Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 21


__ADS_3

"Ternyata dia cukup berani juga tanpa pikir panjang segera menjalankan perintahku, sungguh sangat berani dan rencananya benar-benar sungguh serius ingin menjadikan aku kekasih pura-puranya," gumam Adina.


Azam segera menghentikan langkahnya ketika mendengar seruan dari Adina dan berjalan ke arah Adina yang juga berjalan ke arahnya itu.


"Apa masih ada yang aku bisa lakukan untuk kamu?" Tanyanya Azam.


Adina menatap ke arah Azam seraya menggeleng kepalanya, "Hemph, tidak perlu lagi Pak karena tadi saya hanya bercanda kok," jawabnya Adina dengan senyuman tipisnya.


"Kalau gitu kita naik mobil pulang ke rumahmu atau jalan kaki saja? Sambil menikmati indahnya malam dengan sinar rembulan malam yang begitu indahnya malam ini, gimana menurutmu?" Azam menengadahkan kepalanya ke arah atas langit.


Adina reflek mengikuti jejaknya Azam yang juga mengamati rembulan dan bintang-bintang yang juga bertaburan dengan indahnya menghiasi malam itu.


"Sebaiknya naik mobil saja itu jalan yang terbaik," ucapnya Adina kemudian berbalik arah ke arah parkiran mobilnya.


Azam pun setelah memakai kembali kaos kaki dan sepatunya mengikuti jejak kakinya Adina Anulika Maheswari. Adina yang diikuti dari belakang oleh Azam sama sekali tidak mengetahui jika Azam berjalan mengekorinya.

__ADS_1


Bahkan keduanya bersamaan membuka pintu mobilnya yang membuat Adina melototkan matanya saking terkejutnya melihat Azam sudah duduk di kursi jok penumpang.


"Maaf Pak Azam Kaif Mahardika yang terhormat sepertinya, Anda salah mobil! bukannya Anda punya mobil sendiri kenapa meski harus nebeng barengan!?" Ketusnya Adina yang menatap jengah ke arahnya Azam sang CEO ganteng dan tajir melintir pesonanya tidak mampu meruntuhkan tembok pertahanan Adina.


Biasanya setiap perempuan yang melihat ketampanan yang dimiliki seorang Azam pasti akan klepek-klepek jatuh cinta padanya, sedangkan yang terjadi pada Adina sama sekali tidak goyah pada pendiriannya. Siapapun itu baginya pria yang paling ganteng dimatanya hanya suaminya seorang bukan pria lain.


"Adina Anulika Maheswari Gunawan saya tidak mungkin memakai mobilku dengan kondisi bensinnya habis, apa kamu pengen lihat aku dorong mobil gitu," balasnya Azam dengan memperlihatkan tampang memelasnya itu.


Adina serba salah tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya dan tidak mungkin tidak punya hati nurani untuk tidak prihatin dan menolong orang yang butuh bantuan.


"Kalau gitu silahkan ikut bersama saya ke resto favoritnya Pak Azam, tapi dengan satu catatan ini yang pertama dan terakhir kalinya," dengusnya Adina lagi.


"Situ pasang sabuk pengamannya, tidak perlu banyak omong," kesalnya Adina yang baru kali ini bertemu dengan pria cukup membuatnya jengkel.


Azam hanya tersenyum simpul menghadapi ucapan kesalnya Adina.

__ADS_1


"Kamu lucu banget kalau kesal seperti ini, entah kenapa aku semakin sayang sama kamu loh kalau seperti ini," ucap Azam yang to the points tanpa berfikir panjang untuk mengatakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya itu.


Adina spontan menolehkan kepalanya ke arah Azam yang dengan entengnya mengucapkan perkataan itu sembari memasangkan seatbelt tersebut ketubuhnya.


"Maksudnya Anda ngomong seperti itu padaku apa yah? Atau hanya sekedar berlatih berakting saja agar besok akting kita alami, iya kan?" Tebaknya Adina yang menganggap kejujuran Azam hanya sekedar ucapan belaka saja.


"Kalau aku serius gimana menurutmu?" Azam melihat dengan intens ke arah Adina yang ingin melihat reaksi dan tanggapannya Adina langsung.


Bukannya menjawab tapi Adina malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Azam rekan satu kantornya itu.


"Kenapa kamu tertawa apa ada yang lucu?" Tanyanya Azam lagi yang menautkan kedua alisnya itu.


"Lucu pake banget malah Pak, apa mungkin bapak Azam kelaparan sampai tidak menyadari perkataan Anda!?" Cibirnya Adina.


"Kalau aku serius gimana?"

__ADS_1


Adina langsung terdiam sejenak memaknai perkataannya Azam.


"Anda salah orang untuk mengatakan semua itu, aku itu seorang janda muda yang baru cerai dari suamiku, jadi berfikir ulang dan baik sebelum mengucapkannya,*


__ADS_2