Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Tega


__ADS_3

"Sungguh tega kamu Sri! kau jahat! kau bahkan tak punya hati dengan memperlakukan janin seperti itu!" Naisila menjauhkan posisi duduknya dari Sri.


Ia benar benar marah dan tak suka degan tindakan Sri yang begitu kasar memperlakukan janin yang sudah meninggal tersebut.


"Aku bahkan tak melakukan apun La. Aku menemukan ini di tempat sampah dan aku membawanya hanya untuk menyimpannya saja. Aku bahkan tak ingin memakannya ataupun menelannya. Kenapa kau seperti itu padaku?"


Naisila terdiam. Ia benar benar tak bisa menahan emosinya kala melihat janin yang masih merah telah tega dihabisi oleh sang ibu yang mengandungnya. Naisila bahkan tahu bahwa bayi itu mungkin bayi yang tak pernah di harapkan oleh si empunya dan ibu sang bayi tersebut membunuh bayi tersebut dengan cara menggugurkannya dan membuangnya ke tempat sampah.


"Aku sedang hamil besar dan aku mati karena di bunuh oleh si baji**n itu! aku bahkan menunggu kelahiran anakku ini dan tetap membiarkannya bergerak di dalam perutku walaupun tak tahu sampai kapan dia akan terus berada didalam kandunganku. Betapa sakitnya hati ini ketika melihat bayi tak berdosa harus di perlakukan semengerikan ini apalagi oleh orang yang suatu saat nanti akan di panggil ibu oleh anaknya yang lain. Setidaknya jika dia tak ingin hamil maka jangan lakukan zina dengan pria yang bukan suaminya. Si jala*ng itu hanya ingin enaknya saja tanpa mau menerima hasil dari perbuatannya sendiri". Naisila tampak sangat marah dengan matanya yang kian memerah bak seperti darah.


Perasaan keibuannya muncul ketika melihat bayi tak berdosa di tangan Sri itu terlihat sagat mengenaskan.


"Aku pun membawa janin ini karena ingin menaruhnya di tempat yang aman dan baik. Aku hanya ingin menaruh janin ini di tempat yang seharusnya dan sebaiknya. Aku ingin menguburkan bayi ini La namun tak bisa. Jadi aku berusaha membawanya agar dia tak kehujanan dan dimakan oleh serangga dan hewan liar"


"Jika begitu maka taruhlah janin itu kembali dalam bungkusannya dan simpan dia di depan rumah salah satu warga yang mungkin kau curigai ibu sang bayi. Aku yakin dia pasti masih ada disekitar sini sebab dia tampak begitu lihai membuang bayi itu di tumpukan sampah dan hanya di masukan dalam kantong kain putih saja. Kau enduslah bau darah yang ada disekitar sini dan kau pastikan dia adalah pelaku pembuangan bayi tersebut" Naisila mulai memerintah Sri dan Sri pun mulai pergi berkeliling kampung.


Saat ini Naisila bahkan mulai merasakan adanya pergerakan di dalam perutnya namun tetap saja sang bayi tak kunjung keluar dari tempatnya. Naisila bahkan mulai sadar bahwa pergerakan didalam perutnya bukanlah dari sang bayi, melainkan dari ingatan ingatan di dalam memori otaknya yang menjadi sebuah khayalan dan energi.


"Andai saja aku masih hidup, aku pasti saat ini bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu" gumam Naisila dengan pelan.


*******

__ADS_1


Harum darah dari seorang wanita yang datang bulan dan dalam masa nifas sungguh berbeda. Sri bahkan bisa merasakan wangi darah yang segar itu dari jarak yang cukup jauh.


Sri kini mulai mencari sosok ibu tak bertanggung jawab yang tega membunuh serta membuang bayinya begitu saja di tempat sampah. Sri bahkan mulai merencanakan sesuatu untuk menakut nakuti sang ibu kandung yang tega melakukan hal keji pada bayinya tersebut.


Sampai saat Sri melewati sebuah kosan para gadis di komplek tersebut, Sri mencium aroma darah yang sangat segar dan ia pun dapat mengenali bahwa darah itu berasal dari wanita yang baru saja melahirkan.


Sri mulai diam di atas pohon yang rimbun dan memperhatikan setiap gadis yang berlalu pergi dan masuk ke dalam kosannya.


