Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 25


__ADS_3

Perempuan yang disapa Amber itu segera terdiam dan tak berkutik oleh bentakan yang dilayangkan oleh Ameer Khalid, Pria yang beberapa bulan terakhir ini menjadi teman tidurnya yang selalu menghangatkan ranjangnya Ameer dikala kedinginan dan buruh belaian dari seorang perempuan.


Amber hendak memeluk tubuhnya Amer dari belakang, tapi segera dicegah oleh Ameer karena masih berkomunikasi dengan atasannya, sekaligus sahabatnya sendiri.


"Sayang," ucapnya dengan manja Amber.


Ameer segera memberikan kode dengan tatapan membunuhnya, seraya mengarahkan telunjuknya di atas bibirnya, agar segera terdiam. Amber seumur hidupnya baru kali ini diperlakukan seperti itu, selama mereka saling berhubungan dan memberikan kesenangan dan kenyamanan masing-masing.


"Abang Ameer berbicara dengan siapa sih? Baru kali ini membentak ku seperti sekarang ini, apa jangan-jangan pria itu lebih berkuasa dan memiliki harta yang lebih banyak dari Ameer? Sepertinya aku harus cari cara untuk mendekati beberapa orang-orang yang menjadi sahabatnya, kalau dapat menaklukkan salah satu temannya itu kan hal yang cukup menakjubkan dan luar biasa banget," gumamnya Amber Larasati dengan tatapan penuh kelicikannya.


Amer melirik sekilas ke arah Amber yang tiba-tiba terdiam tanpa sepatah katapun tetapi, dari raut wajah dan binar pancaran bola matanya menunjukkan bahwa ada hal yang penting sedang dipikirkannya itu.

__ADS_1


"Jangan harap kamu bisa melaksanakan apa yang ada di dalam pikiranmu, sepertinya aku harus mencari cara lain agar segera mengakhiri hubunganku dengan wanita matre ini, sudah cukup lama aku berikan kebahagiaan dengan uangku sedangkan dia sama sekali tidak berniat untuk serius menjalani hubungan kami, aku yakin di luar sana masih banyak perempuan yang terhormat dan baik bisa menerima cintaku," bathinnya Ameer.


Amber tersenyum-senyum penuh arti dan sudah berkhayal bisa berkenalan dengan sahabat-sahabatnya Amer kekasihnya itu.


Ameer kembali melanjutkan percakapannya dengan Azam Khair melalui sambungan telepon, "Itu masalah kecil bos kan di tangannya sendiri bos keputusannya, saya sih hanya perantara doang bos, kan Anda yang nentuin semuanya pak CEO Azam yang terhormat," candanya Ameer sembari memakai pakaiannya dengan asal.


Amber tersenyum mendengar ucapan dari Ameer yang menyebut namanya Azam.


Ameer kembali melirik sepintas lalu ke arah Amber yang terdiam dengan senyuman licik terbit dari sudut bibirnya itu.


"Jangan berharap kamu mendekati teman-temanku, aku tahu maksud dari tatapan kamu, memang wanita sepertimu tak pantas aku pertahankan berada di posisi di samping kehidupanku," gumamnya Ameer kemudian menutup telponnya itu.

__ADS_1


Azam dan Adina balik ke Indonesia, mereka pulang dengan jadwal keberangkatan pesawat pertama. Adina tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Papa dan adik kembarnya itu.


Informasi terakhir yang dia dapatkan dari adik bungsunya yaitu bernama Andara adalah papanya setelah dilakukan operasi penyelamatan kepadanya, tiba-tiba mengalami kondisi yang cukup kritis dan parah.


Adina menutup matanya tapi, mulutnya terus komat kamit membaca doa keselamatan untuk anggota keluarganya yang mengalami kecelakaan.


"Ya Allah… selamatkan lah papaku dan juga Arvin saya tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka, Mama pasti sangat sedih dan terpukul mengetahui Papa harus koma," lirihnya Adina.


Azam segera menenangkan Adina dengan menggenggam erat kepalan tangannya Adina dan sesekali mengecup punggung tangan itu. Adina ingin menarik tangannya dari dalam tangan Azam, tetapi selalu dicegah.


"Biarkan seperti ini, walaupun hanya sekejap saja, please!" Mohonnya Azam.

__ADS_1


Adina pasrah dengan permintaan dari Azam, walaupun sebenarnya risih diperlakukan seperti itu.


__ADS_2