Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 29


__ADS_3

Azam dan Adina sudah sampai di rumah sakit dan segera berjalan ke arah bagian dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa. Mereka tidak ingin terlambat sampai di rumah sakit.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah adik dan papaku, jangan biarkan mereka meninggalkan kami dan berikanlah kesabaran dan ketabahan kepada Mama,"


Arsyana yang melihat kakaknya datang segera berjalan menghampiri dan menyambut kedatangan kakaknya dari Korea Selatan Seoul.


"Mbak Adina hiks… hikss mama terkena serangan jantung gara-gara melihat Papa koma, Mas Arvin juga sudah dua kali menjalani operasi," ratapnya Arsya adik paling bungsunya Adina Anulika Kusnadi.


Adina berusaha tegar dan sabar setelah melihat langsung kondisi dari kedua keluarganya itu.

__ADS_1


"Kamu harus sabar semua ini sudah menjadi kehendak dari Allah SWT yang maha kuasa, bersabarlah dek Mbak akan mencari keadilan untuk Papa dan untuk semuanya, aku berjanji akan menghancurkan hidup orang yang telah berbuat seperti ini pada kita," geramnya Adina yang masih berpelukan dengan adiknya itu sembari membujuk adik paling bontot nya.


Adina juga ikut menangis melihat ketiga orang terpenting dalam hidupnya berbaring lemah di dalam rumah sakit. Adina berjanji akan mencari siapa pun pelakunya dan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan kejahatannya itu.


Adina terduduk di atas kursi tunggu pasien, semakin berusaha untuk dia tahan laju aliran air matanya semakin menetes juga tidak tertahankan. Ia pun tersedu-sedu meratapi nasib malang anggota keluarganya sambil menggenggam erat kepalan tangannya itu.


"Adina ada yang ingin Abang katakan padamu tapi, aku harap kamu bisa tenang dan sabar jangan gegabah," bujuknya Azam.


Adina menolehkan kepalanya ke arah Azam dengan melototkan kedua pasang matanya itu, karena entah kenapa perasaannya mengatakan ada keanehan yang tersirat dari nada bicaranya Azam.

__ADS_1


"Katakan saja Pak Azam, Anda tidak perlu sungkan seperti ini katakan saja," tegasnya Adina yang tidak suka bertele-tele dalam berbicara apalagi dalam keadaan yang urgen dan genting seperti ini.


"Orang yang telah mencelakai adik dan papamu adalah Avanti istrinya Aksa Adithama mantan suamimu sendiri yang menyewa orang untuk menabrak mobil yang dipakai oleh Papamu Pak Kusnadi Gunawan yang dikemudikan oleh Arvin Arsenio," ungkapnya Azam dengan tegas dan penuh keyakinan.


Adina tersentak terkejut refleks berdiri dari tempat duduknya itu," Avantie Adiwijaya! Ternyata perempuan lucknut dan brengsek itu yang berniat ingin membunuh keluargaku, baiklah saya tidak akan melepaskanmu dan bahkan bakalan hidupmu lebih menderita dari ketiga anggota keluargaku aku akan membalas melebihi dari apa yang kamu perbuat, jangan sebut namaku Adina Anulika Maheswari jika aku tidak membalas kejahatanmu lebih kejam dari ini," umpatnya Adina yang sudah terbakar api amarah dan dendam yang hatinya sudah dipenuhi kebencian.


Arsya memegangi lengannya Adina," Mbak harus sabar jangan Mbak sendiri yang bertindak serahkan semuanya pada pihak yang berwajib, aku yakin polisi akan menghukumnya dengan setimpal jangan mengotori tangannya Mbak dengan kejahatan pula," cegahnya Arsyana Antika yang berusaha untuk menenangkan kakak sulungnya itu yang kemarahannya sudah dipuncak ubun-ubunnya.


"Dasar wanita sialan, dulu aku masih berbaik hati dan punya perasaan kamu datang dalam kehidupanku yang tenang dan merebut Aksa, tapi aku masih bisa sabar tapi kali ini ceritanya berbeda aku akan memberikan kehidupan yang lebih buruk dari kematian!" Geram Adina yang berapi-api kemarahannya yang bergejolak.

__ADS_1


__ADS_2