
Icha langsung menuju kamarnya lalu menaruh bucket tadi di mejanya, namun dia juga bingung siapa gerangan yang sudah mengirimkan untuknya. Hingga setengah jam sudah Icha hanya bengong memperhatikan bucket yang sangat indah itu, tak lama kemudian terdengar pintu kamar diketuk oleh seseorang,
Tok tok tok....
Terlihat mama Icha tersenyum dan menghampiri anak semata wayangnya itu, sudah beberapa hari ini ingin sekali menyampaikan secara serius kepada Icha tentang harapannya,
"Mama mau bicara Cha," Sambil mengelus rambut Icha.
"Iya ma ada apa?''
Mama Icha mulai berkata bahwa dia ingin Icha untuk jangan terlalu memprioritaskan pekerjaan karena usianya sudah tidak muda lagi dan membutuhkan seorang pendamping hidup.
"Mama juga kepengen menimang cucu," Sambung mamanya, jujur sebenarnya Icha juga sudah muak karena sering ditanya oleh orang-orang kapan menikah. Icha berfikir keras siapa kelak yang akan menjadikannya istri, setelah berpikir sejenak Icha menyahut pembicaraan mamanya.
"Aduh ma, iya Icha juga lagi nyari yang cocok."
Mama Icha sudah bosan dengan jawaban dari anaknya yang selalu begitu, tanpa berpikir panjang dia menyarankan agar Icha menikah dengan Diki, dengan alasan sudah mengenal orang tuanya, yang pasti juga Diki adalah anak yang sudah mapan.
"Ma, Icha cuma menganggap Diki sebagai sahabat gak lebih, udah ya ma Icha mau tidur dulu, capek." Jika sudah menyangkut Diki yang bisa dilakukan Icha hanyalah menghindar, entah sudah berapa kali bilang ke mamanya kalau dia tidak menyukai Diki namun seolah mamanya tidak mau tau apa yang dirasakan Icha. Bisa jadi mamanya juga sudah pusing karena anaknya di umur 27 tahun belum punya pasangan, apalagi saat berkumpul dengan ibu-ibu arisan pasti Icha selalu menjadi bahan gosip karena belum punya pasangan.
"Selalu seperti itu kalau diajak berbicara tentang pasangan, yaudah mama kasih waktu 1 bulan, kalau kamu ga dapet udahlah sama Diki aja." Mama Icha berlalu meninggalkan kamar Icha.
Setelah mamanya keluar Icha berusaha untuk memejamkan matanya, rasanya udah bosen hampir tiap hari ditanya kapan nikah.
__ADS_1
Pagi menjelang, seperti biasa Icha mulai bersiap untuk ke toko kue. Hari ini dia memakai dress selutut warna nude yang membuat penampilannya menjadi lebih menawan.
"Pagi sayang, wah cantik banget anak mama." Sapa mamanya.
"Hehe, mama bisa aja. Papa udah berangkat ma?" Icha sedikit heran karena sudah beberapa hari ini papanya selalu absen saat sarapan bersama, dan saat ditanya mamanya pun hanya menjelaskan bahwa papanya memang sedang ada pertemuan dengan klien. Selesai sarapan Icha berpamitan ke mamanya dan tancap gas ke toko kue. Sesampai di toko nampak pegawainya sedang menata kue dan bersih-bersih. Icha menyapa para pegawainya
"Selamat pagi semua." Sapa Icha setiap kali memasuki toko.
"Pagi juga kak Icha." Sahut pegawainya dengan antusias, mereka sangat menyukai Icha karena meskipun bos dia tidak pernah menjaga jarak dengan mereka, bahkan mereka kerap makan bersama saat penjualan toko hari itu naik. Ketika hendak duduk salah satu pegawainya datang memberikan bucket sama persis seperti yang diterimanya tadi malam. Icha semakin dibuat bingung siapa sebenarnya yang mengirimi bunga. Namun kali ini ada kartu ucapannya yang bertuliskan, FRANS.
"What???'' pekik Icha, dia ga nyangka kalau cowok rese itu yang mengiriminya bunga. Dia teringat akan kartu nama Frans dan mengambilnya di tas. Icha lantas menghubungi nomor yang tertera di kertas tersebut, terdengar bunyi telepon tersambung..
"Selamat pagi, maaf ini siapa ya?" Sapa Frans.
