Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 14


__ADS_3

"Mungkin hari ini bisa ketemu dengan dia CEO yang membuat kamu penisirin banget," ucapnya Adelia.


"Bukannya terbalik,kamu tuh yang penasaran bukan saya kali," pungkasnya Adina yang tersenyum cekikikan menertawakan perkataannya Adelia itu.


"Iya juga yah, sejujurnya aku pengen lihat mereka apa dia orang yang sudah tua rambutnya sudah ada yang putih atau sudah punya istri dan anak tiga orang yang perutnya sudah mulai membuncit mungkin," imbuhnya Adelia Mallya.


"Hahaha ya Allah… kamu bayangin CEO kita seperti itu, kamu enggak mikirin jika wajahnya mungkin seperti ceo-ceo yang ada di film drama Korea Selatan yang wajahnya bening mengalahkan perempuan itu yang cakepnya enggak ketulungan," tampiknya Adina.


"Iya juga tapi saya yakini CEO kita ini saking jeleknya dan mungkin bisa jadi lumpuh sehingga malu dan tidak percaya diri untuk menampakkan dirinya sendiri di depan umum makanya selalu minder dan bersembunyi," jelas Adelia.


"Kamu yah pikirannya negatif mulu, jangan sampai loh lihat orangnya bisa berubah pikiran dan langsung jatuh cinta dan klepek-klepek malah," tampik Adina.


"Seganteng-gantengnya CEO nya aku tidak mungkin jatuh hati padanya, kalau kagum boleh bisa dibilang gitu, apalagi saya pecinta ciptaan Allah SWT yang maha indah, jadi mungkin tidak akan lewatkan hal seperti ini, walaupun saya sudah mencintai seseorang yang tidak kalah gantengnya dengan CEO manapun," terangnya Adelia dengan senyuman penutup ucapannya kali itu.


"Woooo amazing diam-diam kamu buat saya terkagum-kagum dan terkejut mendengar perkataan kamu ini,luar biasa tahu-tahunya sudah punya pacar, mengalahkan janda muda ini," candanya Adina yang sudah mematikan mesin mobilnya.


"Aay Mbak saja kali yang enggak mau nerima pria baru yang datang dalam kehidupannya Mbak, padahal banyak tuh yang antri menunggu jawaban Mbak saja," ucap Adelia.

__ADS_1


"Masa aku terima mereka padahal saya baru seminggu cerai, luar biasa banget kalau seperti itu bisa-bisa gue dicap janda bolong enggak tahan tanpa belaian Pria lagi," cercanya Adina lagi yang tersenyum simpul sambil keluar dari dalam mobilnya itu.


"Iya juga sih, tapi punya teman dekat juga enggak masalah kali masalah nikah kan mikirnya belakangan saja kapan siapnya saja enggak perlu terburu-buru juga asalkan secepatnya bisa move on dari mantan suami Mbak yang lucknut itu saja," jelas Adelia.


"Sudah berbincang-bincang masalah masa depan, kita lanjut masalah pekerjaan saja kita kan sudah diarea perusahaan," ucapnya Adina yang berjalan mendahului Adelia.


King dan Park sudah menunggu kedatangan mereka di depan lobi perusahaan dengan senyuman mereka yang cukup lebar.


"Selamat pagi dan selamat datang di Perusahaan Global Ones Tbk Bu Adina dan Adelia," ucap keduanya sambil membungkukkan tubuhnya mereka di hadapan Adina sebagai tanda penghormatan jika mereka kedatangan tamu.


"Selamat pagi juga Pak Kim dan Pak Park kami sungguh tersanjung disambut begitu hangatnya, padahal kami sama sekali tidak begitu menduga hal ini akan terjadi," tukasnya Adina yang tersenyum senang karena merasa kedatangannya disambut hangat oleh pegawai perusahaan tempat mereka akan bekerja selama lima tahun kedepannya.


"Makasih banyak atas bantuannya," imbuhnya Adina Anulika Maheswari seraya menundukkan kepalanya juga.


"Sama-sama Bu, kami sungguh merasa terhormat karena disambut dengan baik oleh kalian," tuturnya Adina dengan senyuman ramahnya itu.


"Kita masuk ke lift itu khusus petinggi perusahaan dan pegawai yang posisinya cukup tinggi, dari pada di sana pasti akan berdesakan," sarannya Kim Hyun Joong.

__ADS_1


"Baiklah makasih atas bantuannya," Adelia ikut menambahkan.


Mereka kemudian berjalan ke arah lift dan tanpa disadari dari arah yang berlawanan ternyata ada beberapa orang yang kebetulan juga akan memakai lift tersebut. Hingga tangannya Adina dan seseorang tanpa sengaja bersamaan untuk menekan tombol liftnya.


Adina menolehkan kepalanya ke arah orang itu yang memakai jas stelan kerja yang mampu membuat penampilannya sungguh menawan. Adina dan Adelia terkagum melihat rupawan dan ketampanan pria yang memiliki kharisma itu.


"Nikmat mana lagi yang engkau dustakan," gumam Adelia yang belum menyadari jika kekasihnya juga berdiri di samping kanannya itu.


"Maaf, silahkan Anda yang duluan saja, sepertinya Anda buru-buru" kilahnya Adina yang harus mengalah karena jika menginginkan berjalan masuk terlebih dahulu pasti akan dianggap terlalu menonjolkan dan menyombongkan dirinya sendiri dengan jabatannya yang hanya direktur pemasaran saja.


Pria itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ataupun menggubris perkataannya Adina. Mereka kemudian bergantian masuk ke dalam ruangan lift. Pak Park dan Kim menatap intens ke Azam sedangkan yang ditatap pun membalas tatapannya keduanya dengan penuh arti.


"Sepertinya tujuan kita sama di lantai sembilan jadi samaan saja," usulnya Abidzar.


Perkataannya Abizar mampu mengalihkan perhatiannya Adelia yang tidak menyangka jika pacarnya ternyata pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya itu.


Tatapannya tajam ke arah Pria yang sama sekali tidak memberikan kabar sebelumnya jika dia akan menyusul ke Korea Selatan.

__ADS_1


"Abang," cicitnya Adelia.


Laki-laki yang ditatap penuh kerinduan itu yang baru tiga hari tidak bertemu membuatnya merasakan kerinduan yang sangat tersenyum penuh kerinduan.


__ADS_2