Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 9


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Adina sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya dan hanya tersisa rawat jalan saja dan beberapa kali kontrol cekup kesehatan untuk mengetahui perkembangan kesehatannya.


Bu Citra dan pak Gunawan duduk di samping ranjang putri pertamanya itu sambil menatap sendu ke arah anaknya.


"Putriku apa keputusanmu untuk bercerai dengan Aksa sudah bulat? Papa tidak ingin kamu melakukannya karena emosi sesaat dan mengubah pendirianmu, kami sebagai orang tuamu mendukung apapun yang sudah menjadi keputusanmu itu, seperti halnya dengan sewaktu kamu dulu ngotot untuk menikahi pria bajingan dan lucknut itu yang tidak tahu balas budi!" Geramnya pak Gunawan.


Arvin pun ikut menambahi," saya sebenarnya sudah mengetahui kebusukan dan kebusukan pria brengsek itu, dan aku pun memperingatkan berulang kali kepada Mbak Adina, tetapi selalu tidak ingin percaya dengan perkataan ku," cercanya Arvin sambil meninju sofa yang didudukinya itu dengan meluapkan amarahnya mengetahui kakak iparnya adalah penyebab kematian dari calon keponakannya itu.


Bu Citra mengelus punggung lebar putranya itu," sudah, tidak ada lagi gunanya untuk berdebat dan menyesali semua masalah yang menimpa rumah tangganya kakakmu yang terpenting sekarang mereka akan segera bercerai dan mengusir perempuan dan pria tidak berguna itu dari dalam rumahnya Adina untuk selamanya, kita hanya menunggu beberapa hari lagi sidang perdana perceraiannya, Ingat jangan sekali-kali mengungkit ataupun membuka luka Adina agar segera move-on dan melupakan semua kepahitan yang ada di dalam hatinya itu," jelasnya Bu Citra.


Adina pun angkat bicara," saya sudah yakin dengan keputusanku ini, insya Allah… saya tidak akan pernah merubah niat dan pilihanku ini, saya tidak ingin hidup berbagi suami dengan wanita lain makanya aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku ini, kalian tidak perlu mencemaskan masalahku, saya pasti bisa melewati semuanya dengan ikhlas, tegar dan sabar karena berkat dukungan dan kasih kalian sehingga masa sulit ini pasti akan aku lewati," ungkapnya Adina yang tidak ingin bersedih dan meratapi perpisahannya itu.


"Kami akan mendukung apapun yang sudah kamu putuskan, harapan kami sekarang kamu secepatnya bisa sembuh dan kembalikan beraktifitas seperti dulu lagi, masalah jodoh kalau kamu ditakdirkan untuk menikah lagi, insha Allah akan ada jodoh yang paling terbaik yang Allah SWT persiapkan untukmu Nak, jadi jangan sedih dan kamu harus bangkit, karena kamu wanita kuat," imbuh Pak Gunawan sambil memeluk tubuh putrinya yang duduk di atas ranjangnya.


Adina hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari papanya yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.


Satu minggu kemudian, perceraian mereka pun sudah resmi diputuskan oleh pihak pengadilan agama setempat. Ketukan palu hakim pertanda Adina sudah resmi menjadi seorang janda diusianya yang masih muda itu.

__ADS_1


Aksa sama sekali tidak menerima keputusan itu,dia bahkan menentang dan membuat kerusuhan di dalam pengadilan. Kedua orang tuanya Aksa pun turut hadir di dalam pengadilan itu serta keluarga besarnya Adina Anulika Maheswari.


"Adina saya tidak ingin bercerai denganmu! Aku mohon minta kepada hakim ketua untuk membatalkan perceraian kita!" Teriaknya Aksa yang berdiri dari posisi duduknya itu dan berjalan ke Adina yang sudah berdiri dari kursi pesakitan di depan meja hijau.


Arvin segera menghalangi jalannya Aksa yang sudah ingin menggapai tangan kakak kembarnya.


"Stop!! Kamu itu sudah tidak punya hak untuk menyentuh lagi Adina,dia sudah bukan istrimu dan siapa-siapa kamu, ingat statusmu dan jaga batasanmu jika tidak saya akan laporkan kamu ke polisi!" Gertaknya Arvin sambil menyentuh dadanya Aksa agar tidak bisa menggapai tangannya Adina.


Bu Ainun dan Pak Adithama membantu Arvin dengan memegangi tangannya Aksa.


"Aksa! Stop jangan bertingkah seperti anak kecil, ingat semua ini terjadi padamu karena kesalahan kamu sendiri yang terlalu tamak dan egois yang harus serakah menikahi dua perempuan sekaligus! Jadi ini semua konsekuensi kamu sendiri yang harus menanggung beban penderitaan," Geramnya Pak Aditama sebagai papanya Aksa memang tidak menyukai Avanti dan murka setelah mengetahui apa yang terjadi pada anak menantunya itu.


