Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 28


__ADS_3

Azam dan Adina segera meninggalkan bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka bergegas ke rumah sakit. Ia tidak ingin terlambat datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi dari papa dan adiknya.


Azam mengumpat sepanjang jalan ketika bertemu dengan mantan suaminya yaitu Aksa. Sedangkan Aksa penuh harapan jika pertemuannya kali ini adalah untuk meminta maaf kepada Adina dan meminta untuk bisa rujuk kembali. Tapi, itu tidak mungkin bisa terjadi mengingat Azam tidak akan pernah mengijinkan itu terjadi dan juga didalam kamus kehidupannya tidak pernah ada namanya kasus balikkan dengan mantan.


Adina duduk di sampingnya Azam segera memasang seatbeltnya," ya Allah kenapa perasaanku aneh banget yah, aku merasa bakal ada hal besar yang terjadi dalam hidupku, semoga saja semua yang aku khawatirkan berubah jadi hal yang baik,amin ya rabbal alamin," Adina merasa was-was.


Adina mengkhawatirkan kondisi dari adik keduanya yang bernama Arvin Arryan Kusnadi dengan papanya Pak Gunawan Kusnadi.


Azam yang melihat kecemasan dan kepanikan jelas terlihat diwajahnya Adina segera berusaha untuk menenangkan Adina dengan menggenggam erat tangan kanannya Adina.

__ADS_1


"Teruslah berdoa dan berharap yang terbaik terjadi pada adik dan papamu,saya sudah memerintahkan kepada anak buahku ehh teman-temanku maksudnya untuk mencari tahu kenapa bisa terjadi dan apa penyebab kecelakaan maut itu yang menyebabkan papa dan adikmu menjadi korbannya," imbuhnya Azam yang berusaha untuk membujuk Adina perempuan yang sangat dicintainya itu.


Adina menatap ke arah Azam kemudian segera tersadar dan mengambil tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Azam.


Adina melirik sepintas lalu ke arah Azam, "Saya hanya memikirkan kalau benar adanya kecelakaan itu disebabkan oleh seseorang tapi, siapa pelakunya jika sampai saya tahu saya tidak akan membiarkan orang itu bernafas lega jika perlu hukuman terberat harus mereka rasakan dan dapatkan!" Tegasnya Adina sambil menggenggam erat kepalan tangannya itu.


"Bersabarlah beberapa menit lagi aku yakin kamu akan segera mengetahui siapa pelaku dalang dibalik tabrakan beruntun itu yang membuat papamu terbaring koma di RS, aku juga akan membantumu untuk memenjarakan pelakunya, ingat baik-baik ini janjiku padamu!" Tekadnya Azam yang berusaha menenangkan dirinya Adina.


"Assalamualaikum dek, ada apa?" Tanyanya Adina ketika sambungan telepon terhubung dengan nomor hp adik bungsunya itu Arsyana Amber.

__ADS_1


"Waalaikum salam Mbak, hiks… hiks… Mbak aku mohon cepatlah datang ke rumah sakit hu.. hu..," isakan tangisannya terdengar dengan jelas dari dalam hpnya sehingga membuat Adina semakin kebingungan, panik dan mencemaskan keadaan kedua orang tua dan adiknya itu.


"Arsy,Mbak mohon tenangkan dirimu, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan-lahan nafasmu, Papa, Mama atau Arvin baik-baik saja kan?" Tanyanya Adina yang berusaha menyembunyikan perasaan takut, cemas dan paniknya yang datang bersamaan menghantui pikirannya itu.


Sedangkan Azam semakin dibuat geram dan naik pitam setelah mendengar dari anak buah kepercayaannya yaitu Adam jika pelakunya adalah orang yang sangat dikenali Adina dan berhubungan erat dengan Azam mantan suaminya itu.


"Sial! Brengsek! Saya tidak akan biarkan kamu bebas menghirup udara setelah kejahatan yang kamu lakukan, aku tidak menyangka jika kamu adalah pelakunya ternyata ini lah jati diri aslinya kamu!"


"Mbak Mama terkena serangan jantung gara-gara mendengar abang mengalami kelumpuhan dan lugu papa koma," jelasnya dari seberang telepon.

__ADS_1


Adina tidak mampu berbicara apa-apa lagi setelah mendengar penjelasan adik bontotnya itu. Lidahnya keluh seketika itu juga setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, astaghfirullahaladzim," lirihnya Adina seiring air matanya yang terus menerus menetes tanpa hentinya.


__ADS_2