Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 7


__ADS_3

Seseorang sejak tadi berdiri di balik pintu untuk mendengarkan perkataan dan perdebatan dari kedua pasangan suami istri itu.


"Apa salahku sama Mas, apa aku tidak cantik, apa dia lebih baik dan melebihi dariku, atau karena aku terlalu punya banyak kekurangan sehingga Mas tega mengkhianati kepercayaanku!?" Jeritnya Adina sambil berusaha untuk duduk dengan perlahan dan sesekali meringis kesakitan menahan rasa perih bekas jahitannya.


"Kamu sama sekali tidak punya salah, kalian sama-sama baiknya,bagiku kamu tidak punya kekurangan sedikitpun,tapi aku yang terlalu egois dan serakah untuk memiliki kalian berdua, bahkan saking sempurnanya dirimu dimataku hingga aku tidak akan sanggup untuk kehilangan dirimu," jelasnya Aksa.


Adina menatap sinis ke arahnya Aksa," cik.. saya hanya tidak nyangka jika Mas dengan mudahnya dan beraninya membawa perempuan itu ke dalam rumahku, apa Mas lupa jika rumah itu dibeli memakai uangku dan atas namaku, kenapa meski harus membawanya ke sana! Itu sama saja tidak menghargaiku sedikitpun sebagai Istrimu dan parahnya lagi kalian berhubungan suami istri di dalam rumahku, kamu anggap apa aku ini? Apa kamu kira hatiku terbuat dari batu yang tidak memiliki hati nurani, cemburu, iri hati dan amarah ha!?" Bentaknya Adina yang seumur hidupnya selama mereka menikah baru kali berbicara dengan kasar dan mengeraskan suaranya di hadapan suaminya itu.


"Maaf, saya harus bawa kemana lagi dia, sedangkan rumah kontrakannya tidak mampu dilanjutkan lagi,kamu tahu kan saya tidak punya pekerjaan, sedangkan dia dan anaknya butuh tempat tinggal,"


"Lucu… sungguh aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Mas, apa Mas menganggap rumahku itu penampungan dari istri suamiku!? Aku sungguh kasihan pada diriku sendiri yang ternyata hanyalah pelakor yang merebut suami wanita lain, sungguh tragis dan begitu sial hidupku," ucapnya Adina dengan penuh penyesalan.


Aksa bangkit dari duduknya dan berusaha untuk menggapai tangannya Adins tapi, segera dihempaskan sekuat tenaganya oleh Adina.


"Tolong! Jangan sentuh aku lagi mulai detik ini aku haramkan diriku secuil pun kamu sentuh! Jadi jaga batasan anda Pak Aksa Muhammad Aditama!" Tegasnya Adina dengan tatapan nyalangnya dilayangkan ke arah suaminya itu.


"Adina, Mas mohon jangan seperti ini aku mohon mari kita bicara baik-baik, jangan terbawa emosi lagian kamu itu masih sakit jadi aku minta padamu untuk tenang," bujuk Aksa yang semakin ketakutan jika dirinya harus bercerai dengan istrinya itu.


"Baiklah kalau begitu aku meminta pada Mas untuk tinggalkan Avanti untuk selamanya dan menceraikannya, Apa Mas sanggup untuk melakukan hal itu?"


Aksa tersentak terkejut mendengar perkataan dari mulutnya Adina yang sama sekali tidak menduga jika Adina akan memberikan pilihan yang sulit untuk dilakukannya. Adina tertawa sinis ke arah pria yang sebentar lagi akan menyandang mantan suaminya itu dengan tekadnya untuk sudah bulat.


"Mas pasti tidak mungkin bisa menceraikan Avanti dan meninggalkannya, kalau begitu aku mohon padamu talak aku hari ini juga!" Pintanya Adina dengan penuh keyakinan tanpa ada sedikitpun keraguan di dalam setiap ucapannya.

__ADS_1


"Adina, aku tidak akan mungkin menceriakanmu, aku sangat mencintaimu Adina Anulika Maheswari Gunawan, kalian berdua sama-sama aku cintai dan sayangi hal yang tersulit aku lakukan dalam kehidupanku adalah memilih salah satu dari kalian berdua, jadi ini pilihan yang sangat sulit dan mustahil aku tempuh,"


Adina tersenyum mencemooh," pria rakus dan tamak," sarkasnya Adina.


Avanti lah dan anaknya sedari tadi menguping pembicaraan dan perdebatan mereka yang sudah berujung pertengkaran sengit. Avanti tersenyum penuh maksud karena, Aksa tidak akan mungkin menceraikan dan mendepaknya dari dalam hidupnya.


"Mana ada dua kapal satu nahkoda Mas, aku yakin salah satu dari kapal itu pasti akan tenggelam dan hancur, aku hanya manusia biasa yang tak mungkin bisa berbagi suami dengan wanita lain, andaikan aku bisa lebih adil pada cinta kamu dan dia tapi, aku bukanlah nabi yang bisa sempurna ku tak luput dari dosa, jadi aku sudah putuskan maafkan aku Mas aku hanya ingin bahagia tanpa harus berbagi dengan wanita manapun di dunia ini," ungkap Adina.


