkan tak diakui sebagai anak oleh orang tuanya yang selama ini telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Dadar anak kurang ajar! berani beraninya mencoreng nama baik keluarga kita yang selama ini di bangun dengan susah payah! jika kau memang ingin menikah maka katakan. Ayah tak harus menyekolahkan mu dan mati matian memberikan uang untukmu sekolah! kau hanya membuat onar dan malu saja!" Ayah Aryo murka dan beberapa kali menampar putra semata wayangnya namun di tahan oleh sang istri.
Ayah Aryo bahkan sangat sedih ketika tahu putranya telah bergaul sejauh ini. Ia bahkan tak pernah tahu jika putranya bisa melewati batas wajar seorang remaja. Ia benar benar tak menyangka bahwa putranya bisa seperti ini.
"Kau seorang pria tapi kelakuanmu seperti pecundang! kau mengancam wanita polos untuk menyalurkan hasrat bejatmu dan menyuruhnya untuk mengugurkan bayi hasil dari hubungan kalian! hah! yang benar saja!"
Plak!
Ayah Aryo kembali menamparnya. Para polisi hanya mampu meredam kemarahan ayahnya dengan mencoba menjauhkannya sebentar sebab ini adalah urusan keluarga. Namun mereka pun tak bisa membiarkan Ayah Aryo terus melakukan kekerasan terhadap putranya .
__ADS_1
"Hari ini aku putuskan kau bukanlah anakku. Kau bahkna bukan darah dagingku. Kau anak yang aku angkat dari panti asuhan dan selama ini aku menyembunyikan fakta ini agar kau tak kecewa dan patah hati. Tapi justru kau yabg sudah mematahkan hatiku dan menghancurkan semua kebahagianku karena telah memilikimu"
Ibu Aryo bahkan memegang wajah putranya dan menggeleng untuk menyangkal ucapan suaminya. Namun Aryo yang terkejut hanya bisa terdiam. Aryo tahu bahwa semua ucaoan Ayahnya memang benar sebab selama ini sang ayah tak pernah berbohong tentang hal apapun.
Aryo benar benar telah kehilangan segalanya. Semua kelakuannya kini terbalas dengan spontan. Ia bahkan sekarang tahu bahwa dirinya bukanlah anak dari ayah yang selama ini membiarkannya semua apapun yang ia inginkan.
"ini kebenaran atau ?"
Belum selesai Aryo berbicara sang ayah bahkan memilih meninggalkan kantor polisi karena menahan malu. Ia benar benar kecewa dengan tindakan putranya yang telah kelewat batas. Ia juga gak mengira jika akan di permalukan oleh anak angkatnya yang selama ini ia sayangi seperti putranya sendiri.
Aryo menangis dan mulai menyesali perbuatannya, ia kini hanya bisa menunduk dan meratapi nasibnya yang telah hancur. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa mengingat kesalahannya terlalu besar dan ia pun pantas untuk di buang dan di hukum.
Melisa menatap Arto yang kini tengah menangis. Ia tahu bahwa semua ini berawal dari Aryo dan ia pun tak tahu kini harus menyalahkan Aryo ataupun dirinya sendiri. Hingga tak lama kemudian para petugas kepolisian mulai membawanya keduanya ke sel terpisah untuk di lakukan penindak lanjutan atas tindakan keduanya.
"Skearang kalian ikut kami untuk dilakukan pemeriksaan terhadap kasus janin yang kalian buang dan tentunya untuk kasus melakukan tindakan tida terpuji"
__ADS_1
Malisa kini harus mendekam di jeruji besi untuk mendapatkan penyuluhan oleh para anggota. Mereka bahkan membuat Melisa sadar akan tindakan kriminal yang telah ia lakukan selama ini.
Kini Melisa meratapi masa depannya yang telah hancur. Ia bakan malu untuk menampilkan mukanya di depan umum dan ia pun malu untuk hidup kembali di masyarakat setelah kejadian ini.
Kini Melisa meringkuk di dalam sel dengan tatapan kosong. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa hingga pilirannya menjadi kacau. Bahkan ketika salah satu polisi memberikannya makanan, ia hanya menatapnya dan tak ingin menyentuhnya sedikitpun. Ia kini tengah diliputi rasa bersalah pada kedua orang tuanya dan ia pun menjadi sangat tertekan. Dipikirannya hanya satu, yaitu dengan kematianlah dirinya akan selamat dan takan mendapatkan beban moril apapun.
Melisa mengambil gelas kaca yang ada di hadapannya dan mulai memecahkannya. Para polisi yang mendengar keributan di sel Melisa pun berdatangan untuk melihat kelakuan remaja itu. Namun alangkah terkejutnya ketika mereka melihat pemandangan mengerika Melisa yang terkula lemas dengan tangan yang telah di sayat oeh pecahan gelas di tanganya.
Sayatan itu cukup dalam hingga darah segar mengalir deras di atas lantai tahanan. Para polisi yang panik segera membawa tubuh Melisa untuk mendapatkan perawatan. Namun tubuh remaja itu terasa sangat dingin dan pucat sehingga saat sampai di pusat pelayanan kesehatan, dokter yang menanganinya menggelangkan kepal pelan seolah berkata bahwa nyawa sang gadis remaja sudah tak ada.
Sontak saja polisi yang tahu akan hal itu terkejut dan segera menghubungi keluarga Melisa. Kedua orang tua gadis itu cukup marah ketika para polisi menelponnya sebab mereka sudah lepas tangan dengan putrinya. Namun ketika mendengar tentang kondisi sang putri yang bun*uh diri, keduanya justru berteriak menangis dan panggilan telpon pun terputus.
Seburuk apapun tindakan yang telah dilakukan sang putri, serta sejauh apapun orang tua ingin membuang rasa sayangnya pada sang anak, mereka tetaplah orag pertama yang sangat berduka ketika mendengar pernyataan bahwa sang ank telah pergi untuk selamanya. Selang beberapa jam, kedua orang tua Melisa sampai di rumah sakit tempat keberadaan jasad sang putri dan akhirnya mereka lun luruh jatuh kelantai bersamaan dengan tangisnya yang terdengar memilukan. Mereka benar benar tak tau harus berbuat apa mengingat rasa benci pada Melisa masih bisa terkalahkan oleh rasa sayang yang ada di hati keduanya.
Tatapan kosong dari kedua orang tua Melisa begitu menyayat hati setiap orang yang ada di tempat tersebut. Hingga jerit tangis keduanya cukup terdengar pilu.
__ADS_1