Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 20


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa aku harus terlibat di dalam hubungan yang rumit mereka berdua, kenapa meski dengan saya harusnya menjadi pasangan pura-puranya, apa susahnya ngomong dengan tegas agar tidak ada lagi perempuan yang berharap padanya," umpatnya Adina sambil mendudukkan bokongnya ke atas kursinya.


Adina hanya keheranan dengan hidupnya itu, baru tiga hari di Seoul Korea Selatan, dia sudah terlibat dalam kasus dan kerjasama yang baginya cukup aneh dan tidak masuk akal.


"Semoga saja jadi pacar bohongannya tidak berlangsung lama,lagian kami tidak saling kenal awalnya dan baru kenalnya tadi saat mereka berada di dalam ruangan kantornya CEO," Lirihnya Adina seraya mulai mengoperasikan komputernya.


"Maksudnya apa Mas kok ngomong seperti itu?" Tanyanya Adelia Mallya penuh selidik yang menatap intens ke arah Anizar.


Abi menoel hidung mancung khas orang pribumi Indonesia itu," kamu tidak perlu mengetahui hal itu, ini rahasia seorang pria," elaknya Abidzar Atalarik Syach.


"Iiih Mas Abi main teka-teki segala, apa susahnya sih jujur," kesalnya Adelia yang memonyongkan bibirnya itu ke arahnya Abizar yang membuat kekasihnya itu tertawa terkekeh.


"Kamu juga nantinya akan tahu kok, tapi jangan sekarang waktunya akan ada saatnya kok, entar kamu tahu rencana kami jadi gagal dan berantakan," imbuhnya Abizar.


"Abizar Attalaric Syah! Sekarang sudah pinter main rahasia segala yah!" Ketusnya Adelia sambil mencubit lengannya Abi dengan cukup kuat.


"Aauhb sakit sayang!" Keluhnya Abi yang membuat pegangan tangannya dari atas setir mobilnya sedikit goyang hingga laju kecepatan mobilnya terganggu.


"Aahh sayang ada mobil di depan!" Teriaknya Adelia yang menutup rapat kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya saking takut dan cemasnya


Abi refleks dengan kecepatan dan kelincahannya mengendalikan kemudi mobilnya dengan tepat tanggap, sehingga mereka terhindar dari tabrakan.


Abi segera meminggirkan mobilnya ke arah samping dan sedikit was-was dengan kejadian yang barusan terjadi. Adelia sudah berkeringat dingin dan sedikit gemetaran saking takutnya dengan situasi dan kondisi yang terjadi.


"Mas Abi, apa Mas mau lihat aku jantungan apa!" Geramnya Adelia yang mengelus dadanya karena keterkejutannya itu.

__ADS_1


Abi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut kekasihnya itu.


"Kamu yah, ini semua terjadi gara-gara kamu juga sih yang cubit tangannya Mas, jika tidak pasti kamu tidak akan mengalami hal ini," tampiknya Abi sambil memeluk tubuh kekasihnya itu untuk berusaha membuat tenang Adelia.


"Astaghfirullah aladzim, aku masih muda dan belum nikah kalau sampai hal semacam tadi terjadi,hiks… hiks… aku tak sanggup," ratapnya Adelia yang membalas pelukan kekasihnya itu.


"Insya Allah… kamu tidak akan apa-apa jika Mas ada di sampingmu, jadi Mas harap kamu tenang saja dan jangan banyak pikiran yang tidak-tidak," imbuhnya Abizar.


Sedang di tempat lain, Adina berjalan ke arah pintu keluar lobi perusahaan setelah merasakan pegal yang menimpa sekujur tubuhnya enakan.


"Alhamdulillah akhirnya bisa pulang juga, walopun sedikit buang waktuku di dalam kantor seorang diri," gumamnya Adina yang segera merogoh handbagnya yang berwarna hitam senada dengan sepatu high heelsnya.


