Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 6


__ADS_3

Pak Gunawan Sandi Maheswari mengelus punggung istrinya itu yang bergetar hebat dalam tangisnya, "Kita harus sabar Ma, semua ini sudah menjadi kehendak Allah SWT, Allah SWT lebih menyayangi cucu kita dari pada kita semua Ma," imbuhnya Pak Gunawan.


"Ya Allah… semoga saja Adina bisa sabar menghadapi ujian dan cobaan yang begitu besar melanda dirinya, padahal dia sangat bahagia dan tidak sabar ingin melihat putri cantiknya yang sudah pergi untuk selamanya," imbuh Bu Dewi Puspitasari.


Adina yang masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan keadaannya, sudah dipindahkan ke dalam ICU untuk mengamati perkembangan kesehatannya. Semua orang mengikuti langkah beberapa perawat yang kebetulan mendorong bangkar yang di atasnya sudah ada Adina Anulika Maheswari yang masih tidak sadarkan diri dan sangat lemah tak berdaya setelah mengalami kehilangan banyak darah dan bayinya yang sangat dicintainya itu.


Aksa sejak Adina dipindahkan ke ruang rawat inap setelah melalui masa kritisnya, Aksa tidak pernah pindah dan pergi selangkah pun dari sisinya Adina. Aksa tak bosan-bosannya memegangi tangannya Adina dan mengecupnya sekilas.


"Ya Allah… aku suami yang tidak becus menjagamu sehingga kamu mengalami hal yang seperti ini, maafkanlah aku sayang istriku, aku janji tidak akan menyakiti dan membuat kamu sedih dan terluka lagi," lirihnya Aksa Muhammad Adithama.


Arsyana menatap intens ke arah Avanti yang tidak mau jauh dari tempat duduknya Aksa.


"Mbak Avanti,apa tidak masalah jika Mbak terus menerus meninggalkan anaknya Mbak di rumah bersama dengan asisten rumah tangga saja?" Tanyanya Arsyana yang hendak ingin mengusir Avanti dari dalam ruangan inap Adina.


Avanti segera mengalihkan perhatiannya ke arah Arsyana adik bungsunya Adina.


"Ohh iya saya lupa dengan anakku sendiri saking khawatirnya aku sama kondisinya Mbak Adina, kalau begitu aku pamit pulang dulu, kalau Mbak Adina sadar tolong kabari aku yah," kilahnya Avanti yang mengalihkan pembicaraannya.


"Kak Arvin bisa minta tolong, pulang ke rumahnya Mbak Adina, sepertinya butuh pakaian ganti untuk Mbak, karena yang 9 yang dibawah oleh Mbak Avanti," jelas Arsya yang memeriksa tas perlengkapan bayinya Adina kakaknya itu.


"Kalau gitu apa aku bisa nebeng pulang bersama kamu?" Harapnya Avanti ke hadapan Arvin.


"Boleh saja lagian aku juga mau ke sana sekalian kamu ikut bareng aku saja, Mama saya pamit mau ke rumahnya Mbak dulu," pamitnya Arvin ke arah ibunya sambil mengecup sekilas punggung tangan ibunya itu dengan penuh takzim.


"Iya nak,kamu hati-hati yah, jangan ngebut bawa mobilnya,"ujarnya Bu Citra yang masih sesekali menyeka air matanya itu yang masih menetes membasahi pipinya jika harus kembali mengingat kejadian yang menimpa anak keduanya itu.


Keesokan paginya, barulah Adina tersadar dari tidur panjangnya itu. Bu Citra, Bu Dewi dan kedua pasangan suami mereka sudah balik ke rumah masing-masing. Arsyana sendiri yang meminta mereka untuk pulang beristirahat dan akan bergantian untuk berjaga di rumah sakit untuk menjaga Adina.


Arsya yang baru beberapa menit yang lalu matanya terpejam dan tidur karena, semalaman berjaga untuk menunggui kakaknya. Sedangkan Aksa baru saja melaksanakan shalat subuh dua rakaat dan sudah duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya Aida tertidur.

__ADS_1


"Air, saya haus sekali," lirihnya Adina yang melihat sekitarnya dan melihat suaminya dan adiknya yang sedang tertidur.


Aksa yang mendengar suara lirihnya Adina segera bangkit dari duduknya itu lalu dengan gesit dan telaten mengisi air ke dalam gelas kemudian diberikan kepada Adina.


Adina langsung menolehkan kepalanya ke arah lain dan enggan untuk melihat ke arah lain seraya menepis tangannya Aksa yang memegang sebuah gelas. Karena Aksa yang tidak siap mendapatkan dorongan tanpa menggunakan kekuatannya Adina, hingga gelas itu terjatuh ke atas lantai.


Prang!!


Brukk!!


Suara benda terjatuh itu mampu membuat Arsyana terbangun dari tidurnya dan segera berjalan ke arah Adina.


"Mbak apa yang terjadi? Kenapa ada gelas yang terjatuh?" Tanyanya Arsya yang terkejut sekaligus keheranan kenapa bisa ada gelas yang terjatuh dan pecah diatas lantai dengan pecah belingnya berceceran ke atas lantai keramik.


