
Waktu baru menunjukkan Pukul 10 pagi, namun di sebuah toko kue sudah tampak banyak orang berjejal untuk membeli cake. Tiga pegawai toko juga nampak bersemangat untuk melayani pembeli, terlihat wanita cantik berambut panjang yang juga sedang sibuk dibelakang layar monitor melayani pembeli yang ingin membayar belanjaan mereka. Icha Felista namanya, pemilik toko kue yang sudah memiliki lebih dari 5 cabang di kota tersebut. Icha memang selalu membantu toko yang terdekat dari rumahnya, di umurnya yang sudah menginjak 26 tahun dia masih jomblo. Banyak lelaki yang ingin menjadikan pendamping hidupnya, namun Icha masih belum mau menikah karena masih ingin fokus dengan usahanya. Bahkan orang tuanya sudah lelah untuk meminta Icha segera menikah. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, toko yang tadinya ramai sudah mulai agak sepi.
"Huahemm, aku mau ke cafe dulu ya sin", pamitnya ke Sinta, pegawai toko.
Icha keluar menuju mobilnya, sesampai di dalam mobil dia mengeluarkan hpnya dan menelfon seseorang.
"Ya gimana Cha?" Suara terdengar dari seberang, Icha menjawab bahwa dirinya mengajak Resti untuk makan siang di Cafe Hijau, tempat favorit mereka.
Icha mengemudi mobilnya dengan santai, sesampainya di cafe dia memilih tempat paling belakang dekat jendela. Saat sedang berjalan tiba-tiba dia menabrak seseorang. Bruk..
"Lo tu bisa jalan ga sih? baju gue basah kan jadinya." Omel Icha.
"Sorry-sorry gue buru-buru banget soalnya, udah ya bye, sorry sekali lagi." Sambil setengah berlari terburu-buru.
Icha menggerutu karena cowok itu berlalu begitu saja meninggalkannya, tanpa sengaja dia melihat kartu nama terjatuh dan tertera nama Frans. Ketika sedang asik memperhatikan kartu nama, Resti tiba tiba datang mengagetkannya,
"Gila Res, untung jantung gue aman," Omel Icha, dan sahabatnya itu hanya ber haha hihi ria, kini giliran Resti terkejut melihat baju Icha yang basah.
"Baju lo kenapa Cha?"
Icha menjelaskan bahwa tadi dirinya ditabrak oleh cowok ga jelas buru-buru banget jalannya.
"Jangan sebel kayak gitu Cha, siapa tau tu cowok jodoh lo, haha." Kata Resti yang mencoba untuk meredam emosi sahabatnya itu.
"His amit-amit , buruan lo pesen apa udah laper nih gue."
__ADS_1
Mereka lalu makan dan lanjut ngobrol.
Sementara di tempat lain, di suatu perusahaan seorang lelaki tampan sedang senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Ya Frans, dia memang sudah merencanakan kejadian tadi, karena dia tau di jam makan siang pasti Icha akan ke Cafe Hijau.
"Yes, akhirnya gue ketemu lagi sama cewek itu, pasti dia udah ngambil kartu nama gue tadi, hehe." Frans berguman.
tok tok tok, pintu ruangan diketuk oleh seseorang,
"Hai sayang, udah makan belum?". Disaat tau siapa yang datang muka Frans menjadi judes.
"Udah, ngapain kesini? Aku lagi sibuk."
Yang ditanya hanya mengatakan bahwa dirinya mau mampir aja, karena kebetulan habis shopping di mall sebelah. Karena Frans tidak lagi menggubrisnya, wanita itu memilih untuk berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Perempuan itu adalah Sherin, istri dari Frans. Sejak dulu mereka berteman dan dijodohkan oleh keluarganya. Bahkan hingga sekarang menjadi istrinya, Frans belum bisa membuka hatinya untuk Sherin. Dia hanya menganggap Sherin sebagai teman tidak lebih. Sebenarnya Frans sudah menyukai seseorang dari sejak SMA, Icha Felista namanya. Namun dulu Frans tidak berani untuk menyatakan cintanya, dan rasa itu tidak pernah hilang sampai sekarang. Frans bertekad untuk menjadikan Icha sebagai istrinya, dia selalu berdo'a kepada Allah agar dipisahkan dari istrinya yang matre itu. Sherin tipikal orang yang suka shopping, barang yang dikenakan juga harus branded, mungkin karena Sherin terlahir dari orang tua yang berada jadi apapun pasti terpenuhi. Sama seperti sekarang Sherin bisa menikah dengan Frans, itu adalah keinginannya. Meskipun dia tau Frans tidak menyukainya.