Avanti tiba-tiba muncul dan semakin memperkeruh suasana saja,"Mas kalau Mbak Adina memutuskan seperti itu,apa susahnya sih untuk mengabulkan permintaannya dan keinginannya untuk bercerai dari mas," Avanti langsung ikut nimbrung dan melupakan untuk menutup rapat-rapat pintu kamar perawatan Adina.


Adina hanya menatap sekilas ke arah Avanti dengan putranya yang tertidur dalam gendongannya itu.


"Diam!! Ini semua gara-gara ulahmu yang sama sekali tidak bisa menahan hasratmu malam itu! Andai saja bukan kamu pasti semua ini tidak akan terjadi padaku dan anakku tidak akan meninggal!" Bentaknya Aksa yang melihat kedatangan Avanti.


Aksa tidak menyangka jika Avanti akan berbicara seperti itu di depannya, padahal selama ini ia mengetahui Avanti gadis yang baik hati, sholeha, lembut dan penyayang. Tapi, hari ini faktanya berkata lain.


"Setamak dan sepicik itu kah hati dan pikiranmu Avanti?!" Sarkas Aksa.


"Ya Allah… Mbak Adina begitu malang nasibnmu Mbak, saya tidak menyangka kalau mereka adalah pasangan suami istri," batinnya Arsya.


"Aku mohon mulai hari ini kalian jangan pernah tinggal di rumahku lagi tolong angkat kaki dari sana dan bereskan barang-barang kalian, karena saya tidak ingin melihat wajah munafik kalian! aku yang akan mengurus perceraian kita secepatnya!" tekadnya Adina.


"Aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian kita apapun yang terjadi, aku tidak setuju untuk bercerai denganmu Adina Mahika Maheswari Gunawan!" Teriaknya Aksa yang langsung berjalan maju ke arahnya Adina tapi, Arsyana segera berjalan cepat ke arah kakaknya itu.

__ADS_1


"Stop! Jangan sekali-kali dekati dan sentuh kakakku sedikitpun dengan tangan kotormu itu!" Bentaknya Arsyana yang mendorong tubuhnya Aksa dengan tatapan tajamnya.


Aksa mendapatkan dorongan yang cukup kuat dari Arsya sehingga tubuhnya terjerembab ke atas lantai. Avanti segera bertindak untuk membantu suaminya.


"Mas Aksa!" Teriak Avanti yang membantu Aksa untuk bangkit dari posisi duduknya itu.


"Arsya! Kamu kasar sekali sampai-sampai menjatuhkan tubuhnya Mas Aksa," ketusnya Avanti yang menatap tajam ke arah Arsya yang berdiri di depan kakaknya untuk menghalau Aksa dan Avanti jika sewaktu-waktu berjalan ke arah Adina yang masih terbaring lemah.


Adina hanya menatap intens ke dua pasangan suami siri itu,dia mencibir melihat interaksi keduanya.


"Kalian memang sahabat pasangan yang sangat serasi dan cocok, aku merasa jijik dan muak melihat akting kalian berdua, kenapa enggak jadi artis sinetron ikan terbang saja, sepertinya kalian cocok?' sarkasnya Adina.


"Adina, kenapa kamu jahat sekali pada Mas Aksa, kamu sebagai istri seharusnya tidak bersikap kurang ajar seperti ini, apa kamu tidak takut terkena murka dari Tuhan yang Maha Pencipta yang sudah membuat Mas Aksa terduduk di atas lantai dan sama sekali tidak mencoba untuk melarang adikmu untuk berniat jahat pada Mas Aksa apa?!" Sindirnya Avanti yang sudah berdiri di sampingnya Aksa.


Aksa mengeluh kesakitan dibagian bokongnya, karena terduduk di atas lantai keramik rumah sakit yang cukup dingin itu.


Aksa melirik sekilas ke arah Avanti," diam!! Kamu yang seharusnya berhenti untuk mengoceh, karena semua akar permasalahan ini adalah sumbernya gara-gara kamu,coba kamu bisa menahan keinginanmu, Mas yakin tidak akan seperti ini jadinya, sungguh aku menyesal mengajakmu tinggal bersama kami," sesalnya Aksa yang baru kali ini berbicara kasar pada istrinya tersebut.


"Arsya, hpnya Mbak mana? Saya ingin menghubungi pengacara dan temannya Mbak!? Pintanya Adina.


Arsya segera bertindak untuk mencari keberadaan hpnya Adina, yang ternyata terletak di atas nakas meja ranjangnya Adina.


"Ini Mbak hpnya," ucapnya Arsya sambil menyodorkan sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang itu.

__ADS_1


"Makasih banyak," imbuhnya Adina.


__ADS_2