Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 18


__ADS_3

Arabella belum menyerah juga dengan apa yang dikatakan oleh Azam kepadanya. Dia semakin gencar untuk melakukan segala upaya untuk menggoda mantan kekasihnya itu.


Ara berjalan ke arah meja kerjanya Azam kemudian duduk di atas meja tersebut sehingga paha mulus dan kinclongnya terekspos dengan begitu jelasnya, "Aku tidak akan pernah berhenti untuk mendekatimu, selama status kamu masih bujangan dari itu saya akan terus mendekati kamu, aku yakin Abang Azam juga masih merasakan rasa yang seperti aku rasakan yang masih tergila-gila padaku seperti dulu," ucapnya Arabella yang menarik dasinya Azam yang hanya terdiam tanpa melakukan perlawanan dan lirikan matanya tertuju pada pintu kantornya seolah dia menunggu seseorang segera datang.


Azam hendak bangkit dari kursi kebesarannya itu ketika bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar. Azam langsung tersenyum sumringah melihat siapa yang datang.


Ara sama sekali tidak terpengaruh dengan suara derit pintu masuk ruangan tersebut, malahan semakin melakukan aksinya, karena Azam tidak menolak dan mencegah apa yang dilakukannya.


"Ehh maafkan saya Pak," ucapnya Adina yang segera berjalan tergesa-gesa ke arah pintu yang memang dari arah pintu mejanya Azam tidak langsung kelihatan sehingga Adina tidak menyadarinya dengan cepat jadi reaksinya pun sedikit terlambat.


"Adina Anulika Maheswari, sayangku tunggu jangan pergi dulu!" Teriaknya Azam dengan mendorong tubuhnya Ara sekuat tenaganya sehingga Ara terbanting keras ke atas lantai keramik.


"Auh!! Sakit!" Keluhnya Ara yang merasakan betapa sakitnya pantatnya yang terbentur dengan kerasnya lantai.


Azam sama sekali tidak peduli dengan Ara, dia malah menarik tangannya Adina agar tidak segera pergi dari sana.


"Stop! Aku mohon jangan berjalan lagi," cegahnya Azam Khair.


Adina membalikkan badannya ke arah Azam yang sudah berdiri di belakangnya itu.


"Maaf Pak sepertinya Anda salah sangka dengan kedatanganku ke sini," ucapnya Adina.


Azam segera menarik tubuhnya Adina hingga mereka saling berdekatan, berhimpitan dan akhirnya saling berpelukan. Azam mendekatkan wajahnya ke arah telinga kanannya Adina.

__ADS_1


"Aku mohon bekerja samalah denganku, aku mohon berpura-pura lah menjadi tunanganku," mohonnya Azam yang berharap penuh pada Adina agar segera mengabulkan permintaannya itu.


Adina berusaha untuk melepaskan tangannya Azam dari atas tubuhnya itu," Pak kita ini bukan mahram loh, jangan seperti ini juga, kalau mau berpura-pura berpacaran denganku, aku bisa bantuin asal jangan seperti ini juga caranya," gumamnya Adina yang menggertakkan giginya dengan kasar.


"Tapi, bantuin aku untuk mengusir perempuan wanita yang terduduk di atas lantai itu, aku mohon padamu untuk menolongku, kamu tidak kerja secara gratis kok, akan dapat imbalan yang cukup banyak atas usahamu dan bantuanmu ini," bisiknya Azam.


Adina yang melirik sekilas ke arah Ara cukup prihatin dengan kondisi Ara yang masih terduduk dengan mengeluh kesakitan.


"Tapi, kasihan loh pacarnya pak Azam, seharusnya ditolongin dan tangannya Bapak bisa diturunkan gak dari pinggangku?" Kesalnya Adina yang tersenyum sinis.


"Kalau aku turunkan tanganku bisa-bisa akting kita ini tidak terlihat natural dan alami bisa saja dia akan curiga dan tidak mempercayai hubungan kita ini," balasnya Azam.


Adina tanpa menunggu dan meminta persetujuan dari Azam, segera melepaskan pelukannya Azam dari punggungnya dengan sekuat tenaganya. Dia segera berjalan ke arah Arabella dan berniat untuk membantu Ara.


Ara menyambut baik uluran tangannya Adina dengan mulai memainkan aktingnya itu.


"Hiks… hiks Abang Azam bokongku sakit banget, teganya Abang mendorongku," ratapnya Ara yang dibantu berdiri oleh Adina.