Hingga tak lama kemudian, mata Sri mulai tertuju pada seorang wnaita yang terlihat sangat pucat sedang bercengkrama dengan seorang pria di parkiran kosan itu.


"Ku rasa dia adalah ibu dari janin ini" gumam Sri seraya mulai membuntuti motor yang kini pergi entah kemana.


Lama sekali Sri membuntuti kedua pengendara motor yang ia curigai sebagai pemilik janin yang terbungkus di dalam kantung putih yang ada di tangannya. Bahkan beberapa kali juga Sri ikut berhenti di beberapa tempat ketika keduanya sibuk makan dan berjalan jalan mengelilingi kota.


Dengan tiket yang hanya dibandrol harga lima belas ribu, keduamya masuk kedalam sana dan duduk tepat di sebuah gubug yang disediakan oleh tempat wisata sebagai sarana istirahat.


"Apa kau baik baik saja sekarang Mel?" tanya sang pria pada kekasihnya.


"Tentu saja aku tak baik baik saja Yo. Aku sekarang sangat takut dan gelisah. Orang orang berpikir bahwa aku sakit biasa namun mereka tak tahu bahwa aku baru saja mengugurkan janin kita"


"Apa mereka curiga denganmu Mel? apa mereka menanyakan kondisimu yang sekarang lebih kurus dari biasanya?"

__ADS_1


Wanita itu hanya diam. Ia memijat keningnya yang mulai terasa berdenyut dan mulai menangis sesegukan.


"Jika saja kau saat itu memakai pengaman, maka tak mungkin aku bisa hamil Aryo! aku sekarang masih harus belajar dan harus bisa mencapai cita citaku yang sudah ku rencanakan dengan matang. Namun semuanya hampir saja pupus dan hancur ketika bayi si*lan itu tumbuh dirahimku"


Sri yang mendengar ucapan gadis itu pun mulai geram. Ia bahkan beberapa kali melontarkan kata kata makian pada kedua remaja itu sebab keduanya tampak menyalahkan sang janin yang tak berdosa.


Keduanya kini sedang saling berpelukan didalam gubug yang sepi tersebut dan menangis bersama sama. Namun, detik kemudian sang pria yang memang memiliki nafsu pada wanita tersebut, kini mulai menghapus air matanya dan mendekatkan wajahnya pada gadis remaja di hadapannya.


Kini keduanya bahkan kembali melakukan adegan tak senonoh tepat di hadapan Sri hingga membuatnya geram dan marah besar.


Sinar senja yang perlahan berganti dengan gelapnya malam, serta tempat yang sepi dan senyap, membuat keduanya leluasa melakukan hal tersebut tanpa takut diketahui siapapun kecuali Sri yang memang sejak tadi melihat keduanya. Tanpa pikir panjang, saat keduanya bahkan mulai melakukan aksi yang lebih jauh lagi, dengan amarahnya Sri bahkan melemparkan kantung putih yang dijadikan tempat janin dari bayi mereka dibuang.


Si pria bahkan terkejut dan menghentikan aksinya, lalu menatap wanita di depannya yang kini sudah terlihat bingung.


"Kau kenapa Aryo?" tanya Melisa seraya mulai bangkit dan duduk disebelah pacarnya.


"Ini bungkus yang kau isi dengan janin kemarin bukan Mel?" tanya Aryo seraya mulai menunjukan bungkusan yang terdapat noda darah didalamnya.


Melsa yang melihat kantung di tagan Aryo pun terkejut dan mulai sadar bahwa ada yang tak beres.


"Itu memang kantung yang sama dengan kantung yang kemarin ku isi janin kita Yo. Janinku memang keluar sangat kecil sehingga aku pun mudah sekali memasukannya kedalam kantung itu"

__ADS_1


Kantung putih yang kedap air itu memang tampak hanya sebesar kantung kresek biasa. Namun ketebalan kain di bagian dalamnya mampu membuat darah yang terdapat pada sang janin tak merembes dan membasahi bagian luar kantungnya.


"Aku inga betul kantung ini adalah kantung bekas kosmetik pemberian teman sekamarku. Dan aku pun memakai kantung itu sebab kurasa cukup tebal untuk membuat darah dan bayi itu takan bisa merembes jika nanti sampai membusuk"


__ADS_2