
Melisa memilih untuk mengakhiri hidupnya yang telah hancur dibandingkan harus merubah setiap keburukan yang sudah ia lakukan. Ia bahkan memilih kematiannya sendiri yang mengenaskan tepat dihari ia harusnya menjalani hukuman atas semua kesalahan yang telah ia perbuat.
"Aku memang membencimu! sangat membencimu! tapi tak seharusnya kau melakukan ini nak! kau tega menyakiti kami begitu dalam dan kini kau malah membuat kami semakin sakit atas tindakan mu yang bodoh ini! apa salah ibumu ini sehingga kau tampak begitu senang membuat hatiku sakit! apa?!" Ibu Melisa menangis dengan kencang diikuti oleh suaminya yang kini mulai menangis dengan suara yang tertahankan.
"Kau sudah tua dan kaulah harapanku satu satunya untuk bisa menjaga ibumu ini. Kenapa kau lakukan ini pada kami Melisa? kenapa?! ayah tahu ayah hanya seorang ayah yang miskin. Tapi kau tak harus menghukum ayah mu seperti ini!"
Kedua orang tua Melisa cukup terpukul. Ia bahkan masih dalam keadaan syok setelah mengetahui tindakan putrinya yang begitu diluar batas dan kini ia harus di hadapkan dengan kenyataan pahit bahwa putrinya sudah tiada.
Tanpa mereka sadari, kini arwah Melisa sedang menatap kearah kedua orang tuanya yang sedang menangis tepat di depan jasadnya. Melisa yang menatap ibu serta ayahnya yang menangis tersedu sedu seketika luluh dan mulai mencoba menenangkan keduanya. Namun, Melisa bahkan tak bisa terlihat oleh kedua orang tuanya ataupun bisa menyentuh keduanya yang saat ini tengah terpukul.
"Ayah, ibu Melisa disini. Ibu dan ayah sudah tak merasakan malu lagi karena Melisa sudah tiada"
Saat arwah remaja itu sedang mencoba mendekati kedua irang tuanya, tiba tiba saja tangan Melisa terasa sangat sakit dan hampir putus. Padahal ia ingat betul saat melakukan tindakan bu"nuh dirinya ia tak menyayat pergelangan tangannya hingga hampir terputus.
"Akkhhhhh!!!' Arwah Melisa memekik dengan keras menahan rasa sakit yang kini ia rasakan.
Terlebih lagi tiba tiba saja bagian perutnya yang terasa sangat sakit dan mengeluarkan banyak sekali darah di sela sela kakinya . Melisa berteriak dengan keras namun tak ada satu pun yang mampu melihatnya atau pun mendengar jeritan rasa sakitnya. Hingga tubuh Melisa pun kemudian terlihat mengurus degan bola mata yang terlihat keluar dengan tangan yang terlihat hampir putus.
"Ib...ibu aya..yahh. Tolong Melisa" Melisa merintih merasakan sakit dengan tubuh yang meringkuk di atas lantai rumah sakit.
__ADS_1
Ayah dan ibunya bahkan tak bisa mendengar jeritan pilunya sebab kini mereka sudah berada di alam yang berbeda. Melisa kini merasakan sakit yang amat parah bakan setelah dirinya sudah mati dan tak ada lagi di dalam raganya.
Melisa bahkan merasa heran dengan rasa sakit yang ia alami saat ini padahal ia kini sudah mati dan ia berharap tak menderita lagi. Namun ternyata prediksinya salah. Kini ia justru merasakan penderitaan yang amat dalam ketika sudah berada di alam lain.
Melisa mencoba meraih tubuh ibu dan ayahnya yang masih berada di atas lantai. Ia bahkan memeluk tubuh ayah dan ibunya dengan sekuat tenaga namun tak bisa.
"Aku sakit bu! sakit!" Melisa merintih dengan sendu berharap sang ibu ataupun ayah bisa mendengarkan penderitaan nya.