Azam sejak tadi berdiri di depan kap mobilnya sambil menunggu kedatangan Adina sang pujaan hatinya. Hingga sudut bibirnya terangkat ke atas ketika melihat seorang perempuan cantik dengan stelan kerjanya dipadukan dengan hijab pashmina sifon motif bunga-bunga yang begitu cantik menghiasi kepalanya itu.


Adina tidak menyadari bahwa dirinya sejak tadi ada seorang pria muda yang cukup tampan menunggu kepulangannya. Adina hanya berjalan kaki ke arah bagian kanan perusahaan dimana lokasi area parkiran mobil berada.


"Adina Anulika Maheswari!" Teriaknya Azam sambil berjalan ke arah Adina dengan senyuman tipisnya seperti biasa dan senyuman khusus dan spesial untuk Adina.


Adina segera menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.


"Pak Azam," cicitnya Adina yang kembali teringat beberapa kejadian yang tidak terduga di hari pertamanya kerja.


"Semoga saja pria itu tidak meminta hal aneh-aneh lagi seperti pagi tadi," lirih Adina yang berdiri mematung menunggu kedatangan Azam.


"Kamu mau pulang?" Tanyanya Azam yang sekedar berbasa-basi saja yang sudah berdiri tegak di depannya Adina yang tinggi tubuh mereka hampir sejajar.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah mau balik ke rumah Pak, emang ada apa yah?" Tanyanya balik Adina yang menatap tajam ke arah Azam.


"Apa boleh saya antar kamu pulang sekalian boleh temani saya makan malam, kalau kamu nggak keberatan," ucap Azam.


"Tapi, Pak sepertinya saya tidak ingin jika ke-kasihnya tiba-tiba muncul bikin kacau dan ulah lagi gimana dong Pak!?" Ujarnya Adina.


"Kalau masalah perempuan kurang kerjaan itu Alhamdulillah sudah saya amankan, kamu tidak perlu khawatir, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu," jelas Azam Khair.


Adina melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu yang jarum jamnya baru menunjuk pukul setengah sembilan malam.


"Baiklah saya setuju, tapi kalau bisa yang dekat dari rumahku saja, gimana Pak apa setuju dengan permintaan kecilku ini?" Usulnya Adina.


"Saya sangat setuju, apapun yang kamu katakan saya pasti setuju yang paling penting kamu bahagia," imbuh Azam.


"Kalau pak Azam berjalan kaki dari sini ke sana tanpa memakai alas kaki gimana?. apa juga akan setuju dengan keinginanku untuk sederhana ini?" Pintanya Adina yang mau melihat sikap keseriusan, kesungguhan dan ketegasan pria ini agar bisa lebih aman dan tenang menjalin hubungan yang saling menguntungkan walaupun hanya sekedar berpura-pura saja yaitu niatnya Azam hanya berpacaran bohongan, tetapi niat serius sebenarnya.


Azam hanya tersenyum mendengar perkataan dari mulutnya Adina yang memintanya berjalan sambil tidak memakai sepatu atau alas kaki apapun yang membungkus dan melindungi kakinya itu.


Azam segera melepas kedua pasang sepatunya dan juga kaos kakinya. Dia tidak gentar dan banyak pikir langsung mengiyakan dan menjalankan perintahnya Adina. Ia melihat kesungguhan dan keseriusan dari Azam, segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Azam.


"Stop! Please berhenti Pak Azam!" Jeritnya Adina yang meminta kepada Azam untuk segera berhenti.


Azam tersenyum sangat tipis hingga tidak ada yang melihat senyumannya yang begitu tipisnya.


"Tidak perlu berjalan lagi Pak, saya enggak mau sempat ada yang melihat apa yang dilakukan oleh pak Azam membuat pamor Anda sebagai menejer personalia lagi, saya juga gak mau tanggung jawab kalau kakinya lecet hanya candaan saya," tegasnya Adina.

__ADS_1


Azam tanpa menghentikan langkah kakinya itu," enggak apa-apa kok, mumpung menikmati indahnya kota Seoul malam hari, lagian seumur hidup baru kali ini aku berjalan tanpa memakai alas kaki, anggap saja ini pengalaman pertama," tuturnya Azam.


__ADS_2