Maaf Pak, Izin Mencintai

Maaf Pak, Izin Mencintai
Bab 9


__ADS_3

Happy reading..........


"Nak bangun nak udah sore gak boleh lagi tidur, itu teman kamu datang, udah tuh bersandar nya sama nak Verel. Kasian nak Verel masih belum sehat" ucap Mora dengan lembut pada sang anak.


"Hmmm, iya mah, Lora bangkit" tapi masih bersandar pada Verel, bahkan tidak bergerak sedikit pun.


"Astaga Alora" Teriak Cia yang kesal.


"Ihhh, kalian kok ngeselin sih!" ucap Alora kesel sambil duduk dengan benar tidak lupa tangan nya mengucek-ngucek mata. Sedangkan semua orang hanya geleng-geleng kepala melihat Alora.


"Udah cuci muka sana, gak malu apa disini bukan cuma teman kamu aja, tapi guru yang lain juga datang" ucap Verel sambil menepuk kepala Alora dengan pelan.


"Pak, kenapa bapak gak bilang sih dari tadi! kan Lora jadi malu!" jawab Alora dengan pelan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kamu lah, udah di suruh bangun tapi gak mau bangun"


"Ihhhkkk ngeselin banget semuanya" ucap Alora sambil berlari menuju kamar mandi.


"Memanglah gak pernah berubah dari dulu" ucap Verel dengan senyum tipis.


"Wow, suatu kelangkaan yang pernah gue lihat, yaitu senyum pak Verel. pantesan Alora tergila-gila sama pak Verel orang senyumnya manis gitu" ucap Aura dengan heboh.


"Iya manis, tapi lebih manis senyum pak Murija" sahut Cia tanpa sadar.


"Lu suka sama pak Murija Cia?" -Sandra-


"Eh, eng-enggak. Siapa bilang"


"Itu lo sendiri yang bilang tadi"


"Ah udah ah, ntar di dengar sama pak Murija. Malu gue" jawab Cia dengan wajah merah.


"Tapi saya dengar semuanya" Ucap pak Murija.


Rizki Murija adalah seorang guru di SMA High School. Sifat pak Murija atau yang lebih sering di panggil Riski itu sebelas dua belas sama Verel. Bisa dibilang bagaikan kembaran. Mulai dari sifat, tinggal badan, yang membedakannya hanya warna kulit. Jika Verel putih bersih, maka pak Rizki sawo matang. Dan pak Rizki perokok sedangkan Verel tidak suka merokok.


"Ehh, kok bapak bisa di belakang kami?" tanya Cia gugup.


"Apa yang bapak dengar?" tanya Sandra dengan datar, jika Cia gugup karna di dengar oleh Rizki, maka Sandra terlihat lebih santai.

__ADS_1


"Saya dengar kalian membicarakan saya"


"Bukannya itu termasuk tidak sopan. Menguping pembicaraan orang lain!"


"Saya tidak menguping!"


"Terus apa juga nama nya? mendengar pembicaraan orang lain, kalau bukan nguping?"


"Sandra, udah gak usah di lanjutin lagi. Tetap ke tujuan pertama kita. Jenguk Alora, bukan membahas pak Murija." ucap Cia yang gak mau berurusan sama sang guru yang terkenal dingin tersebut.


"Gak bisa! gue gak suka privasi gue di ganggu, mau itu cuma nguping pembicaraan tau yang lainnya." ucap Sandra


"Aduh kok malah gini sih jadi nya" jawab Cia sambil menepuk jidatnya.


"Saya punya telinga, jadi saya gak nguping. Lagian kalian ngomongin saya di depan saya. Jadi saya tidak nguping." sahut Rizki acuh, lalu pergi dari hadapan Sandra dan Cia menuju Verel.


"Ihhhkkk ngeselin. Gue sumpahin lo dapat istri super duper cerewet, ngeselin, bacot, kayak Cia" ucap Sandra dengan emosi.


"Eh kok jadi gue?"


"Ya elu lah, kan elu suka sama pak Murija.


❇️ ❇️ ❇️


"Lora lu masih lama gak di WC nya, gue kebelet nih" teriak Risha sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi tapi tidak ada jawaban dari Alora. Karna kesal Risha langsung membuka pintu tersebut ternyata tidak di kunci.


"Lora gue masuk ya, lo kelamaan gue udah kebelet nih" ucap Risha sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya elah Lora gue kirain lu ngapain tadi! ternyata lu malah tidur disini, hadeh punya bestie tapi malah modelan kaya gini."


Setelah selesai dengan urusan nya, Risha mengendong Alora. Tidak susah bagi Risha untuk mengendong Alora karna badan Alora yang kecil dan tidak lah terlalu berat. Jadi mudah untuk di angkut.


