Lukaku Dibayar Nyawamu

Lukaku Dibayar Nyawamu
Pak Kasim


__ADS_3

Azka adalah pria yang baik dan merupakan pria pertama yang menjadi cinta pertama untuk Naisila saat sebelum menikahi Fahmi. Banyak gadis berusaha untuk mendapatkan hati Azka namun Azka tetap memilih Naisila sang gadis yang sederhana, baik hati dan ramah. Azka kerap membicarakan Naisila kepada teman-temannya yang baru ia kenal di kampung bahkan dengan keberaniannya Azka pernah mencoba melamar Naisila tepat di hadapan para pemuda di kampung tersebut.


Namun dapat diketahui bagaimana reaksi dari sang ibunda Azka yang tetap menentang cinta putra semata wayangnya pada gadis kampung yatim piatu seperti Naisila. ibunda Azka tetap menginginkan agar putranya bisa menikah dengan gadis yang memiliki ekonomi minimal setingkat dengannya. Hingga saat Naura yang tak lain adalah putri dari saudagar pemilik cengkeh di kampung tersebut pulang dari kota bak mendapat durian runtuh ibunda Azka langsung meminta ayah dari Naura agar melakukan perjodohan dengan putra semata wayangnya.


saat itu Naysila bahkan ingin membuat Azka bisa menuruti perkataan ibundanya namun ia tak pernah menyangka bahwa dengan pernikahan Azka dan Naura iya malah harus menikah dengan pria sekejam Fahmi yang kini malah berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.


Sri memang adalah arwah penasaran dari seorang ibu yang memiliki dendam terhadap suaminya dan ia merupakan teman satu-satunya Naisila saat ini. namun Naisila belum bisa mengungkapkan identitas Azka sebenarnya yang tak lain adalah cinta pertama Naisila sebab Naisila tahu hal itu bukan adalah informasi yang umum untuk dibicarakan pada Sri.


"Emh aku lupa akan hal itu Sri. Tapi yang jelas pria itu tidak melakukan bunuh diri melainkan dia dibunuh oleh seseorang yang aku kenal. Tapi Pria itu tak mengatakan siapa dalang pembunuhannya melainkan membuatku harus bertanya tanya tentang teka teki kematiannya"


Sri bingung dengan ucapan Naisila. Ia jelas jelas melihat jasad Azka di sungai tersebut dengan keadaan yang baik baik saja tanpa luka sedikitpun. Hanya saja dibagian matanya yang hampir keluar serta beberapa sayatan di dirinya membuat Sri sadar bahwa memang tanda itu tak umum jika dilakukan oleh seseorang yang bunuh diri.


"Kau benar La. Aku hanya melihat Azka sekilas saja saat itu. Dan aku dengar beberapa warga mengatakan bahwa Azka mengakhiri hidupnya disana karena depresi ditinggal istrinya yang berselingkuh. Tapi istrinya justru berdalih bahwa Azka depresi karena kalah main judi dan juga sedang ada masalah dengan keluarganya sendiri" Sri mencoba menjelaskan apa yang ia dengar tempo hari lalu.


"Jika memang Azka memiliki masalah dengan keluarganya mungkin saja pembunuhnya adalah keluarganya sendiri. Dan orang yang ku kenal hanya keluarga intibya saja seperti ayah serta ibunya sebab Azka tak punya saudara sama sekali. Dan aku pun tak pernah mengenal istri Azka sebelumnya "


Naisila semakin bingung dengan kematian Azka. Kini ia lebih fokus dengan kehidupannya yang ingin menuntaskan balas dendam pada kakak tirinya serta suaminya sendiri.


"hemh biarlah misteri kematian Azka tersimpan rapat oleh kita Sri. Jangan sampai kita ikut campur dan mengurusi dendamnya hingga melupakan tujuan kita untuk bisa kembali ke tempat yang seharusnya kita singgahi. Aku bahkan belum bisa membalaskan dendam pada Mas Fahmi dan juga Mbak Nindi" ucap Naisila dengan santai.

__ADS_1


Namun Sri yang memang memiliki rasa penasaran yang tinggi semakin terpikat dengan teka teki kematian Azka yang tak lain adalah cinta pertama Naisila.


