
Azka berjalan menyusuri hutan yang sangat rimbun akan pepohonan. Langkah kakinya gontai kala mendapat penolakan dari wanita yang ia selalu anggap sebagai rumah untuk mengadu. Azka bahkan sangat menyayangi Mbok Darmi sama seperti ia menyayangi ibunya sendiri. Namun Mbok Darmi yang selalu dipikir seorang penjahat oleh waga sekitar justru berhati lembut dan pengertian.
Ia tak ingin jika arwah Azka tak tenang seperti ini dengan hati yang masih menyimpan dendam serta amarah pada istrinya serta Fahmi. Mbok Darmi memang memiliki tahu akan seseorang yang akan mati bahkan sudah mati. Namun ia cukup terkejut dan sedih kala tahu kematian Azka dari sosok yang selama ini sering menemaninya.
"Aku sekarang benar benar sendirian. Aku bahkan tak memiliki seseorang untuk berkeluh kesah setelah menjadi arwah gentayangan. Semua ini adalah salah ibu yang telah tega memisahkan ku dengan Naisila. Jika saja ibu mau menerimanya menjadi menantu, maka aku pasti sekarang tengah hidup bahagia bersama wanita yang jelas jas aku cintai"
"Naura, gadis pilihan ibu tak lain salah seorang wanita mura**n! wanita itu telah merusak harga diriku sebagai seorang pria dan ia telah ikut serta dalam pelenyapan ku. Sungguh, aku sangat ingin merobek mulut manis wanita itu" ucap Azka dengan geram.
Ia kini berjalan dengan cepat menuju sungai tempat jasadnya ditemukan.
Sudah hampir empat hari, kini ia menyandang status sebagai arwah. Namun, pembunuhnya masih tetap bisa berkeliaran bahkan masih bisa tertawa dengan lepas setelah semuanya terjadi. Hati Azka benar benar sakit kala mengingat semua momen romantis yang sering ia lakukan atas dasar keterpaksaan bersama Naura. Azka benar benar tak menyangka bahwa istrinya itu bisa mengandung anak dari pria beristri.
"Kau sudah hila Ra! kau bahkan tega melakukan ini padaku yang jelas jelas berusaha menjadi suami yang baik untuk mu. Aku bahkan sangat senang ketika tahu kehamilan mu sebab ku kira benih yang tumbuh di rahimmu adalah milikku. Tapi, kau jahat Ra! kau tega bersekingkuh dengan pria baji**n itu!"
Fahmi melempar beberapa kerikil tepat ke sungai di hadapannya. Hanya itulah cara yang bisa ia lakukan saat ini untuk meredam semua gejolak amarah yang tersimpan rapi di dalam hatinya. Entah kenapa Naura tega melakukan ini pada Azka padahal selama ini Azka sudah berusaha sekuat tenaga mencintai Naura dan memperlakukannya seperti seorang istri. Hanya saja Azka lun sadar bahwa ia jarang sekali menghabiskan waktu ataupun malam bersama Naura hingga mungkin saja sang istri yang merasa kesepian mencari kehangatan dari laki laki lain.
Azka yang diam termenung mulai sadar bahwa ada sosok perempuan yang kini memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh. Namun, Azka yang masih sangat kesal tak memperdulikan kehadiran sosok tersebut dan kini menikmati kesendiriannya di pohon tersebut.
__ADS_1
"Ku tahu kau ingin mengatakan sesuatu padaku!" ucap Azka sedikit keras.
Perlahan lahan sosok perempuan yang tadi berjarak cukup jauh kini mulai mendekat dan bahkan mulai menampakan wujud aslinya tepat dibawah pohon tempat Azka duduk. Sosok perempuan itu tak lain adalah Sri. Sahabat Naisila sekaligus hantu yang tempo lalu datang ke lokasi tempat ditemukannya jasad Azka.
"Ku kira kau tidak akan bisa melihatku" Sri tertawa dengan keras namun tak membuat Azka ketakutan.
"Ingin apa kau menemui ku hah? apa kau ingin berteman denganku dan berbagi kisah sedihmu?" jawab Azka seolah mengejek.
Pria itu tak tertarik berteman dengan arwah lainnya sebab ia kini tengah fokus pada balas dendam yang ingin sekali ia tuntaskan.
