
"Aku bahkan tak tahu jika putri kecil kita telah tumbuh dewasa seperti ini bu. Aku bahkan tak mengira jika tingkah lakunya akan melebihi tingkah laku seekor binatang yang sangat liar seperti ini. Aku bahkan tak mengira jika setiap keringat yang jatuh karena aku mencari nafkah untuknya kini dibalas dengan rasa sakit yang begitu dalam bu. Apa yang aku lakukan sehingga dia begitu membenciku dan melempar kotoran tepat di wajah kita?" Ayah Melisa menangis dengan pedih mengingat setiap rasa sakit akibat hinaan yang terus saja terlontar dari mulut ibu Aryo.
Ayah Aryo bahkan tak bisa menahan emosinya dan menampar pipi putra semata wayangnya dengan keras hingga terjatuh ke atas lantai.
"Apa yang kau lakukan pada putra kita? kenapa kau memukulnya?" tanya ibu Aryo yang membela dengan siap sedia.
__ADS_1
"Ini semua karena salahmu yang terlalu memanjakannya! kau bahkan selalu membenarkan perbuatan salahnya dan memberikan apa yang seharusnya tak kau berikan untuk anak tak tahu di untung sepertinya! kau bukanlah ibu yang baik yang bisa mendidik anakmu seperti yang aku mau! kau bahkan sibuk mengurus harta tanpa tahu tingkah laku anakmu yang liar seperti seekor binatang! dia bahakan mengancam anak orang dan menyuruhnya mengugurkan benihnya yang telah tumbuh di rahim wanita remaja polos sepertinya!"
Ayah Aryo terlihat membela Melisa dan menyalahkan anaknya serta istrinya sendiri. Ia benar benar kecewa dengan tindakan istrinya yang keterlaluan dan bertindak semena mena dengan Melisa dan keluarganya. Walaupun Ayah Aryo tahu, Melisa pun bersalah.
"Sekarang aku bahkan tak ingin ikut campur dengan semua yang terjadi padanya. Untuk hukuman yang akan pak polisi berikan pada putra saya maka berikanlah hukuman yang berat. Daya tak perduli sebab ia pun tak pernah memperdulikan reputasi dan harga diri keluarga kami yang saat ini sudah buruk di mata masyarakat. Yang pasti saya ingin dia mendapatkan hukuman yang setimpal agar dia merasa malu dan jera"
__ADS_1
"Sekarang saya serahkan putri saya pada anda pak. Saya ingin dia di hukum atas tindak pidana hukuman apapun sebab saya pun tak ingin melihatnya seperti ini. Saya mendengar dia mendapatkan ancaman dan melakukan hubungan suami istri dengan pria beja* itu beberapa kali karena takut videonya tersebar. Namun jika saja dia berbicara pada saya sebelumnya maka saya akan memaafkannya dan membelanya mati matian disini. Kini semua senyumannya telah hilang seiringan dengan senyuman kami yang telah hilang juga. Terimakasih sudah memberi tahu saya sebelumnya pak polisi. saya pamit dulu. Wassalamu'alaikum "
Ayah Melisa bangkit dan mencoba mengangkat tubuh istrinya yang masih terkulai lemas duduk di samping ruangan. Melisa bahkan berteriak histeris memanggil ayahnya namun sang ayah tetap saja berjalan meninggalkannya diruangan tersebut.
"Melisa gak salah yah! Melisa diancam! Melisa butuh ayah dan ibu! Melisa mohon bantu Melisa!" teriakan pilu dari sang anak bahkan membuat hati kedua orang taunya begitu sakit dan sedih.
__ADS_1
Namun keduanya telah berada di titik kecewa paling dalam hingga mengabaikan teriakan putrinya yang selama ini sangat mereka sayangi sepenuh hati.