Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 30


__ADS_3

Setelah Adina Malika mengetahui siapa otak dan pelaku kejadian dan insiden tabrakan maut yang menimpa dan melibatkan papa dan juga adiknya itu. Adina segera menyewa pengacara untuk segera memenjarakan perempuan itu.


"Pak Azam apa boleh aku meminjam pengacara keluarganya Bapak, aku butuh banget pengacara hebat untuk menangani kasusnya Papa dan adikku Arvin, aku ingin hari ini juga perempuan lucknut yang bernama Avanti Arman itu mendekam dan membusuk dalam penjara!" Murkanya Adina.


"Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir, tim pengacaraku sudah bergerak dan Avanti bersama antek-anteknya sudah dalam proses penangkapan semoga saja hari ini mereka segera dijebloskan ke dalam penjara dan menerima hukuman atas segala perbuatannya sendiri!" Timpalnya Azam yang menyakinkan perempuan yang disayanginya itu.


Beberapa hari kemudian sekitar satu minggu lebih, Adina, Arsyana dan Azam bergantian menjaga papa,mama dan adiknya di rumah sakit. Kondisi kesehatan mereka pun perlahan pulih dan sedikit membaik dari sebelumnya.


"Alhamdulillah Mama hari ini bisa pulang ke rumah, Arvin juga sudah bisa keluar dari rumah sakit sedangkan Papa insya Allah besok atau lusa baru bisa pulang," ucapnya Adina sambil mengemasi semua barang-barang milik mamanya itu.


"Makasih banyak Nak, kamu dan adikmu selalu hadir di rumah sakit jagain kami, bahkan gara-gara kami pekerjaan kalian terbengkalai," ucapnya sesal Bu Vidia dengan wajah sendu.


Adina tersenyum simpul ke arah mamanya itu," astagfirullah aladzim jangan berkata seperti itu Mama, dalam hubungan anak dan ibu tidak ada kata merepotkan, menyusahkan atau berterima kasih karena ini sudah menjadi tanggung jawab dan bakti kami sebagai putrimu Ma, saya berharap agar Mama tidak merasa terbebani dengan permasalahan ini," pungkasnya Adina.


Arsya berjalan masuk ke dalam kamar perawatan mamanya dengan mendorong kursi roda milik abangnya yang belum kuat untuk berjalan sendirian.


"Bagaimana apa kalian sudah siap pulang ke rumah?" Tanyanya Arsyana yang baru datang.


"Alhamdulillah, insya Allah siap lahir batin pulangnya, kamu temani mereka pulang yah karena Mbak harus standby di rumah sakit jagain Papa, Insha Allah ada beberapa anak buahnya Pak Azam yang akan bantuin kalian mobilnya pun sudah terparkir di depan," jelasnya Adina.


"Kalau gitu kami pamit pulang dulu nak, ingat jaga diri baik-baik dan jaga kesehatanmu, kami pulang dulu kalau ada apa-apa sama papa kamu telpon adikmu jangan sungkan atau pun segan untuk menghubungi nomor hpnya adikmu yah Nak," pintanya Bu Vidia yang berharap anak sulungnya mendengarkan nasehatnya itu.


Adina tersenyum lembut," siap Ma, tapi saya masih bisa dan sanggup handel semuanya kok dengan baik, Mama sama yang lainnya tenang saja,"


Percakapan mereka terhenti karena beberapa perawat dan pria berpakaian seragam hitam sudah datang menjemput ketiganya untuk balik ke rumah.


Hari ini Adina dan Azam akan berangkat ke pengadilan untuk menyaksikan langsung acara tuntutan yang akan dibacakan oleh penuntut umum atas kasus yang dialami oleh Avanti. Mereka berdua ingin melihat perempuan bejak dan penjahat itu menerima hukumannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapanya Azam Khair Hamiz dengan senyuman yang selalu tersungging di sudut bibirnya itu.


Adina yang sedang membantu papanya minum obat setelah makan pagi segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Waalaikum salam," jawab keduanya.


Azam datang dengan membawa beberapa buah tangan seperti sebuket bunga mawar putih, parcel buah dan sebuah paper bag yang berisi kue kesukaan calon bapak mertuanya itu.