Azam segera berjalan ke arah kedua perempuan yang berbeda gaya berpakaian, status sama tapi akhlak dan karakter yang berbeda pula. Azam tanpa menggubris perkataan dari mantan kekasihnya dengan sengaja memeluk dengan posesif tubuh rampingnya Adina.


Adina hanya bisa melototkan matanya saking jengkelnya dan terkejutnya dengan keberanian yang ditunjukkan oleh Azam, pria yang belum diketahui oleh Adina jika,dia adalah CEO perusahaan tempat ia mencari nafkah selama hampir empat tahun itu.


"Sayang, aku enggak bisa nafas kalau Abang Azam Khair memeluk tubuhku seperti ini," ujarnya Adina yang berbicara lembut tapi tatapan matanya tajam dan membuat Azam tersudutkan.

__ADS_1


Azam cengengesan mendengar perkataan dari Adina," maaf," Azam segera melepaskan pelukannya itu.


Adina menatap ke arah Azam, "Abang Azam namanya mantan pacarnya adalah Mbak Ara yah, ngomong-ngomong Mbak masih sanggup untuk berjalan sendirian untuk keluar dari sini atau butuh bantuan?" Tanyanya Adina yang sebenarnya berniat untuk mengusir Arabella dari dalam ruangan itu agar aktingnya segera diselesaikan hari itu juga.


"Abang gendong dong,saya enggak bisa jalan mau ke dokter periksa, tapi sepertinya tulang ekorku bermasalah," keluhnya Ara yang bermanja-manja di hadapannya Azam.


Azam segera berteriak memanggil seseorang dari arah luar," Ameer!" Teriaknya Azam dengan suara yang cukup besar menggelegar memekakkan telinga dan melengking memenuhi seluruh sudut penjuru ruangan itu.


Ameer yang kebetulan berada dibalik pintu dengan kedua sahabatnya yang lain sebenarnya tidak berniat untuk menguping, tetapi keadaan yang membuat mereka akhirnya melihat dan menjadi saksi bisu akting dari CEO muda terkenal itu.


Ameer berjalan ke arah dalam dengan menarik kedua tangan temannya yaitu Abidzar Attar dengan Azhar Sungkar yang juga ikut terlibat dalam proses menguping pembicaraan ketiganya.


"Maaf apa Pak direktur butuh sesuatu?" Tanyanya Ameer.


"Tolong antar temanku ke rumah sakit untuk cekup karena sepertinya bokongnya butuh perawatan secepatnya, Anda Pak Abizar dan Tuan Azhar Anda jangan ikut mereka tolong tetap disini temani saya," pintanya Azam karena kembali melanjutkan rencana selanjutnya.


Ameer segera membantu Ara berjalan ke arah luar, Ameer sebenarnya sangat risih untuk menjalankan perintahnya Azam untuk berdekatan dengan perempuan genit dan matre itu. Setelah sampai di lift, Amer segera tersenyum penuh maksud ke arah Arbella.


Ameer menghempaskan tangannya Ara dengan kasar," stop! Cukup sandiwaranya, aku tahu kamu hanya berbohong jika kamu sakit, niat kamu itu hanya ingin mendapatkan Azam saja, yang perlu kamu tahu perempuan yang berada di dalam sana itu adalah calon istrinya Azam, dalam jangka waktu tiga bulan mereka akan segera menikah, jadi lebih baik kamu hapus dan buang jauh-jauh pikiran picik kau itu," sarkasnya Ameer dengan sedikit mendorong tubuhnya Ara sehingga hampir saja punggungnya Ara membentur dinding lift.


Arabela langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari mulut Ameer Khalid," kamu cukup pintar dan lihai melihatnya, aku salut padamu tapi sayangnya saya tidak akan menyerah sebelum mendapatkan Azam seperti dulu lagi, ingat dan camkan baik-baik!" Gertaknya Arabela yang kemudian berjalan ke arah dalam lift setelah terbuka lebar.


"Saya tidak akan berhenti dan lengah untuk menjaga hubungan mereka dari ancaman wanita ular sepertimu yang sangat berbahaya!" balasnya Ameer yang hanya tersenyum penuh kemenangan ke arahnya Ara yang sudah tidak kelihatan batang hidungnya lagi terhalang dari pintu lift.

__ADS_1


__ADS_2