
Baru saja sekitar beberapa menit mobil yang dikemudikan oleh Adina melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan protokol Ibu kota Seoul. Hpnya yang tergeletak di atas dasboard mobilnya.
"Angkat saja dulu telponnya, mobilnya kamu pinggirkan ke badan jalan dulu jangan coba-coba berani menelpon sambil mengemudikan mobil," ucapnya Azam dengan cerewetnya.
"Anda cerewet amat sih jadi pria, okey aku akan melakukan apa yang pak Azam Khair katakan," ketusnya Azam.
Adina segera memarkirkan mobilnya sesuai perintahnya Azam pria yang numpang dimobilnya. Adina melihat ke layar hpnya itu.
"Andara," cicitnya Adina.
Azam menatap intens ke arah Adina yang raut wajahnya langsung berubah serius setelah melihat siapa orang yang menelponnya di tengah malam itu.
"Assalamualaikum Ariana" sapanya Adina.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Mbak Adina aku mohon balik ke Jakarta yah mbak,please! aku mohon dengan sangat!" Ucapnya Ariana dari seberang telepon.
"Kenapa emang kamu nyuruh Mbak balik ke Jakarta? Apa yang terjadi padamu dek dan katakan yang sejujurnya pada Mbak," bujuknya Adina.
"Papa dan Abang Arvin masuk rumah sakit Mbak, siang tadi mengalami kecelakaan ketika Arvin mengantar papa ke kantornya," jawabnya Ariana.
"Kenapa bisa terjadi seperti itu, papa dan Arvin kecelakaan dimana?" Tanyanya lagi Adina yang raut wajahnya nampak kepanikan, ketakutan dan kecemasan dalam waktu yang bersamaan.
"Astagfirullahaladzim, kenapa bisa sampai terjadi seperti ini papa, Arvin saya berharap kalian baik-baik saja, saya akan menghubungi pimpinan Mbak untuk meminta ijin balik ke Indonesia, kamu jangan takut dan jagain terus mereka sampai Mbak balik ke Jakarta," tuturnya Adina.
"Saya sangat tidak enak dengan Mbak, padbak baru dua hari di sana nanti apa katanya atasannya Mbak," tampiknya Ariana.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, insya Allah Mbak pasti secepatnya mendapatkan izin dari atasannya Mbak karena beliau orang yang baik, aku pastikan itu jadi kamu tidak perlu merisaukan masalah disini kamu cukup bantu Mbak untuk jagain Papa, Mama dan Arvin itu sudah cukup membuat Mbak nyaman," tuturnya Adina yang berusaha untuk membuat adiknya tenang.
__ADS_1
Azam terdiam tanpa sepatah katapun,ia hanya mendengarkan secara seksama percakapan kedua adik kakak itu sambil mengirimkan pesan chat terlebih dahulu ke nomor hpnya Ameer sahabatnya yang diberikan tugas untuk menjadi CEO palsu di perusahaan Global Ones miliknya.
"Kalau gitu aku tutup dulu telponnya Mbak mau ambilkan obatnya papa," ucap Ariana sebelum menutup sambungan teleponnya itu.
"Oke kamu hati-hati yah, Mbak akan kabari kamu lagi jika Mbak sudah mendapatkan ijin dari CEO perusahaan tempat Mbak kerja,"
Tut… tut…
Sambungan telpon pun terputus, Adina menyenderkan kepalanya ke atas kemudi mobilnya itu. Air matanya menetes membasahi pipinya dan memikirkan apa yang terjadi pada mamanya Bu Citra, papanya pak Gunawan.
"Ya Allah… kenapa feelingku mengatakan jika kecelakaan maut yang melibatkan papa dan adikku direncanakan oleh seseorang," ungkapnya Adina yang masih dalam posisi seperti sedia kala.
"Jangan zudzon dan berfikiran jelek, yang patut kamu lakukan adalah kamu doakan mereka agar segera sembuh total dan Bu Citra mamamu tidak berlarut larut dalam kesedihannya dan selalu kuat menghadapi segala cobaan ini,"ujarnya Azam.
__ADS_1