
"Adina! Aku mohon kasihanilah mas, jika kamu jual rumah itu kemana lagi saya dan Avanti harus tinggal sedangkan saya tidak punya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untuk sewa rumah," ratapnya Aksa yang masih berusaha untuk membujuk Adina agar tergugah hatinya itu.
Adina dan kedua saudaranya sama sekali tidak menggubris perkataan dari Aksa yang sudah mengemis belas kasihnya mantan istrinya itu.
"Arvin jalan! Tidak perlu pedulikan mereka kalau perlu tabrak saja kalau menghalangi jalan!" Gertaknya Adina.
"Baik!" Balas Arvin saudara satu-satunya laki-laki yang dimiliknya.
Pak Gunawan dan Bu Citra sudah muak melihat tingkah lakunya Aksa mantan menantunya itu. Pak Gunawan berjalan ke arah Pak Pratama.
"Mantan besan, tolong didik dengan baik anaknya karena saya tidak ingin melihat dia menghantui dan menggangu ketenangan dan kedamaian hidup putriku, jangan sampai dia gentayangan setiap detik datang ke rumahku,tapi ingat jika saya sudah capek melihatnya yang bisa mengatasinya hanya polisi!" Tegasnya Pak Gunawan di hadapan mantan besannya itu.
Pak Aditama dan istrinya Ibu Ainun hanya saling bertatapan satu sama lainnya tanpa ada niatan untuk membalas perkataan dari mulut pak Gunawan. Mereka terlalu malu untuk berbicara sepatah katapun.
Bu Ainun ingin mengatakan sesuatu tapi, tangannya segera dipegangi oleh suaminya," tidak usah Bu, saya tidak ingin menambah masalah saya sudah cukup malu dengan kelakuan Aksa dan selingkuhannya, satu hal lagi jangan sekali-kali menampung mereka, kalaupun ingin menerima Aksa tinggal di rumah jangan biarkan istrinya menginjakkan kakinya ke rumahku!" Tegasnya Pak Adithama yang meninggalkan istrinya bersama dengan anak dan menantunya itu.
Bu Ainun hanya mampu menghela nafasnya dengan cukup keras tanpa bisa merubah keputusan dan pilihan dari suaminya itu.
"Maafkan Mama Nak, ini semua karena kesalahanmu sendiri sehingga Papa menjadi marah sama kalian, tapi Mama janji akan terus berusaha membujuk papa agar kalian bisa tinggal bersama kami, pesan Mama jaga diri kalian baik-baik terutama cucu Mama dan ini ada sedikit uang untuk keperluan kamu dan anakmu kami juga bisa pakai untuk nyewa rumah kontrakan," jelasnya Bu Ainun lalu segera meninggalkan tempat itu tak lupa memeluk hangat anak tunggalnya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil, Adina menelpon sahabatnya salah satu rekan kerjanya di perusahaan tempat ia bekerja.
"Halo, assalamualaikum Aina, aku akan ke kantor hari ini dan menyerahkan surat persetujuan pindah tugas ke Korea Selatan,saya setuju pindah ke sana, insha Allah… dua hari kedepan saya bisa berangkat," imbuhnya Adina.
Aina dari seberang telepon cukup terkejut mendengar perkataan dari sahabatnya itu yang selama ini selalu menentang dan menolak mutasinya, dengan alasan anaknya kelak dan suaminya.
"Adina,apa kamu sudah putuskan ini dengan matang dan baik-baik? Bagaimana dengan anakmu karena kamu kan masih hamil dan juga suamimu apa kamu rela ninggalin mereka berdua?" Tanyanya Aina yang segera menghentikan kegiatannya itu untuk berbicara serius dengan Adina yang sudah sebulan lebih tidak masuk kerja.
"Insya Allah… saya siap lahir batin dan masalah anak dan suami saya akan jelaskan setelah kita bertemu," pungkas Adina.