"Makasih banyak atas semuanya Nak Azam, tapi kenapa meski harus repot-repot segala bawain bapak makanan, kamu datang menjenguk bapak itu sudah cukup membuat bapak bahagia," ujarnya Pak Alvian Dharmawan Maheswari.


"Insya Allah kalau masalah seperti setiap hari pun saya tidak akan pernah merasa keberatan kok Pak, lagian saya ikhlas dan suka jika apa yang saya lakukan disukai oleh orang lain terutama khusus untuk perempuan yang saya sayangi," ungkapnya Azam yang tatapan matanya memuja ke arah Adina Mahalika Maheswari.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, katanya Adina kalian berdua akan ke pengadilan untuk melihat perempuan itu diadili?" Tanyanya Pak Alvian yang sambil bersandar ke headboard ranjangnya.


"Iya nih Pak, rencananya saya dengan pak Azam akan segera berangkat takutnya kami terlambat lihat wajah terpuruknya wanita brengsek itu," ketusnya Adina.


"Adina jangan seperti itu,ada hukum dan Allah SWT yang akan menghukum mereka jangan mau jadi manusia yang penuh dengan amarah dan kebencian gara-gara Avanti," tukasnya pak Alvian.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di dalam ruangan pengadilan yang cukup padat dan ramai didatangi oleh orang-orang untuk melihat langsung Avanti diadili.


Adina bersyukur dan lega karena hakim ketua dan pengadilan memutuskan menjatuhkan hukuman dua belas tahun penjara. Ketuk palu pengadilan menandakan Avanti sudah sah dan resmi menjadi tahanan rumah tahanan rutan salah satu penjara di Jakarta.


Avantie berusaha berjalan ke arah Adin dan Azam "Adina!! Perempuan peee laaa cuuur, ini semua gara-gara kamu aku harus di penjara!!" Geramnya Avanti yang hendak mengejar Adina tapi apa yang dilakukannya segera dicegah oleh beberapa polisi wanita polwan.


"Bu Avanti bekerja sama lah jika tidak hukuman Anda akan ditambah lebih berat lagi!" Ancamnya polwan tersebut.


Adina dan Azam hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Avanti tanpa berniat untuk menimpali hinaan dan teriakannya Avanti.

__ADS_1


Mereka segera pulang ke rumah sakit,tapi di dalam perjalanan tiba-tiba Azam menghentikan laju kendaraannya dan menepikan mobilnya ke badan jalan.


Adina terkejut ketika melihat ada banyak orang yang membawa banyak bunga mawar semua warna ada. Putih, merah, ungu, kuning, pink. Dan di tengah bunga itu ada tulisan Will Marriage Mee Adina Anulika Maheswari.


Adina menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat mobil yang ditumpanginya itu sudah dikelilingi karangan bunga dan buket bunga yang cukup besar dan raksasa itu.


Adina menatap intens ke arah Azam," Pak Azam maksudnya ini apa?"


Azam segera mengambil sebuah kotak buludru berwarna merah dari dalam saku jasnya itu.


"Adina Anulika Maheswari apakah kamu bersedia menjadi calon bidadari surgaku, menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" Pintanya Azam.


Adina bukannya menjawab pertanyaan dari Azam melainkan Ia tersedu-sedu menangis dalam kegembiraannya.


"Aku bersedia menjadi teman hidupnya bapak Azam Khair," jawabnya Adina yang tidak berfikir panjang langsung menyetujui permintaan dari atasannya itu karena memang ia juga menyukai pria yang ganteng, baik hati, sholeh dan penuh tanggung jawab.


Azam segera menarik tubuhnya Adina kedalam dekapan hangat pelukannya itu. Mereka pun bahagia dengan pilihan hidup mereka masing-masing.


Semuanya hidup dalam rasa damai dan bahagia yang tidak terkira. Karir, pekerjaan, usaha, percintaannya mereka semuanya berjalan lancar dan mulus hingga mereka memutuskan untuk menikah.


Bahagia adalah idaman dan cita-cita setiap insan manusia.


Mampir dong Kak ke novel baru aku judulnya:


Satu atap dua hati


Pamanmu adalah jodohku

__ADS_1


Belum Berakhir


...--------TAMAT--------...


__ADS_2