Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Tak percaya


__ADS_3

Sri tertawa dengan lebar. Ia bahkan tak tahu jika Naisila kini ikut menertawakan ulahnya.


"Ayammu memang banyak. Dan kau adalah orang kaya. Aku tak segan mengambil ayam ayam mu sebab kau sangat baik hati dan tidak sombong " Sri menertawakan sikap Pak Kasim yang mulai berani.


Hingga tak lama kemudian beberapa belatung berjatuhan dari pipi Sri hingga membuat Pak Kasim terkejut dan kembali sadar dengan sosok Sri yang merupakan seorang arwah penasaran..


"Kumohon jangan ganggu aku. Aku bahkan ingin menikah lagi dengan janda di desa sebelah. Umurku memang tua tapi semangatku masih muda. Tolong lepaskan aku ya hantu yang cantik." Sri yang mendapatkan pujian pun seketika sumringah dan tertawa dengan keras.


Hingga Pak Kasim pun mulai nerjalan dengan perlahan untuk menjauhi Sri dan ketika ia sadar dengan jaraknya yang cukup jauh, Pak Kasim pun mulai berlari dan berteriak dengan keras.


"Tolong! ada hantu!" Pria tua itu pun pergi di telan gelapnya malam.


Sri kembali naik ke atas pohon tempat Naisila duduk dan mulai menatap rembulan yang begitu indah dengan sinarnya yang terang.


"La, apa kau ingin tahu tentang kematian Azka?" tanya Sri tiba tiba hingga membuat Naisila sedikit terkejut.


"Kenapa kau mengatakan hal itu Sri?" Jawab Naisila denga pelan.


Sri tersenyum menatap wajah sahabatnya itu. Sri bahkan tahu di lubuk jati yang paling dalam, Naisila bahkan tak bisa melupakan rasa cintanya pada Azka apalagi kini ia tahu tentang kematian Azka yang misterius.


"Aku hanya ingin kau tahu tentang kematian Azka. Siapa tahu itu ada kaitannya dengan kematianmu"


Naisila memang penasaran dengan kematian Azka ya g tiba tiba. Apalagi Azka adalah anak semata wayang di keluarganya, maka akan begitu menyakitkan jika ibu dan ayahnya tahu jika Azka mati dalam keadaan mengenaskan seperti ini.


"Aku akan mencari tahunya besok Sri. Aku akan kembali ke sungai tempat Azka di temukan dan aku akan menanyakan sesuatu padanya"

__ADS_1


"Lalu apa kau masih ingin membalaskan dendam pada Fahmi dan Nindi La?" tanya Sri dengan spontan.


Naisila yang bingung hanya diam. Ia kini mencerna semua tindakan yang telah Sri lakukan selama ini untuk menuntaskan dendamnya pada pelakor serta suaminya. Sri bahkan telah membunuh beberapa preman yang ikut membunuh dirinya namun sampai kini jiwa Sri belum bisa kembali kepada sang pencipta. Sri bahkan sudah merasa misi di dunianya telah selesai namun tetap saja ia belum bisa bertemu dengan putranya yang terlebih dahulu mendapatkan tempat terbaik.


"Aku akan tetap melakukan itu Sri. Walaupun nanti aku tak pasti akan masuk ke tempat terbaik, tapi setidaknya dendamku pada kedua manusia baj**n itu bisa terbalaskan"


Naisila tersenyum getir mengatakan semua ucapannya. Hingga tak lama kemudian ia pun kembali berbincang dengan Sri seperti biasanya seraya menatap langit yang ditaburi oleh banyak bintang.


*********


Hari ini Naisila sudah sampai di pohon tepi sungai tempat jasad Azka ditemukan. Naisila yang penasaran dengan kematian mantan kekasihnya itu dengan setia menunggu kedatangan arwah Azka yang sejak lama tak ia jumpai. Wajah Naisila terlihat celingukan mencari sosok pria yang telah lama tak ia pandang sejak kepergiannya ke kota.