Adina hanya melirik sekilas ke arah Aksa bahkan dia tidak sudi untuk menatap mantan suaminya sekaligus pria yang sudah menorehkan luka yang sangat dalam di dalam hidupnya.


Pria yang sama sekali tidak pernah bersikap dan berlaku kasar padanya itu yang tiba-tiba ketahuan perbuatannya. Pepatah mengatakan sepintar-pintarnya tupai melompat pasti akan jatuh juga.


Itu lah hukum yang berlaku di dunia ini, Aksa merasa apa yang dilakukannya itu akan selamanya tertutupi dengan rapat-rapat dan tidak akan ketahuan oleh orang lain terutama Istrinya.

__ADS_1


Avanti berjalan cepat untuk menghadang langkahnya Adina yang juga berjalan cepat, "Mbak Adina, kenapa sama sekali tidak memberikan sedikitpun harta gono gini kepada Mas Aksa? Kenapa Mbak ingin menguasai semua harta itu padahal kalian berdua sama-sama bekerja, tidak mungkin semua rumah yang Mbak akan jual itu memakai semua uang pribadinya Mbak," cercanya Avanti.


"Akhirnya pelakor menampakkan batang hidungnya juga, ya elah… tidak tahu malunya berbicara seperti itu kepada kakakku, hey apa kamu lupa jika suamimu tercinta itu hampir setahun tidak bekerja sedangkan mereka menikah hanya dua tahun lebih saja dan apa kamu tidak mengetahui berapa gaji suamimu setiap bulannya!? Dan kamu perlu tahu rumah itu sudah dibeli oleh kakakku sebelum mereka dijodohkan dan lagian gaji suamimu itu bagi enamnya dari gaji kakakku yang tidak seberapa itu, apalagi kamu juga sudah numpang hidup!" Sarkas Arsyana yang pasang badan ketika melihat Avanti datang mengejar mereka.


Sedangkan Adina hanya duduk manis di dalam mobilnya itu dengan tenang dan anteng tanpa sedikitpun terprovokasi dan terusik oleh perbuatannya Avanti yang menuntut hak suaminya.


"Tapi, gimanapun pasti ada beberapa barang sudah dibelikan oleh Mas Aksa selama kalian menikah, mungkin seperti cincin atau emas berlian," ucapnya Avanti yang tidak mau menyerah dengan keadaan suaminya yang jatuh miskin setelah bercerai dengan Adina madunya itu.


Adina akhirnya turun dari mobilnya itu dan memperbaiki hijabnya terlebih dahulu sebelum turun dari mobilnya, "Lucu yah, kamu apa kamu mengetahui selama pernikahan saya yang dua tahun lebih tiga bulan itu hanya ini cincin pernikahan kami yang dia berikan padaku," Adina menjeda perkataannya melihat kedatangan Aksa dan kedua orang tuanya itu.


Ibu Ainun menarik tangannya Avanti untuk berhenti bertingkah dan membuat masalah semakin rumit saja.


"Avanti,saya mohon stop jangan seperti ini terus untuk mempermalukan dirimu sendiri dengan membuka aib kalian di depan umum," cibirnya Bu Ainun mantan mertuanya Adina.


Adina hanya berdiri dengan santai di depan Avanti yang sudah semakin tersulut emosinya," bahkan suamimu itu yang numpang hidup dengan belas kasihku selama ini,jadi jangan sok tahu deh dengan semua masalah keuanganku, maaf bukannya saya tidak menghargai pemberian dari suamimu itu,tapi karena kamu yang terlebih dahulu mengungkit dan menuntut serta mencari semua uangnya Mas Aksa, makanya aku beberkan dan perjelas soal itu di depan semua orang, kalau tidak percaya tanyakan padanya,dia pasti belum pikun dan mengingat dengan baik dan jelas!" Ungkapnya Adina.


"Woi sadar diri kenapa, coba tanyakan pada suami tercinta Anda, berapa sih gajinya perbulan? Tidak mungkin lah suami sendiri tidak kamu ketahui jumlah nominal gajinya perbulan, kecuali kalau dia tutupi dari kamu ataukah selalu memanjakanmu dengan uang yang banyak karena hasil dari morotin istrinya!" Cibirnya Arsyana.

__ADS_1


"Arsy,kita pulang saja ngapain urusin masalah sepele seperti itu, anggap saja mereka hanya tembok usang, buang-buang waktu saja ladenin mereka," sarkas Adina yang segera masuk kembali ke mobilnya.


__ADS_2