
Adina segera mencari nomor hpnya kedua temannya itu untuk meminta bantuan kepada keduanya.
"Halo, assalamualaikum Adhisti, apa suamimu punya waktu luang hari ini enggak?" Tanyanya Adina.
"Waalaikum salam, kenapa emang besti, tumben nelpon langsung cariin my suami, ada apa gerangan?" Tanyanya balik perempuan yang disapa Adhisti Camilla itu.
"Saya mau ajak ngedate suami loh," candanya Adina yang tidak peduli orang lain yang masih berada di dalam ruangan inapnya.
"Boleh juga tuh, asalkan aku ikut mumpung ngidam pengen makan makanan yang kelas atas nih," balasnya Adisti yang ikut bercanda.
"Ya elah… istri pengacara terkenal minta ditraktir dan dibayarin segala makanannya pula, aku cari suamimu pengen minta tolong untuk urus surat perceraianku dengan suamiku," ujarnya Adina dengan penuh keyakinan.
"Cerai!? Kenapa mau cerai dan kenapa bisa terjadi seperti ini?" Tanyanya Adhisti yang sungguh-sungguh terkejut mendengar perkataan dari sahabat terbaiknya itu.
"Ceritanya panjang lebar, kamu cukup sampaikan kepada Alvaro jika saya ingin cerai dengan suamiku Aksa Muhammad Aditama secepatnya, aku akan jelaskan setelah aku keluar dari rumah sakit," imbuhnya Adina.
"Astagfirullah aladzim… aku akan selalu mendukung apapun yang kamu putuskan, kamu berhutang penjelasan padaku jadi aku tunggu info kamu okey," pungkas Adisti.
"Siap, kalau gitu aku tutup telponnya dulu, aku mau nelpon kekasihnya Anhika siapa lagi namanya sampai lupa," ucapnya Adina yang mengetuk-ngetuk kepalanya seraya berusaha untuk mengingat nama kekasih temannya itu.
"Baru seminggu lebih enggak ngumpul kamu sudah pikun,cowok baik dan alim seperti Austin kamu lupakan," tampiknya Adhisti.
Adina tersenyum cengengesan dibalik telponnya itu, "Hehehe lupa Austin Kaif namanya, mungkin terlalu berat beban hidup aku sehingga jadi tulalit seperti ini," ucap Adina sambil melirik sekilas ke Avanti.
"Kasihan banget kamu bestie,kalau gitu aku tutup telponnya Abang Alvaro juga baru balik dari kantornya dan pesan kamu pasti akan aku sampaikan, assalamualaikum," ujar Adhisti Camilla yang tersenyum penuh kelembutan menyambut kedatangan suami yang baru sekitar lima bulan lalu menikahinya itu.
"Waalaikum salam," cicitnya Adina seraya menghembuskan nafasnya dengan cukup keras.
"Adina, apa maksud kamu dengan menghubungi nomor pengacara? Apa keputusanmu tidak bisa kamu rubah? Saya meminta maaf padamu atas semua salahku, aku tidak bisa menerima gugatan perceraianmu, aku mohon ampuni aku Adina dan berikan aku satu kali kesempatan, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi," terangnya Aksa yang memohon sambil bersujud di hadapan Adina.
__ADS_1
"Maaf maafku tidak untuk pria munafik dan tamak seperti Mas Aksa, tadi aku memberikan pilihan kepada Mas untuk memilih saya atau Avanti Citra,tapi Mas saking rakusnya sampai-sampai tidak bisa memilih salah satu dari kami,tapi karena saya terlalu egois sehingga sulit untuk menerima pengkhianatan kalian berdua dan serakah tidak mau berbagi suami sehingga saya memutuskan jalan yang terbaik adalah maaf ku harus pergi dari kehidupan kalian berdua!" Tegasnya Adina dengan penuh keyakinan dan kesungguhan hatinya walaupun hatinya harus berteriak kesakitan dan dihantui rasa kecewa dan penyesalan.
"Adina, tidak bisa kah kamu menerima pernikahanku dengan Avanti mengingat Avanti perempuan yatim piatu dan memiliki anak bayi yang baru berusia dua bulan, tolong lah kasihanilah kami!" Rengeknya Aksa yang terus berusaha untuk memohon dan meyakinkan agar Adina mau memaafkannya.
Adina hanya tersenyum tipis,"Maaf semuanya sudah terlambat, kesempatan Anda sudah tertutup dan waktu untuk memberikan kesempatan itu pun sudah habis," tuturnya Adina yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya itu.
Pernikahan yang baru dua tahun lebih itu mereka jalani harus kandas di tengah jalan, karena ketamakan dan kebodohannya menjadi seorang istri yang sama sekali tidak menyadari keburukan sifat dan tingkah laku suaminya itu.
"Arsyana tolong panggilkan Mbak Security, saya sudah bosan dan capek melihatnya dan satu hal lagi jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya ke dalam sini apapun alasannya!" Perintahnya Adina yang sudah tidak sanggup untuk melihat mereka si pengkhianat itu.
"Tidak perlu repot-repot untuk memanggil pihak keamanan, kami akan pergi kok dari sini," pungkasnya Avanti.