"Eh Alora kenapa nak Risha?" tanya Xavier cemas karna sang anak di gendong oleh Risha.


"Biasalah om, tidur di kamar mandi. Risha kira tadi Alora mandi atau apa di kamar mandi, eh rupanya malah tidur di bathtub om" Jelas Risha sambil menaruh Alora di atas sofa.


"Kebiasaan kalau masih ngantuk selalu tidur di sembarang tempat. gimana nanti kalau udah jadi istri orang" ucap Xavier geleng kepala dengan kebiasaan sang anak.


"Udahlah, biarlah Alora tidur dulu, kalau udah puas tidur nya pasti bangun sendiri. Lagian kan kemarin dia gak bisa tidur dibilang sama Verel. jadi biarkan saja Alora tidur" ucap Hans pada Xavier.

__ADS_1


"Kalian jenguk nak Verel aja ya nak, Alora nya masih tidur jadi sudah di bangunin." ucap Mora pada teman Alora.


"Santai aja Tante, lagian kami juga udah biasa sama tingkah laku nya Alora."Jawab Ilya yang sedari tadi hanya diam.


(Oh iya kalau kalian bingung sebenarnya rumah sakit ini punya keluarga Alora atau keluarga Verel. Jawabannya adalah punya keluarga Alora. Tapi bukan ayah atau ibunya Alora yang kelola, tatapi bibi nya Alora. Dan Keluar Verel ada menanam modal di rumah sakit keluarga Alora. Mangkanya ruangan Verel berbeda dengan ruangan lain. Terus kalau kalian tanya kenapa keluarga Alora gak nginap di ruangan keluarga Xavier yang ada di rumah sakit tersebut. Jawabannya adalah karna ayah Alora tidak terlalu suka berada di rumah sakit, serta gak mau nempatin ruangan tersebut jika tidak ditawarin oleh adik nya sendiri. Karna bagi Xavier itu adalah punya adik nya jadi dia tak berhak atas itu. Jadi sampai disini paham gak guys. Kalau masih gak paham komen aja ya guys gak usah sungkan, kalau salah sama-sama kita perbaiki agar lebih baik lagi kedepannya.)


"Eh kalian duduk dulu lah, dari tadi berdiri aja, gak capek apa? ini udah Tante siapin cemilan, sama minuman untuk ngobrol nya. Tante mau pamit pulang dulu, kalian disini aja ya dulu" Ucap Daniah sambil menaruh air serta cemilan di atas meja.


"Tante sama om juga mau pulang dulu, kalian jagain Alora sama Verel ya. Kalau Alora udah bangun suruh mandi sama minum obat, tadi sakitnya Alora kambuh lagi" ucap Mora pada teman nya Alora.


"Iya Tante, tapi Alora nya udah gak papa lagi kan tante? kenapa bisa kambuh lagi tante?" tanya Sandra.


"Lora udah gak papa kok, cuma butuh istirahat aja, makanya kalian jaga dia ya. Tante pulang dulu" ucap Mora sambil keluar dari ruang inap Verel.


"Iya Tante Mora hati-hati, Tante Daniah juga hati hati ya" ucap Sandra.


"Iya, kami pergi dulu ya"


🍁🍁🍁🍁


Tak lama setelah orang tua Verel dan Alora pergi barulah Alora bangun dari tidur nya yang lelap.


"Hoammm"


"Akhirnya ratu tidur bangun juga, gimana tidur nya tuan putri apakah nyenyak? atau masih mau tidur lagi?" tanya Aura.


"Sejak kapan kalian datang? Mama sama Tante mana pak?" tanya Lora pada Verel yang sedang bercerita dengan teman nya.


"Udah pulang, tadi Tante Mora pesan kamu disuruh mandi, terus minum obat, jangan tidur lagi, makan, jangan main hp, jan-"


"Udah gak usah di sambung lagi, lanjutin aja ceritanya, bawel banget jadi orang, ngeselin! Guys ayuk ke kamar malas dengerin kakek tua kalau udah ngomong panjang, lebar gak ada hentinya" potong Alora sambil menarik teman-teman nya masuk kedalam kamar yang ia tempati semalam.


"Gue baru tau kalau sifat pak Verel itu cerewet, bawel kayak gini. Yang gue tau cuma dingin sama kayak pak Murija" gumam Cia.


"Dari tadi lu asik bilangin pak Murija emangnya ganteng pa Murija itu? kesel gue sama tuh orang, untung guru, kalau enggak udah gue ajak bangku hantam tuh orang" ucap Sandra greget dengan pak Murija.


"Pak Murija tidak lah ganteng tapi hanya manis"


Bersambung.........

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, favorit ya guys. See you next chapter, bye bye 👋👋👋


__ADS_2