Sontak saja perkataan Sri langsung membuat Azka bangkit dan penasaran dengan hasil dari kematiannya. Besar harapan dari Azka pada kepolisian untuk menindak lanjuti kasus kematiannya yang tentunya tidak wajar. Azka bahkan ingin sekali mendatangi sang ibu hanya untuk mengatakan bahwa dirinya telah mati dibunuh oleh Naura dan bukannya bunuh diri. Hanya saja Azka lupa dengan jalan menuju rumahnya sendiri sebab entah kenapa setelah kematiannya beberapa memori di ingatannya telah hilang begitu saja.
"Bagaimana kau tahu, esok adalah hari pemakamanku? apa kau bertemu dengan keluargaku?" tanya Azka penasaran.
Sri hanya tertawa nyaring menimpali pertanyaan pria yang jelas jelas tadi mengacuhkannya. Sri sengaja ingin membuat amarah dan dendam di hari Azka semakin menggebu sebab kini Sri sangat senang dengan pembalasan dendam dari arwah arwah yang mati karena di bunuh.
"Tak ada yang tak ku ketahui tentangmu Azka. Dan aku hanya ingin membantu temanku saja"
__ADS_1
"Aku bukan temanmu dan aku baru kali ini bertemu denganmu. Kau pikir aku tergoda dengan arwah sepertimu hah? yang benar saja" Azka berdecak.
Pria itu berpikir bahwa Sri adalah sosok hantu yang centil seperti cerita cerita yang pernah ia dengar semasa hidup.
"Kau salah mengiraku Azka. Aku kesini memberitahumu hanya karena aku ingin membantu Naisila membunuh baji**n itu! setelah kematianku, yang kupikirkan hanya tentang bagaimana membalaskan rasa sakit yang ku derita saat kematian datang padaku oleh orang orang berhati ibli* seperti Fahmi! Aku tak berniat mendekati mu apalagi menginginkanmu. Jika bukan karena Naisila, aku pun tak ingin datang dan bekerja sama dengamu"
Perkataan Sri tentang Naisila berhasil membuat Azka diam. Ia tak tahu bahwa Naisila memiliki teman di dunianya sekarang mengingat kemarin saat Azka bertemu dengan Naisila, sosoknya hanya duduk termenung sendirian.
"Lalu kau tahu tubuhku akan dimakamkan esok dari siapa? tolong beritahu aku"
"Cek! sekarang kau memohon padaku untuk memberitahumu"
"Hmh beritahu aku dimana tubuhku besok akan dimakamkan! aku hanya ingin melihat siapa saja orang yang akan datang ke tempat aku dikubur dan aku pun ingin melihat wajah wajah ibl* yang sudah merenggut nyawaku. Aku ingin tahu bagaimana polisi bertindak atas kematianku. Apa mereka menahan Naura dan Fahmi atau tidak"
Sri menghela nafas. Ia memandangi pantulan sinar rembulan yang tepat mengenai air sungai yang sangat tenang. Tatapannya kosong dan mulai mengatakan semua hal pada Azka yang masih sama dengan posisinya yang duduk di atas pohon.
"Aku sudah cukup lama menjadi arwah penasaran dikampung ini. Dan saat aku masih hidup, aku pernah bertemu dengan kau dan Naisila di pasar dulu. Saat itu aku tak mengira bahwa kini kita akan dipertemukan lagi dalan wujud yang sama yaitu sebagai arwah. Hanya saja mengapa takdir kita berakhir setragis ini. Kemarin saat aku pergi menuju tembok tempat anakku dikubur, aku tak sengaja bertemu dengan seorang wanita tua yang ku yakini dia adalah ibumu. Ku tahu dia adalah wanita kaya dan dapat dilihat dari penampilannya. Matanya yang bengkak serta wajahnya yang lesu nampak terlihat oleh siapapun. Saat itu ibumu berkata bahwa putra semata wayangnya yang bernama Azka besok akan dimakamkan di pemakaman kamboja. Dan saat itu ia tengah bersama wanita muda dengan perut yang besar tengah berjalan menuju rumah kepala desa. Mereka berbicara bahwa besok jasadmu akan langsung dikuburkan setelah mobil ambulan yang membawa jasadmu tiba di lokasi pemakaman"
__ADS_1