
Adina dan Azam segera balik ke Indonesia dari Seoul Korea Selatan ke Jakarta. Adina tidak mungkin pulang ke Jakarta karena papanya masuk rumah sakit.
Azam segera menenangkan Adina dengan menggenggam erat kepalan tangannya Adina dan sesekali mengecup punggung tangan itu. Adina ingin menarik tangannya dari dalam tangan Azam, tetapi selalu dicegah.
"Biarkan seperti ini, walaupun hanya sekejap saja, please!" Mohonnya Azam.
Adina pasrah dengan permintaan dari Azam, walaupun sebenarnya risih diperlakukan seperti itu.
"Ya Allah… jaga dan lindungilah adikku dan papa, aku tidak akan bisa bernafas dengan baik jika terjadi sesuatu pada mereka," batinnya Adina.
Adina dan Azam sama-sama tidak bisa beristirahat dengan tenang, Adina terus memikirkan kondisi papanya sedangkan Azam memikirkan bagaimana caranya melamar Adina agar tidak ditolak.
__ADS_1
Azam melirik sekilas ke arah perempuan yang sudah buat harinya penuh warna," Adina Anulika Maheswari, saya akan segera melamar mu apapun yang terjadi kamu harus menjadi milikku seorang,bukan pria lain,"
Berita tentang kepulangan Azam dan Adina sampai di telinga mantan suaminya, Adina dan Azam turun dari pesawat terbang dengan berjalan tergesa-gesa. Ia tidak ingin terlambat ke rumah sakit.
"Ya Allah… kenapa hatiku seperti ini, aku berasa akan ada hal besar yang terjadi, ya Allah tenangkanlah hatiku ini," gumamnya Adina yang mempercepat langkahnya menuju pintu keluar bandara tanpa peduli dengan Azam.
Aksa Adinata yang mengetahui kepulangan Adina sejak sekitar setengah jam yang lalu sudah menunggu kedatangannya. Aksa berharap Adina memikirkan agar bisa rujuk dan menikah kembali setelah perceraian mereka.
Adina reflek memukul orang menarik tasnya itu," hey!! stop dasar pencuri berani-beraninya ingin mengambil tasku!? rasakan ini akibatnya,"
Aksa segera melindungi dirinya dari pukulannya Adina yang tidak tanggung-tanggung itu.
__ADS_1
"Adina, ampun ini mas Aksa! tolong berhenti sakit!" cegahnya Aksa yang berusaha menutupi wajahnya itu.
Adina menatap intens ke arah wajah pria yang mengaku Aksa tersebut, Adina melototkan matanya saking terkejutnya melihat siapa orang yang dipukulnya itu dengan kekuatan penuh.
"Astagfirullah aladzim mas Aksa, maaf saya tidak sengaja," sesalnya Adina yang berusaha menahan tawanya melihat wajahnya Adina yang bonyok, memar membiru dan keningnya beberapa muncul benjolan.
Aksa meringis menahan perihnya luka yang dialaminya dan dideritanya itu. Adina membantu Aksa mengambil obat salep yang kebetulan yang ada di dalam tasnya.
Adina mengulurkan tangannya ke hadapan Aksa di dalam genggaman tangannya terdapat salep khusus untuk luka memar, "Saya sangat meminta maaf atas khilafku, saya sumpah tidak sengaja melakukannya, mas juga narik-narik tasku enggak ngomong sebelumnya, mas kan tahu kalau saya kaget seperti ini sudah kejadiannya," imbuhnya Adina yang semakin tidak kuasa menahan tawanya itu.
"Adina apa kamu lupa kalau kita akan ke rumah sakit, ingat papamu dalam keadaan kritis sepertinya tidak ada gunanya berlama-lama di sini apalagi bercanda bersama pria yang tidak tahu diri seperti mantan suamimu ini!" sarkasnya Azam yang sangat tidak menyukai Aksa mantan suaminya wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Adina menolehkan kepalanya ke arah Azam," iya juga, aku lupa kalau pria seperti dia tidak perlu diajak bercanda hanya berujung buang-buang waktu saja," ucapnya Adina yang tertawa cekikikan.