Maaf Ku Harus Pergi

Maaf Ku Harus Pergi
Bab. 23


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa bisa semua ini terjadi kepada keluargaku, sedangkan papa dan Arvin itu setiap kali mengemudikan mobil pasti selalu pelan enggak pernah ngebut apalagi balap," gumamnya Adina yang sesekali menyeka air matanya itu.


Azam meraih tangannya Adina bertujuan untuk menenangkan Adina yang sedang kalut, sedih dan cemas mengkhawatirkan keadaan kedua orang tua dan adik kembarnya, "Kalau kamu menangis terus meratapi kemalangan yang terjadi kepada keluargamu sama sekali itu tidak menyelesaikan masalah dan juga papa dan adikmu tidak bakalan sembuh," ucapnya Azam Khair.


Adina menatap ke arah Azam pria yang mengajaknya pura-pura menjadi pasangannya," betul sekali apa Pak Azam katakan, ngomong-ngomong apa saya bisa meminta tolong pada pak Azam?" Harapnya Adina.


"Kamu pasti minta nomor hpnya Ameer kan?" Tebaknya Azam sambil menyodorkan ponselnya Azam ke dalam genggaman tangannya Adina.


"Alhamdulillah makasih banyak atas bantuannya," imbuhnya Adina yang segera menyalin nomor hpnya Ameer pria yang berpura-pura mengaku CEO perusahaan tempat ia bekerja.

__ADS_1


Azam hanya membalas ucapannya Adina dengan senyuman tulusnya. Adina segera menghubungi nomor hpnya Amer dengan tidak sabaran.


"Ya Allah… Pak Ameer kenapa enggak diangkat telponnya? Ya Allah… kalau seperti ini gimana caranya aku bisa pulang, tidak mungkin kan aku pulang tanpa meminta izin terlebih dahulu, bisa-bisa saya kena pecat kalau pulang tanpa ijin dari terlebih dahulu," kesalnya Adina yang terus menghubungi nomor hpnya Ameer.


Azam melirik ke arah Adina,"Kamu pulang saja biarkan saya yang mewakilkan kamu untuk meminta ijin kepada CEO kita, urusan keluargamu lebih penting dari segala-galanya," pungkasnya Azam dengan penuh keyakinan.


Kedua bola matanya Adina berbinar terang mendengar perkataan dari Azam pria yang sebelumnya mengungkapkan perasaannya itu. Adina segera memegangi kedua lengannya Azam.


Azam yang diperlakukan seperti itu oleh perempuan yang selama ini selalu menjaga jarak darinya itu, detik itu juga memeluknya saking bahagianya mendapatkan kabar gembira.

__ADS_1


Adina segera melepaskan pelukannya dari tubuhnya Azam setelah tersadar dengan tindakan reflek yang dilakukannya karena terlalu bahagia. Azam hanya tersenyum-senyum menanggapi sikapnya Adina yang ketiban durian runtuh.


"Kalau bisa seperti ini saja terus aku pasti sangat bahagia," cicitnya Azam.


Adina yang hanya mendengar sayup-sayup perkataannya Azam hanya mengerutkan keningnya itu.


"Maaf Anda tadi ngomong apa?" Tanyanya Adina dengan menatap intens ke arah Azam.


"Aku tadi ngomong kalau kau gini terus kapan siap-siapnya pulang ke Jakarta," balasnya Azam yang berkilah menutupi mulutnya.

__ADS_1


"Tumben sekali Anda tidak berbicara mengajak aku untuk menjadi pacar pura-puranya," candanya Adina yang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kalau masalah itu kita akan bahas lebih detail kalau kita sudah sampai di Jakarta, tidak mungkin dalam keadaan seperti ini aku mengajak kamu untuk menemui keluargaku yang ingin bertemu denganmu atau menghadiri pesta pernikahan salah satu sahabat ku, sini aku yang gantiin kamu nyetir mobilnya,mana mungkin kamu setir mobil dalam keadaan seperti ini," usulnya Azam yang segera keluar dari mobilnya untuk menggantikan posisinya Adina yang sejak tadi belum menyalakan kembali mesin mobilnya.


__ADS_2