"Tolong seluruh barang-barang kalian angkut secepatnya, karena rumahku akan aku jual,"
"Adina! Kalau kamu jual rumah itu aku akan tinggal di mana? Itu rumah kita berdua," tolaknya Aksa.
Dua orang security berjalan tegap ke arah dalam ruangan inap tersebut," maaf Bu apa ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya security itu.
"Tolong usir mereka dari sini dan saya harap kedepannya jangan biarkan mereka menginjak kamarku ini selama aku masih disini!" Tutur Adina.
"Baik Bu,kalian ikut kami pergi dari sini sebelum kami memanggil polisi!' ancam security itu.
"Jauhkan tangan kalian dari tubuhku, saya jijik disentuh oleh security seperti kalian ini!" Cibirnya Avanti.
Arsyana dan Adina hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Avanti yang sungguh congkaknya padahal selama hidup dari belas kasihnya Adina setiap bulannya.
"Adina, sayang aku mohon jangan seperti ini, saya sangat mencintaimu!" Jeritnya Aksa yang berusaha untuk memberontak melepaskan pegangan tangannya security muda itu.
"Tolong bekerjasama lah dengan kami Pak, jika tidak saya akan melaporkan kalian berdua ke kantor polisi!" bentaknya Pihak keamanan itu.
__ADS_1
Brak!!
Prang!!
Pintu itu tertutup rapat dari arah luar hingga membuat Adina dan Arsya saling bertatapan satu sama lainnya. Arsya segera memeluk tubuh kakak nya dengan cara membungkukkan tubuhnya agar lebih mudah saling berpelukan erat.
"Menangis lah Mbak, jangan terlalu memperdulikanku, saya sangat mengerti jika Mbak Itu sangat sedih dan kecewa, jangan bersikap kuat dan tegar di depanku,kamu itu hanya manusia biasa pasti punya rasa sedih juga," terangnya Arsya.
Adina pun menumpahkan segala rasa sedihnya di dalam pelukan adik bungsunya itu.
"Arsya apa aku terlalu jelek dibandingkan dengan perempuan itu? Sehingga Mas Aksa itu menduakan aku," ratapnya Adina.
"Mbak jangan pikirkan mereka lagi, apalagi untuk hidup dalam penyesalan," ucapnya dengan berlinang air mata.
Satu minggu kemudian, Adina sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya dan hanya tersisa rawat jalan saja dan beberapa kali kontrol cekup kesehatan.
Bu Citra dan pak Gunawan duduk di samping ranjang putri pertamanya itu sambil menatap sendu ke arah anaknya.
"Putriku apa keputusanmu untuk bercerai dengan Aksa sudah bulat? Papa tidak ingin kamu melakukannya karena emosi sesaat dan mengubah pendirianmu, kami sebagai orang tuamu mendukung apapun yang sudah menjadi keputusanmu itu, seperti halnya dengan sewaktu kamu dulu ngotot untuk menikahi pria bajingan dan lucknut itu yang tidak tahu balas budi!" Geramnya pak Gunawan.
Arvin pun ikut menambahi," saya sebenarnya sudah mengetahui kebusukan dan kebusukan pria brengsek itu, dan aku pun memperingatkan berulang kali kepada Mbak Adina, tetapi selalu tidak ingin percaya dengan perkataan ku," cercanya Arvin sambil meninju sofa yang didudukinya itu dengan meluapkan amarahnya mengetahui kakak iparnya adalah penyebab kematian dari calon keponakannya itu.
Bu Citra mengelus punggung lebar putranya itu," sudah, tidak ada lagi gunanya untuk berdebat dan menyesali semua masalah yang menimpa rumah tangganya kakakmu yang terpenting sekarang mereka akan segera bercerai dan mengusir perempuan dan pria tidak berguna itu dari dalam rumahnya Adina untuk selamanya, kita hanya menunggu beberapa hari lagi sidang perdana perceraiannya, Ingat jangan sekali-kali mengungkit ataupun membuka luka Adina agar segera move-on dan melupakan semua kepahitan yang ada di dalam hatinya itu," jelasnya Bu Citra.
Adina pun angkat bicara," saya sudah yakin dengan keputusanku ini, insya Allah… saya tidak akan pernah merubah niat dan pilihanku ini, saya tidak ingin hidup berbagi suami dengan wanita lain makanya aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku ini, kalian tidak perlu mencemaskan masalahku, saya pasti bisa melewati semuanya dengan ikhlas, tegar dan sabar karena berkat dukungan dan kasih kalian sehingga masa sulit ini pasti akan aku lewati," ungkapnya Adina yang tidak ingin bersedih dan meratapi perpisahannya itu.
"Kami akan mendukung apapun yang sudah kamu putuskan, harapan kami sekarang kamu secepatnya bisa sembuh dan kembalikan beraktifitas seperti dulu lagi, masalah jodoh kalau kamu ditakdirkan untuk menikah lagi, insha Allah akan ada jodoh yang paling terbaik yang Allah SWT persiapkan untukmu Nak, jadi jangan sedih dan kamu harus bangkit, karena kamu wanita kuat," imbuh Pak Gunawan sambil memeluk tubuh putrinya yang duduk di atas ranjangnya.
Adina hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari papanya yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
__ADS_1