Maaf Pak, Izin Mencintai

Maaf Pak, Izin Mencintai
Bab 19


__ADS_3

Happy reading bestie..........


"Bro, gue mau pamit dulu ya. Soalnya masih ada kerjaan. Gue duluan ya" Pamit Rizki pada Verel.


"Bro gue juga pamit pulang ya, udah sore ntar gue di cariin bonyok" ucap Wahyu.


"Ahh, iya bro. Thank udah mau jenggukin gue, hati-hati di jalan"


"Ok. Tan, om Rizki pulang dulu ya, soalnya masih ada kerjaan" pamit Rizki pada orang tua Verel dan orang tua Alora.


"Wahyu juga pamit ya Tan, Om, semuanya"


"Iya nak, hati-hati ya. Makasih udah jenggukin Verel sama Alora" Hans.


"Sama-sama om. Rizki pergi dulu ya, Assalamualaikum"


"Wahyu pergi juga ya semuanya, Assalamualaikum, cepat sembuh bro, Lora semoga kamu cepat sembuh juga ya"


"Waalaikumsalam"


"Yoi bro"


"Iya pak, makasih udah mau jenggukin Lora" jawab Alora


"Haha, sama-sama"


jawab Wahyu sambil menutup pintu ruangan tersebut lalu menyusul Rizki yang di depan nya.


...🐇 🐇 🐇...


"Bang"


"Hmm"


"Bang"


"Hmm"


"Abang!"


"Apa sih Ra"


"Mau jajan"


"Ya udah beli sana apa sudah nya"


"Gak ada uang"


"Minta sama Daddy lah"


"Ish, gak peka kali jadi abang"


"Diam dulu bisa gak sih dek, Abang lagi cek berkas, kalau udah siap nanti Abang beli, kalau enggak pesan online aja, ntar Abang bayar" ucap Esa tanpa melirik Alora sedikit pun.


"Gak usah lagi. Udah kenyang"


"Ya udah, syukur malahan uang gue gak habis" jawab Esa. Alora yang mendengar jawaban dari Mahesa langsung lari ke kamar yang ia tempati di ruangan itu.


"Hiks, hiks, hiks, Abang sekarang udah gak peduli sama Lora. Abang udah gak sayang sama Lora, hiks, hisk"

__ADS_1


"Hiks, hiks, Lora benci Abang. Lora benci Abang, hiks, hiks"


"Hiks, hiks, hiks"


...🍁🍁🍁...


"Sa, Lora kenapa?"


"Ntah"


"Terus kenapa masuk kamar ?"


"Biarin aja"


"Emang dia minta apa?"


"Jajan"


"Terus?"


"Gue bilang beli sendiri aja, kalau enggak pesan online aja" jelas Mahesa. Tanpa bertanya lagi Verel langsung melangkah ke kamar yang Alora masuk.


"Tok, tok"


"Lora, buka pintu nya Lora"


"Tok, tok, tok"


"Hiks, hiks, Lora benci bang Esa. Hiks, hiks" tangis Alora di dalam kamar.


"Lora kamu kenapa? buka pintunya, jangan buat saya khawatir. Lora" gedor Verel ketika mendengar Alora menangis


"Tok, tok"


"Hiks, hiks. Lora benci semuanya. Mereka gak sayang sama Lora lagi" tangis Alora, tak lama setelah itu tak terdengar lagi suara Alora membuat Verel tambah khawatir.


"Tok, tok, Alora buka pintunya." ucap Verel. Mahesa yang mendengar suara Verel yang khawatir pun langsung bangkit. Ya awalnya Mahesa gak ambil pusing dengan tingkah sang adik, tapi setelah sekian lama Verel menggedor pintu kamar Alora tapi gak ada jawaban membuat Mahesa khawatir pada sang adik.


"Rel, Lora gak buka pintunya ?" tanya Mahesa


"Enggak Sa, tadi gue dengar Lora nangis tapi sekarang gak dengar lagi suaranya. Gue khawatir" jawab Verel.


"Ya udah kita dobrak aja pintunya, gue gak mau adek gue kenapa-napa" ucap Mahesa sambil mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Alora.


"Oke"


"1"


"2"


"3, dobrak"


"Sekali lagi, dobrak" ucap Verel karna pintunya belum terbuka. Setelah 3 kali di dobrak baru lah pintu tersebut terbuka. Ya memperlihatkan Alora tergeletak di lantai kamar"


"Dek"


"Alora" teriak Mahesa dan Verel bersamaan.


"Dek kamu gak papa kan"

__ADS_1


"Alora buka matanya, jangan buat saya khawatir" tapi tak ada jawaban dari Alora.


"Dek bangun dek, jangan buat Abang kayak gini dek"


"Rel, panggil kak Heru kesini,cepat" ucap Mahesa. Dengan cepat Verel pun langsung berlari menuju ruangan Heru, tanpa ngeruk pintu terlebih dahulu, Verel langsung masuk ke ruangan Heru, setelah itu langsung menarik tangan Heru dan membawa Heru keruangan nya dan Alora.


"Tuan, ada apa tuan? Kenapa tuan menarik tangan saya seperti ini?" tanya Heru yang merasa heran dengan kelakuan Verel, yang tiba-tiba masuk keruangan nya lalu menarik tangan nya untuk pergi.