Aksa melirik sekilas ke arah Adina yang acuh tak acuh ke arahnya yang sama sekali tidak ingin melihat dirinya.


"Eh, saya tidak sengaja menjatuhkan gelas, tanganku sedikit gemetaran," elaknya Aksa yang menutupi kenyataan yang ada.


Diperparah dengan kedua mata kepalanya melihat langsung kebusukan suaminya dan perempuan yang sudah dianggap sahabatnya sendiri. Hati istri mana yang tidak akan hancur seketika itu ketika melihat suami yang begitu dipercaya, didamba dan dihormatinya itu bercumbu mesra, berduaan di dalam kamar dengan perempuan lain.


"Saya tidak akan sanggup untuk memaafkan dan menerima begitu saja pengkhianatan kalian berdua,tapi saya tidak mungkin mengumbar aib dan kekurangan rumah tanggaku,"Adina membatin sambil diam-diam menyeka air matanya itu.


Aksa sengaja berbohong karena tidak mungkin berani untuk berterus terang di hadapan adik iparnya itu.


"Ooh begitu yah, Mbak Adina sepertinya butuh sesuatu mungkin?" Tanyanya Arsya yang melihat sikap aneh dan tidak seperti biasanya melihat reaksinya Adina dimatanya.


Aksa kebanyakan diam dan tidak ingin terlalu banyak berbicara karena takut jika rahasia rumah tangganya terekspos dan akan menjadikan bumerang untuknya sendiri.


"Sepertinya ada yang aneh dan ganjil dengan Mbak Adina dan mas Aksa," gumamnya Arsya.

__ADS_1


"Arsya, apa Mbak boleh minta sesuatu padamu?" Tanyanya Adina yang berusaha memperlihatkan kepada adiknya jika dirinya dalam kondisi yang baik-baik saja.


"Emangnya Mbak pengen minta apa padaku?" Tanyanya balik Arsya.


Adina menatap intens ke arah adiknya, "Kamu ke warung depan jalan masuk rumah sakit sepertinya di sana jual pecel lele Mbak kepengen makan itu, apa kamu bisa membelikan Mbak?" Bujuknya Adina yang berharap adiknya bisa memenuhi keinginannya itu.


"Ya ela Mbak hanya permintaan seperti itu malah kayak sungkan banget mintanya, apapun yang Mbak minta khusus hari ini akan saya penuhi mumpung masih libur kuliah, kalau aku kuliah pasti tidak akan bisa," ucapnya sambil tertawa cekikikan agar kakaknya itu lebih rileks dan santai dalam kondisi yang baru mengetahui jika anaknya meninggal dunia.


"Kalau begitu beliin Mbak seporsi yah, tapi sambalnya jangan kebanyakan," imbuhnya Adina.


"Baik Mbak Perintah dari Nyonya Besar siap saya laksanakan," candanya Arsya sambil meraih handbagnya yang tergelatak di atas sofa.


Setelah kepergian Arsya sudah dirasa jauh dan lama, Adina pun mulai membuka suaranya dan menatap tajam ke arah suaminya itu.


"Sudah berapa lama hubungan kalian berdua?" Tanyanya Adina yang langsung to the points tanpa basa-basi lagi.


Aksa hanya terdiam dan tak mampu berucap sepatah katapun, seolah lidahnya keluh seketika itu.


"Kenapa Mas tidak menjawab pertanyaan aku,apa sebegitu sulitnya kah sampai-sampai pertanyaan aku yang sederhana itu tak mampu Mas jawab," ketusnya Adina sambil berusaha sekuat tenaganya itu untuk menghalau laju air matanya yang sudah siap jatuh membasahi pipinya.


"Kami sudah menjalin hubungan sekitar lima tahun yang lalu sebelum aku mengenalmu,"


"Kapan kalian menikah?"


"Kami menikah lebih duluan dari pada pernikahanku denganmu, dia isteri pertamaku tapi kami hanya menikah siri saja," ungkapnya Aksa yang tidak berani menatap langsung kedua bola mata Istrinya itu.


"Kenapa? Kalau kamu sudah menikah dengannya kenapa meski menerima perjodohan kita Mas?! Kenapa tidak membatalkan rencana pernikahan kita dulu, kalau aku tahu kalau Mas sudah menikah dengannya aku pasti ikhlas untuk mundur dan mengalah, kenapa Mas begitu tega melakukan hal ini padaku!? Apa salahku!?" Teriaknya Adina dengan penuh emosi.


"Maaf," hanya kata maaf saja yang mampu terdengar dari bibirnya Aksa.

__ADS_1


Adina mencengkram kuat bedcovernya yang dipakainya itu,"Maaf, kata maafmu tidak akan mampu mengubah segalanya yang sudah terlanjur terjadi, tidak akan menghidupkan kembali anakku yang sudah meninggal dunia, aku tidak menyangka Mas begitu tega melakukan semua ini padaku,"


"Aku akui aku memang salah dalam hal ini," ucapnya Aksa yang semakin merasakan rasa bersalah di dalam hatinya itu.


__ADS_2