
Pagi telah tiba, sinar matahari menembus jendela kamar Icha, dia meregangkan otot-ototnya. Kepalanya terasa pusing, dia hanya tidur 3 jam saja tadi malam. Terdengar pintu kamar diketuk . Tok tok tok..
"Cha, bangun tumben udah jam segini belum siap-siap?'' tanya mamanya, Icha mengerjapkan matanya yang masih sembab karena menangis semalam.
"Buruan sana mandi, mama tunggu sarapan dibawah ya Cha." Kata mama Icha sambil menutup pintu.
"Oke ma." Sahutnya dengan pelan, sungguh Icha tidak semangat menjalani hari ini. Apalagi dia harus memberikan jawaban ke Frans. Icha menuju kamar mandi dan segera bersiap untuk menuju toko. Selesai sarapan Icha tidak langsung ke tokonya melainkan ke rumah Resti.
tok tok tok...
"Ya sebentar." Terlihat asisten rumah tangga Resti yang membukakan pintu. Asisten tersebut memberitahukan bahwa Resti ada di taman belakang rumah, Icha pun langsung menuju taman yang terlihat Resti sedang duduk di ayunan.
"Res..." Sapa Icha sambil menghampiri Resti.
"Hai Cha, wah tumben bos yang satu ini ke rumah gue pagi-pagi ini, hehe'' Resti sebenarnya merasa heran karena tidak biasanya sahabatnya itu ke rumahnya di jam-jam segini.
"Kayaknya gue rela deh jadi istri ke dua." Icha memulai menumpahkan isi hatinya, cukup lama mereka membicarakan hal tersebut.
"Hemm ya kalau itu emang pilihannya ya musti gimana lagi Cha, pokoknya gue cuma bisa dukung lo, gue akan selalu ada kalau li butuh, terus nyokap lo gimana?." Tanya Resti dengan hati-hati, karena dia tau Icha pasti akan sedih kalau sudah menyangkut mamanya. Icha juga meminta kepada Resti agar menjaga rahasianya sampai dia benar-benar siap untuk berbicara kepada mamanya.
"Sabar ya Cha, lo mau ke toko juga?" Resti berusaha untuk mengalihkan topik.
"Gue ga ke toko dulu Res, mau disini aja." Resti mengangguk dan mengajak Icha untuk masuk ke dalam rumah mengingat semakin lama di taman sinar matahari mulai menyengat. Icha mencurahkan semua isi hatinya ke Resti. Hanya Resti yang bisa dipercaya oleh Icha.
Hari terasa terasa begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya buat ketemu sama Frans. Icha mengajak Resti untuk menemui Frans, mereka segera menuju ke cafe Hijau. Terlihat Frans sudah duduk di meja paling ujung.
__ADS_1
" Wah calon istriku yang cantik ini sudah datang," Sapa Frans sambil berdiri dari duduknya dan Icha hanya mengernyitkan dahi tanpa menanggapi Frans.
"Ini siapa?" sambil menunjuk Resti.? Icha menjelaskan kepada Frans bahwa Resti adalah sahabatnya.
"Jadi gimana keputusan kamu?" Tanya Frans to the point. Icha menarik napas sejenak dan menjawab bahwa dia mau untuk menjadi istri kedua asalkan Frans tidak memberitahukan kepada mamanya kalau sudah beristri dan Icha mau pernikahannya hanya berjalan 10 tahun alias kawin kontrak.
"What 10 tahun???" Frans tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Icha.
"Iya, gue rasa waktu 10 tahun sudah cukup untuk gue mengabdi sama lo menggantikan hutang papa gue." Lagi-lagi Icha berusaha agar Frans menyetujui persyaratannya, setelah terjadi perdebatan yang sengit akhirnya Frans menyetujuinya, namun dalam hati Frans berkata lain.
"Oh iya, kenapa gue ga boleh bilang ke nyokap lo kalau gue udah beristri? sah sah saja kan orang berpoligami?" Lagi-lagi Frans melontarkan pertanyaan yang membuat Icha menjadi naik pitam.
"Apa pertanyaan lo harus gue jawan juga??? hei mana ada orang tua yang rela anaknya jadi istri ke dua, kurang waras nih orang kayaknya." Icha menjelaskan dengan suara yang ditekankan. Frans tertawa melihat Icha yang menjadi sangat lucu saat sedang marah.
Setelah makan siang Icha dan Resti langsung menuju kantor, lalu ke ruangan papanya.
Tok tok tok.....
"Ya masuk." Sahut suara dari dalam, Icha memegang handle pintu dan membukanya.
"Siang pa." Sapa Icha sambil duduk di kursi, tanpa basa basi Icha langsung menjelaskan tujuannya yaitu mau menikah dengan Frans dengan persyaratan hanya 10 tahun menjalani rumah tangganya. Papanya seketika berdiri saat mendengar apa yang disampaikan Icha.