"Tuh Icha udah pulang, tante tinggal ke dalam ya. Cha kamu ngobrol dulu ya sama Diki." Mama Icha berlalu dari hadapan Icha dan Diki.
"Hem, ngapain li kesini?" Tanya Icha sambil duduk di kursi.
"Masa main ga boleh si Cha, eh btw ntar malem keluar yuk." Diki masih berusaha untuk bisa dekat dengan Icha, dia mengajaknya untuk pergi jalan ke mall karena Diki tau sahabatnya itu suka jika diajak ke mall meskipun hanya untuk sekedar makan.
"Ayo dong Cha, mumpung gue lagi free." Diki memasang muka memelas.
"Oke, ntar gue mandi dulu ya." Sambil berlalu meninggalkan Diki.
__ADS_1
Selesai mandi Icha berpamitan ke mamanya.
"Nah gitu dong keluar sama cowok jangan kemana-mana sendiri kayak ga ada yang mau aja sama kamu." Kelakar mamanya, karena jujur saja mama Icha sudah sangat menginginkan seorang cucu agar dirinya tidak kesepian.
"Ih mama apaan sih, kan mama sendiri yang ngajarin Icha buat mandiri apa-apa ga tergantung sama orang lain, gimana sih mama. Yaudah ah berangkat dulu." Icha segera menghampiri Diki karena kalai tidak, mamanya akan terus membahas tentang pernikahan, bagaimana mau menikah sedangkan pacar saja Icha tidak punya.
Diki mengemudikan mobilnya, sambil sesekali memperhatikan seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya, sungguh Diki tidak bisa menampik bahwa sampai sekarang dirinya belum bisa membuka hati untuk wanita lain. Entahlah isi dari hati Diki hanya Icha.
"Wih cantik bener lo Cha, jadi ga sabar pengen nikahin lo, hehe."
"Udah deh, kalo bahas gituan gue turun nih." Icha memang merasa sedikit risih jika Diki berkata seperti itu. 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di mall, Icha langsung memilih baju-baju yang sekiranya dia suka. Selesai beli baju mereka lanjut makan. Diwaktu yang bersamaan ternyata Frans juga berada di restauran di mall tersebut.
"Apa dia udah bersuami ya???, wah ada saingan nih gue. Pokoknya gue harus cari tau siapa cowok itu." Pikirnya, Frans lalu mengeluarkan ponsel dan menelfon seseorang.
Sementara itu dimeja Icha dan Diki makan datanglah seorang lelaki yang membawa bunga untuk Icha.
"Permisi, ini mbak Icha Felista?''
"Iya kenapa ya pak?" Tanya Icha heran.
"Ini ada kiriman bucket mbak, saya permisi dulu." Laki-laki itu menaruh bucket di meja dan berlalu begitu saja tanpa menjelaskan bucket itu dari siapa.
"Dari siapa Cha?" Tanya Diki sembari mencomot kentang gorengnya.
"Gatau nih, bukan dari lo kan??" Icha sedikit curiga dengan Diki, pasalnya dia tau bahwa sahabatnya itu menaruh hati padanya.
__ADS_1
"Ya bukanlah orang dari tadi gue sama lo ngapain musti ngasih bunga lewat orang lain, kalau gue mau ngasih ya tinggal kasih lah." Diki sedikit mengeraskan suaranya, karena baginya pertanyaan Icha tidak masuk akal. Icha sendiri pun dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Diki. Mereka segera menghabiskan makanannya dan lanjut pulang, selepas mengantar Icha pun Diki langsung menuju rumahnya yang hanya 10 langkah dari rumah Icha.