"Adina, apa kamu baik-baik saja karena menurut aku ada sesuatu hal yang telah terjadi padamu," terkanya Aina sekretarisnya di perusahaan.
"Hahaha, direktur pemasaran kita ternyata sudah pelit rupanya, sudah candanya aku akan hubungin Adelia Mallya untuk bersiap karena kamu akan menikah sehingga aku harus bekerjasama dengan gadis tengik itu," guraunya Adina.
"Adina Anulika Maheswari dia itu jago bela diri jadi cukup pantas untuk menemani kamu di Seoul, walaupun rada-rada sering naikkan emosi tapi,cara kerjanya patut diacungi jempol loh, kamu tidak akan rugi bekerja sama dengannya." Jelas Aina.
"Aku sangat paham dan mengetahui masalah itu Aina Meera Rajab, makanya saya mengusulkan kepada CEO untuk menjadi sekretaris aku selama aku di Korsel," tuturnya Adina.
"Adina apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu? Aku merasa ada keanehan dengan keputusanmu ini bebs, tapi kalau kamu sudah punya tekad baiklah aku akan segera infokan kepada CEO, hati-hati kita ketemunya di kantor, see you baby!"Aina hanya tersenyum menanggapi perkataan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"See you to again," balasnya Adina.
Arvin dan Arsyana turun dari mobilnya dan masuk ke dalam mobil kedua orang tuanya itu. Adina akan berangkat ke kantornya untuk menyerahkan surat keputusan yang sudah ditandatangani olehnya.
"Ya Allah… mungkin ini jalan yang terbaik untuk kami berdua, saya tidak ingin melihat Mas Aksa lagi kalau pun bisa semoga ini berlaku untuk selamanya, saya tidak ingin menjadikan diriku ini hidup dalam kesedihan dan kekecewaan yang akan menjadikan aku jadi manusia pendendam, aku hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan apalagi hatiku ini sangat sakit dan aku tidak bisa memungkiri jika hati ini akan sesakit ini adalah jika melihat mereka berdua," gumamnya Adian sambil menyetir mobilnya menuju perusahaan tempat ia bekerja selama hampir sepuluh tahun itu.
"Semoga saja Mbak Adina jika sudah di Seoul , akan mudah melupakan rasa sakit, kecewa dan kesedihannya," ucapnya Arvin seraya menatap intens ke arah kepergian mobil kakak kembarnya.
"Saya juga berharap Mbak di sana dapat bertemu dengan pria yang baik dan bertanggung jawab terhadapnya,agar segera move on dari pria lucknut dan bajingan itu," timpal Arsyana.
"Kalian harus mendukung apapun yang terbaik untuk kakak kalian dan doakan semoga kelak kembali ke tanah air bisa melupakan kenangan pahitnya selama ini," ujarnya Bu Citra dengan raut wajahnya yang sendu mengingat kemalangan yang menimpa kehidupan anak sulungnya.
"Betul sekali apa yang Mama kalian katakan, kewajiban kita hanya mendoakan yang terbaik untuk Adina dan dukung semua pilihannya apapun itu selama ini tidak melanggar syariat agama itu saja," ujarnya Pak Gunawan menambahkan.
Bu Citra Lestari memegang tangan suaminya," aku tidak akan pernah menyarankan apapun itu kepadanya karena aku tidak ingin membuat Adina menjadi terpaksa menjalani kehidupannya, cukup doakan, berikan dukungan moril dan masukan baik buruknya pilihannya itu," tuturnya Bu Citra.
Adina sudah sampai di lobi perusahaan, dia berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam lobi tersebut. Tetapi, tiba-tiba ada orang yang berjalan tergesa-gesa memakai kacamata hitam dan topi putih menabraknya.
Karena Adina yang terlambat bereaksi untuk menghindari tabrakan itu akhirnya dia hampir saja terhuyung ke arah belakang karena pertemuan mereka yang berlawanan arah.
__ADS_1
"Aauh jatuh!" Teriaknya Adina.