"Udah jangan banyak tanya kalau masih mau hidup punya pekerjaan yang layak. Alora pingsan cepat!" jawab Verel dengan nada dingin.


"Hah? kenapa nona muda pingsan tuan?" tanya Heru syok.


"Bacot cepat periksa Lora, kalau enggak nyawa lu melayang di tangan gue!" ucap Verel setelah mereka sampai di kamar inap Veora (Verel Alora).


"Nak Verel" panggil Mora


"Eh tante"


"Kenapa kalian panik, Heru kamu kenapa ada disini?" tanya Xavier.


"Lora Tan, om"


"Lora? Lora kenapa?" tanya Mora panik ketika nama sang anak di sebut.


"Lora pingsan tan" jawab Verel gelisah akan keadaan Lora.


"Heru cepat periksa anak saya!" perintah Xavier tegas + dingin.


"Ba-baik tuan" jawab Heru langsung memeriksa keadaan Alora, setelah itu memanggil perawat untuk mengambil infus dan yang dibutuhkan lainnya.


"Heru apa yang terjadi pada anak saya?" tanya Mora.


"Nona muda terlalu lama menangis nyonya, asam lambung nona muda juga lagi naik, jadi nya sesak nafas, itu yang membuat nona muda pingsan. Apa tadi pagi nona muda tidak sarapan tuan, nyonya?" tanya Heru.


"Tadi pagi Lora tidak sarapan. Cuma tadi Lora ada makan seblak" Bukan Xavier atau Mora yang menjawab tapi Verel.


"Oo, itu penyebab utama asam lambung nona muda kambuh. Kalau bisa nona muda di larang makan yang pedas-pedas, asam-asam. Kopi juga tidak boleh di minum nona muda" jelas Heru setelah memasang infus di tangan Alora karna lemah.


"Jangan biarkan nona muda nangis terlalu lama tuan, atau merasa kelelahan, jika kelahan nona muda akan merasakan sesak nafas." jelas Heru lagi.


"Verel, apa yang membuat Alora sampai kayak begini! kenapa Alora bisa nangis?" tanya Xavier dingin. Baru sampai di ruangan sang anak eh malah dengar keadaan anak memburuk, padahal cuma di tinggal pulang sebentar olehnya dan sang istri.


"Em, itu om, tadi Alora minta di beliin jajan sama Mahesa, tapi Mahesa gak mau dengan alasan sibuk. Terus Mahesa bilang pesan online aja ntar dia yang bayar tapi Lora gak mau, Lora mau nya Mahesa dan Lora yang pergi mencari Snack itu. Terus Alora masuk kamar. Awalnya Verel gak tau juga karna Verel di kamar mandi. Verel cuma liat Alora masuk ke kamar aja. Karna Verel khawatir ya udah Verel gedor pintu kamar Alora setelah lama Verel gedor, Verel dengar Alora nangis. Gak lama dari itu suara tangis Alora tak terdengar lagi. Sontak saja Verel sama Mahesa khawatir, jadi kami langsung dobrak pintu kamar Alora. Setelah kami dobrak, kami liat Alora sudah tergeletak di lantai. Habis itu Verel disuruh Mahesa untuk panggil dokter Heru. Saat kami baru sampai di ruangan ini om sama Tante juga sampai" jelas Verel tanpa mengurangi atau menambah cerita.


"MAHESA" teriak Mora.


"Iy-iya mom" jawab Mahesa ketakutan karna melihat sang mommy marah, selama ini ia tak pernah melihat sang mommy yang marah seperti ini.


"Tidak bisakah kamu menuruti keinginan adek kamu itu? sekali-kali kamu disini cuma nemani atau beliin adek kamu jajan aja gak bisa?" tanya Mora dingin.


"Takut bangkrut kamu kalau adek kamu minta uang untuk beli jajan yang gak seberapa itu?" kali ini Xavier yang bertanya pada sang anak.


"Eng-enggak dad"


"Terus kenapa kamu kayak gitu sama adek kamu sendiri? sedangkan sama jalan* itu kamu selalu royal. Sama adek kamu sendiri kamu pelit. Kamu kira Daddy gak tau keadaan kamu disana hah?" tanya Xavier setengah membentak sang anak.


"Adek kamu minta palingan seratus untuk kamu beliin Snack, tapi kayak gini jawaban kamu? sedangkan sama ondel-ondel kamu itu, minta berjuta-juta kamu kasih!" Tanya Xavier lagi dengan nada dingin dan datar pada Mahesa. Sedangkan Mahesa yang ditanya tidak bisa menjawab apa kata sang Daddy karna apa yang dikatakan sang Daddy benar adanya. Ya Mahesa mempunyai teman wanita disana yang rata-rata bekerja di gemerlap malam, tapi Mahesa tidak pernah melakukan sesuatu yang di larang oleh agama. Mahesa cuma berteman saja, kalau masalah uang ya teman Mahesa selalu minta ke Mahesa dengan nominal kadang gak masuk di akal.


Bersambung..........

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, subscribe, and vote ya guys. See you next chapter bye bye 👋👋👋


__ADS_2