"Heh lo cowok nyebelin, ngapain lo kirimin gue bunga, gue tuh ga kenal ya sama lo." Icha dengan kesal memaki Frans.
Sementara Frans girang setengah mati karena berhasil mendapatkan nomor Icha tanpa harus memintanya sendiri.
Pintu kamar terbuka, Sherin datang menghampiri Frans, lagi-lagi Sherin menanyakan mengapa sampai saat ini Frans belum sekalipun menyentuhnya. Frans semakin frustasi karena pertanyaan Sherin, bahkan dia sendiri sudah berkali-kali menjelaskan kalau dia tidak akan menyentuhnya karena memang tidak mencintai Sherin, bahkan Frans sendiri sudah tau biarpun dia tidak memberikan nafkah batin, istrinya itu sudah mendapatkannya dari laki-laki lain yang selalu ditemuinya hampir setiap hari di hotel. Namun Frans hanya diam dan pura-pura tidak tau.
"Sampai kapan kamu menutup hati kamu buat aku Frans?" Sherin kembali bertanya.
"Entahlah Sher, oh iya dan satu lagi aku mau ngasih lihat kamu sesuatu." Frans mengambil ponsel dan membuka galeri, disana terlihat Sherin sedang masuk ke dalam hotel bersama pria lain dengan bergandengan mesra. Tentu saja Sherin sangat shock, bagaimana bisa Frans mendapatkan video itu.
__ADS_1
"Em i itu ga seperti yang kamu lihat Frans, kamu percaya kan sama aku." Sherin terlihat sangat gugup dan takut, sementara Frans hanya tersenyum simpul melihat Sherin yang begitu gugup.
"Kamu pasti tau alasannya aku melakukan itu Frans, karena kamu ga pernah nyentuh aku." Sherin masih berusaha membela diri, di mata Frans istrinya itu sudah dalam kategori wanita yang gak bener, mungkin jika Sherin tidak melakukan hal bodoh itu lambat laun Frans bisa menerimanya. Sayangnya Sherin hanya memikirkan nafsunya saja, tanpa memikirkan akibatnya. Pernikahan mereka terjadi karena Sherin yang sudah menghasut mama papa Frans agar mau menikah dengan Sherin, karena orang tua Frans dulunya pernah dibantu oleh keluarga Sherin akhirnya menyetujui usul Sherin. Padahal di sisi lain Sherin sudah mempunyai seorang kekasih yang sampai saat ini masih bersamanya.
"Aku ada satu permintaan sama kamu." Frans mengutarakan niatnya untuk menikah dengan orang lain, yaitu Icha. Sherin yang mendengar permintaan Frans pun marah besar.
"Yaudah, kamu pikirkan dulu aja Sher, atau video ini akan aku kasih ke keluarga kamu."
Frans meninggalkan Sherin yang masih mematung di kamar. Sherin sangat bingung, kalau dia ketahuan selingkuh oleh keluarganya dapat dipastikan kedua orang tuanya tidak lagi menganggapnya anak. Sherin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ya gimana sayangku??" Terdengar suara seorang pria.
Sherin pun menjelaskan apa yang barusan terjadi.
"Bentar, kok bisa dia dapet video kita?" Pria itu heran, pasalnya mereka selalu mendatangi hotel yang letaknya lumayan terpencil. Begitu pula dengan Sherin yang juga kebingungan.
"Gini aja kamu setujui aja kalau dia mau nikah lagi, lagipula kamu kan juga sama aku. Pokoknya jangan sampai Frans lepas dari kamu, kalau lepas bisa-bisa kamu ga dapet hartanya Frans." Usul pria itu. Untuk sementara Sherin menyetujui usulan Devin, ya Devi nama kekasih Sherin.
Devin dan Sherin kembali melanjutkan obrolannya agar rencana mereka berhasil.
Sementara itu di tempat lain Jam menunjukkan pukul 12 siang, waktu makan siang telah tiba seperti biasa Icha langsung melajukan mobilnya ke Cafe Hijau, sesampainya di cafe Icha memilih menu dan menikmati makan siangnya seorang diri. Tiba-tiba ponselnya bergetar,
1 Message from : Frans Gila
__ADS_1
"Aduh yang makan siang sendirian, mau ditemenin ga nih?"
Icha hanya membuka pesan itu namun tidak membalasnya, heran dimana dia berada pasti ada saja ulah Frans.