Ibu Melisa merasakan sensasi dingin di bagian punggungnya. Hati ibu Melisa bahkan tahu bahwa arwah putrinya kini sedang berada di dekatnya.
"Nak kamu disini?!" Ibu Melisa berteriak dengan kencang hingga membuat suami serta polisi dan perawat yang ada kebingungan.
"Melisa sayang. Ibu tahu kamu disini nak. Kenapa kamu lakukan ini pada ibu nak kenapa?! kenapa kamu tega melakukan ini pada ibu nak!"
Melisa semakin menderita dengan rasa sakit yang ia alami kini. ia bahkan tak tahu bagaimana cara mendapatkan kesembuhan atas rasa sakit yang ia derita mengingat dirinya kini telah menjadi seorang arwah. Penderitaan Melisa selama masih hidup justru sedikit lebih baik dibandingkan kondisinya yang sekarang. Ia benar benar merasa menderita kala tahu kematiannya membuat dirinya mengalami rasa sakit yang teramat dan tak bisa disembuhkan.
Kini sesal di dirinya kian bertambah dan kian terasa. Ia bingung harus melakukan apa dan bagaimana ketika mendapati penderitaannya yang tak berakhir justru bertambah.
"Aku menyesal bu aku menyesal. Aku merasakan kesakitan. Tolong aku bu tolong!" Melisa merintih meminta bantuan pada ibunya.
__ADS_1
Melisa menyesal karena telah mengakhiri hidupnya dan ia pun ingin kembali hidup. Ia berjalan menuju salah satu perawat dan bersimpuh dihadapnnya.
"Tolong selamatkan aku. Tolong lakukan sesuatu agar aku bisa hidup lagi. Ini terlalu sakit. aku tak ingin berakhir seperti ini. aku menyesal. aku sungguh menyesal. Ku kira dengan mengakhiri hidup masalahku akan selesai. Tapi nyatanya tidak! tidak ada yang berubah ketika aku mati. Penderitaanku kian bertambah dan kian terasa. Kumohon bantu aku"
Tiba tiba saja Sri yang saat ini tengah berada di atas pohon, merasakan ada yang aneh dengan pendengarannya. Kini ia tahu bahwa gadis yang baru saja ia berikan pelajaran telah mengakhiri hidupnya. Ia tertawa dengan keras hingga membuat Naisila terkejut dengan tawanya.
"Kau kenapa Sri?! kau ini senang sekali membuatku terkejut"
Naisila memukul pelan tubuh sri yang ada didekatnya.
"Sekarang wanita jahat yang sudah membuang janinya di tempat sampah telah mati! dia melakukan bun*h di*ri untuk lagi dari masalah ini. Dia benar benar bod*h karena memilih untuk lari dari masalahnya sendiri, bukannya memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat. Hemh aku saja ingin hidup. tapi mengapa dia malah ingin mati" Sri menjelaskan apa yang ia ketahui pada Naisila.
Hingga Naisila pun terdiam dan mulai menatap secarik kwrtas yang terbang oleh angin.
"Kau lihat kertas itu Sri?"
Sri menatap kertas yang dimaksud oleh temannya itu dan menganggukan kepala.
"Kertas itu sangat putih sebelum terbawa oleh angin. Kertas itu bahkan sangat bersih walaupun banyak goresan tulisan berada di atasnya. Dan karena angin, dia berubah menjadi kotor dan basah terkena beberapa air hujan dan juga lumpur yang ia lalui. Itulah manusia. Mereka juga terlahir dengan bersih dan tanpa noda. Manusia didik oleh orang tuanya hingga menemukan lingkungan luar yang kian membawanya jauh dari kebenaran. Pilihan manusia dan lingkungannya membawa ia kemana pun arah yang akan ia lewati. Baik dan buruknya lingkungan tergantung pada dirinya sendiri yang ingin ikut mengikuti alur yang mana"
__ADS_1