Sampai hampir dua jam Naisila berdiam di atas pohon, arwah Azka belum juga nampak hingga membuat Naisila berpikir bahwa mungkin saja amal Azka yang banyak membuat pria itu bisa dengan cepat masuk kedalam tempat yang seharusnya.


"Nai"


"Apa kau menunggu ku?" tanya Azka dengan senyum manis di wajahnya.


Sontak saja Naisila yang salah tingkah mulai mengalihkan pandangannya dari Azka. Pria itu bahkan masih terlihat sangat tampan di mata Naisila bahkan setelah menjadi arwah sekalipun.


"Ka...kau datang kemari " ucap Naisila dengan terbata.


"Tentu saja aku disini Nai. Aku disini karena ini salah tempat tinggalku sekarang. Dan kenapa kau ada disini?" tanya Azka dengan santai.


Naisila pun langsung menanyakan hal yang ingin sekali ia ketahui tanpa basa basi lagi. Kedatangannya kesini hanya untuk bertemu Azka dan menanyakan kematiannya yang begitu tiba tiba. Dan Naisila pun merasa penasaran dengan sosok yang tega membunuh Azka terlebih lagi Azka berkata bahwa pembunuh itu ada kaitannya dengan kematian Naisila yang jela jelas dilakukan oleh suami serta kakak tirinya.

__ADS_1


"Aku kesini hanya ingin menanyakan tentang pelaku pembunuhan mu. Aku penasaran dengan orang yang kau bilang ada kaitannya dengan kematianku yang jelas jelas kau pun tak tahu tentang kematianku"


.


Azka tersenyum. Sudah lama ia tak menginjakan kakinya di kampung ini. Dan sekarang ia bahkan tak lama kembali ke kampung tersebut dalam keadaan menjadi manusia sebab kini ia harus berubah menjadi seorang arwah penasaran untuk waktu yang entah kapan berakhir.


"Ya memang kau pasti tahu pembunuh ku. Kau bahkan hidup dengannya selama ini sebelum kau mati"


Naisila yang semakin penasaran mulai mendekatkan arah duduknya pada arwah pria disampingnya.


"Emh ngomong ngomong kandunganku sudah usia berapa Nai?" tanya Azka penasaran.


Naisila seketika memandangi perutnya yang begitu besar dengan gerakan gerakan aneh didalamnya.


"Aku sudah hamil memasuki usia kandungan sembilan bulan Ka. Tapi bayiku bahkan tak bisa melihat indahnya dunia sebab mati dibunuh ayahnya sendiri" Naisila tersenyum tipis hingga membuat Azka sedikit canggung.


"Maafkan aku karena menanyakan hal itu. Tapi aku hanya prihatin ketika kau harus menikahi pria beja* seperti Fahmi"


Azka yang merasa kasihan pada Naisila pun hanya mampu menundukkan kepala. Sang ibu telah tega menjodohkan kekasihnya itu dengan anak buahnya yang suka sekali mabuk dan berjudi hanya untuk menjauhkan Naisila dari dirinya sendiri.


"Pembunuhku adalah pria yang selama ini telah menyandang gelar sebagai suamimu Nai"


Seketika ucapan Azka berhasil membuat Naisila terkejut dan terdiam. Ia tak menyangka bahwa Fahmi adakah pembunuh Azka.


"Kau pasti bohong kan ? mana mungkin suamiku membunuhmu sebab ia tahu kau adalah putra satu satunya pemilik kebun yang ia jadikan sebagai tempat mencari rejeki"

__ADS_1


Naisila mencoba menyangkal semua perkataan Azka yang terdengar begitu mengejutkan. Ia bahkan tak tahu jika Fahmi telah bertemu dengan Azka, sebab selama Naisila menjadi hantu ia bahkan tak pernah bertemu dengan Azka sebelumnya.


"Dia memang suamimu dan kau berhak mempercayaiku ataupun tidak mempercayaiku Nai. Dia memang terlihat sangat penurut mengingat ia sudah bekerja lama di kebunku dan dia pun sudah menjadi temanku sejak kecil" Jelas Azka .


__ADS_2