"Kamu jangan gegabah Cha, gimana nanti dengan mama kamu??"
Papa Icha sudah benar-benar frustasi, meskipun kini perusahaannya sudah mulai membaik namun mengingat hutangnya yang sangat banyak membuatnya sangat stres, apalagi hanya memendam masalah seorang diri. Melihat papanya yang hanya diam Icha pun berkata,
__ADS_1
"Udaah papa ga usah khawatir, nanti sebisa mungkin Frans tidak akan mendatangkan orang tuanya saat pernikahan." Sambil beranjak dari duduknya dan memeluk papanya. Sungguh papa Icha merasa membebani anaknya akibat hutangnya terhadap Frans. Keduanya lantas berpelukan, menangis. Icha pun sebenarnya berat untuk melakukan itu semua, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa dia akan memiliki jalan hidup yang seperti ini. Pernikahan yang diimpikannya adalah menikah dengan orang yang dicintainya dan mencintainya, direstui oleh kedua belah pihak, memiliki anak yang lucu. Ternyata itu semua hanyalah khayalan semata. Untuk kedepannya dia harus menikah dengan orang yang belum dia kenali lebih jauh.
Icha menulis pesan untuk Frans,,
"Frans, gue tadi udah bilang ke papa tentang rencana gue sama lo."
Tidak lama pesannya dibalas Frans..
"Oke, besok sehabis makan siang kita fitting baju, oh ya dan untuk tempat tinggal lo ga perlu khawatir, gue udah nyiapin 1 apartemen buat lo."
Icha memilih untuk tidak membalas pesan tersebut, jangankan untuk satu atap dengan Frans, untuk sekedar berpapasan saja sebenarnya Icha sudah muak. Perubahan Icha disadari oleh mamanya, Icha yang biasanya periang menjadi lebih pendiam. Saat Icha sedang merenung di kamar datanglah mamanya,
"Hei Cha, lagi ngapain? kok bengong?" Sambil duduk di dekat Icha, dan Icha hanya mengatakan bahwa dia sedang kecapekan saja. Mama Icha sebenarnya mengetahui sesuatu dan ingin menanyakan langsung terhadap anaknya tersebut, namun ternyata Icha yang lebih dulu ingin bertanya kepada mamanya.
"Ma, Icha boleh tanya gak?"Sembari menggeser posisi duduknya.
"Boleh dong, tanya apa sayang?"
Icha pun menceritakan berandai-andai kalau ada seorang perempuan yang menyukai laki-laki yang sudah beristri dan tentang laki-laki yang mau berpoligami. Mama Icha menjelaskan bahwa suka terhadap seseorang itu alamiah, tergantung bagaimana kita mengontrol perasaan kita sendiri, dan untuk berpoligami itu memang diperbolehkan dalam agama islam, asal mampu, bisa berlaku adil terhadap keduanya, dan pastinya harus mendapat restu dari istri pertama maupun orang tuanya. Panjang lebar mama Icha menjelaskan kepada Icha, dan Icha pun melontarkan pertanyaan lagi yang membuat jantung mamanya berdetak lebih cepat.
"Ma, kalau suatu saat nanti misal ya ma, misal.. em kalau ternyata jodoh Icha adalah orang yang sudah bersuami gimana ma?" Icha berkata dengan pelan karena takut kalau mamanya akan marah.
"Ya untuk urusan jodoh, rezeki, maut kan sudah ditentukan oleh Allah Cha. Ya mama sebagai orang tua berharap agar anaknya mendapatkan lelaki yang masih sendiri, baik, setia, dan bisa menjadi imam yang baik buat keluarganya. Tapi semua itu kan hanya harapan Cha, kalau ternyata memang sudah jalannya menjadi yang ke dua ya mau gimana lagi." Ingin rasanya saat itu juga Icha menangis memeluk mamanya, dia yang sebelumnya merasa sangat takut terhadap kemungkinan yang terjadi menjadi lega. Ternyata mamanya memiliki pandangan yang berbeda dari apa yang dipikirkan Icha. Mama Icha berpura-pura untuk tidak mengetahui semuanya sebelum Icha yang bercerita sendiri, begitu pun dengan Icha yang beralasan sudah mengantuk dan ingin segera istirahat, namun ada kata-kata dari mamanya yang seakan itu ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Cha mama harap kamu berkata jujur tentang yang sedang kamu alami ya. Apapun itu, seberat apapun itu mama gak mau kamu menanggung semua sendirian. Mama cuma gak mau kalau semua orang yang disini menginginkan mama selalu baik baik saja, sedangkan kamu dan papa sedang tidak baik baik saja." Itulah kalimat yang dilontarkan mamanya sebelum akhirnya meninggalkan kamar Icha. Icha merebahkan dirinya di kasur, dia tidak menyangka mamanya bisa berkata seperti itu.
__ADS_1