"Apa kau tak penasaran dengan pembunuh Azka La? padahal dia sudah memberimu sebuah kode bahwa pembunuh itu ada kaitannya denganmu. Barang kali jika pembunuh Azka juga tahu tentang kematianmu oleh Fahmi dan juga Nindi"


Naisila terdiam. Ia tahu betul tentang keatainnya yang disengaja oleh Fahmi dan Nindi. Kematiannya bahkan secara spontan dilakukan oleh kedua orang tersebut yang terkejut karena tertangkap basah oleh Naisila sedang melakukan hal yang tak pantas.


"Besok aku akan pergi ke dalam hutan untuk mencari tahu tentang sosok Nyai Gendis yang bisa memecahkan maslah kematianmu. Ku yakin bahwa kematianmu ada sangkut pautnya dengan kematian Azka mengingat dia bahkan dibunuh ditempat ini oleh sosok yang masoh menjadi teka teki" ucap Sri dengan pelan.


Naisila hanya terdiam mendengar ocehan sahabatnya itu. Ia memilih untuk diam diatas pohon ini menunggu siapapun yang dapat ia jahili atau takuti.


"Ya sudah sekarang kita diam saja disini Sri menunggu datangnya esok. Aku tahu kau sangat bosan dan sudah lama tak melakukan keseruan apapun disini. Lihat itu Pak Kasim yang sering kau curi ayamnya." Naisila menunjuk seorang pria paruh baya berkumis tebal sedang melintas di dekat pohonnya.


"Ku kira kau jatuh cinta pada pria tua itu Sri sehingga kau tak henti hentinya menganggu pak kumis itu dan mencuri ayamnya" Naisila terkekeh pelan hingga membuat Pak Kasim mendengar tawanya yang nyaring.


Pak Kasim terlihat memegang tengkuk lehernya yang terasa begitu dingin. Bulu kuduknya merinding kala melewati pohon dengan daun yang lebat tersebut.


"Punten" ucap pria itu dengan sopan.


Kumisnya yang lebat serta keriput diwajahnya seolah menjadi bahan lelucon Sri dan Naisila yang kini telah bersiap untuk menakut nakuti pria dihadapannya itu. Sri bahkan sudah turun dan berjalan tepat dibelakang Pak Kasim dengan senyumnya yang terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


Dengan energi yang sudah terkumpul didalam dirinya. Perlahan lahan sosok Sri kian terlihat dengan jelas dan mampu membuat Pak Kasim seketika terdiam mematung melihat wanita dengan gaun putih itu tepat seratus meter dari pandangannya. Dengan sekejap saja Sri mampu mengubah posisinya hanya dengan hitungan detik saja.


Tubuh pria itu bergetar hebat dengan mulut yang terbuka menahan rasa takut dan terkejut yang datang secara bersamaan.


"Set...set...setan!" teriaknya dengan keras.


Sontak saja sosok arwah Sri tertawa dengan keras dan melayang layang dibelakang Pak Kasim yang saat ini berlari degan kencang menuju rumahnya.


Sri bahkan dengan berani memeluk tubuh pria itu hingga membuat Pak Kasim merasakan pundaknya berat dan langkahnya semakin sulit.


"Kumohon jangan ikuti saya! saya hanya pria tua dan duda yang kaya raya. Saya tak punya istri dan keriput dimana mana. Saya orang kaya yang jelek dan tak bisa diandalkan. Jadi saya mohon lepaskan saya" Pak Kasim memohon pada arwah yang jelas jelas ia pun tak tahu sosok tersebut siapa.


Namun, Sri justru semakin senang menakut nakuti pria itu dengan menjawab semua perkataannya.


"Aku tak perduli setua apa dirimu dan sebanyak apa kerutan di wajahmu. Kau memang kaya maka aku selalu mengambil ayam ayam di peternakanmu. Hihihihi"


Sontak saja Pak Karim terkejut dan marah pada sosok Sri.


"Dasar set**n! ternyata ayam ayamku mati karena ulahmu! kau pencuri yang ulung ya!"

__ADS_1


__ADS_2