Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 17


__ADS_3

Pov Frans


Suasana dikantor hari ini agak beda, meja asisten pribadiku mendadak kosong, biasanya dia selalu paling pagi sebelum aku sampai di kantor..


"Wan, si Hesti kemana?" Tanyaku pada salah satu karyawanku.


"Hari ini kan Hesti sudah mulai cuti pak, karena sebentar lagi melahirkan."


Aduhh aku malah melupakan kalau aku harus mencari pengganti sementara Hesti cuti. Aku sendiri sebenarnya agak sulit untuk menemukan pengganti asisten, karena sementara ini hanya Hesti yang cekatan dan bisa di andalkan dalam pekerjaan.


"Wan, kamu ada rekomendasi orang untuk asisten sementaraku gak? aku lupa kalau Hesti udah mulai cuti hari ini."


"Oh ada pak, temen saya orangnya cerdas juga seperti Hesti, dia baru pulang dari Amerika dan kebetulan belum bekerja pak. Kalau bapak berkenan, besok saya ajak dia kesini,"


"Oke Wan, untuk hari ini kamu yang menggantikan Hesti dulu ya karena nanti saya ada meeting."


"Baik pak."


Aku segera masuk ke ruanganku, biasanya aku sampai di ruangan Hesti sudah dengan rapi menyusun dokumen-dokumen yang harus aku teliti kembali, namun sekarang di meja belum ada 1 dokumen pun. Dalam mencari karyawan aku tidak memilih harus yang good looking, jadi meskipun asistenku ibarat kata wajahnya hanya rata-rata saja namun dia sangat cekatan, cerdas, dan juga rapi. Bagiku itu sudah lebih dari cukup, karena menurutku untuk apa mencari karyawan yang cantik, dan bohay tapi tidak cerdas ya tidak ada yang bisa dibanggakan.


Satu hari berlalu kini waktunya pulang ke rumah mertuaku, sebenarnya aku sudah ingin sekali mengajak Icha untuk pindah ke apartemen, tapi ku urungkan niatku. Aku akan mengajak Icha pindah setelah resepsi saja.


Sama seperti malam-malam sebelumnya, disaat bersama Icha aku pasti akan meminta dia untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Hingga pagi telah datang, aku sudah bersiap ke kantor dengan pakaian lengkap yang sudah disiapkan oleh Icha..


"Sayang aku nanti makan dikantor aja ya, soalnya aku ada ketemu sama klien pagi ini, aku gak mau mereka nunggu."


"Oke Frans,"


"Loh kok Frans, panggil aku sayang dong."


"Hem iya sayang, udah sana berangkat. Oh iya aku nanti mau ke toko." Jawabnya


"Boleh, asal jangan capek-capek, nanti sore aku jemput kamu buat cek kandungan oke sayang. Aku berangkat dulu," Cup.. ku kecup kening Icha.


Kebetulan hari ini Iwan ada janji untuk memperkenalkan asisten untukku, dan Iwan ternyata sudah sampai di kantor..


"Pagi pak Frans," Sapa Iwan


"Pagi Wan, mana asistennya? mau sekalian aku ajak untuk ketemu klien pagi ini,"


"Itu pak,," Tunjuknya,, sesaat aku terbengong melihat siapa asisten yang direkomendasikan Iwan.


"Hai Frans," Sapanya sambil mendekatiku.


"Hah, asistennya Aria Wan?"


"Iya pak, apa bapak mengenalnya?" Aku sedikit menarik tangan Iwan untuk menjauh dari Aria ...


"Aduh, apa gak ada rekomendasi yang lain Wan?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa pak? Aria orangnya juga profesional, cara kerjanya mirip dengan Hesti."


"Bagaimana kamu bisa tau cara kerjanya? sedangkan kamu saja bekerja di kantor saya." Tanyaku penuh selidik.


"Saya ini dulu sebelum bekerja di kantor bapak pernah bekerja dengan Aria pak, jadi saya tau betul gimana kinerja dia. Percaya sama saya pak, kalau saya salah bapak bisa langsung memutuskan untuk mencari penggantinya pak,".


"Oke akan saya tes pagi ini juga, bagaimana dia nanti saat menghadapi klien."


"Siap pak,"


"Yasudah saya masuk dulu, kamu tolong beritahu Aria dimana ruangannya."


"Baik pak."


Pov End.


Sementara itu Denis dan Desi si resepsionis kantor menggelengkan kepala saat mengetahui obrolan Aria dan Iwan....


"Gimana Wan?" tanya Aria


"Beres, santai aja. Yang penting jangan lupa perjanjian kita,"


"Iya iya bawel banget lo, nih udah gue transfer."


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, namun Frans belum juga menampakkan batang hidungnya, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Icha memutuskan untuk mengajak Resti saja, karena mamanya juga kebetulan sedang jalan sama ibu-ibu kompleks. Icha meraih ponsel dan segera menghubungi Resti, tidak lama telepon tersambung,


"Hallo Cha, gimana?"


"Enggak Cha, lo kan tau gue cuma dirumah nungguin cuan doang, hahaa."


"Temenin gue cek kandungan mau gak? mama juga lagi keluar nih."


"Siap tuan putri, gue siap-siap dulu."


"Okee,"


Tidak lama kemudian suara klakson mobil Resti terdengar, mereka segera menuju rumah sakit yang sebelumnya sudah di booking oleh Icha.


''Eh ngomong-ngomong suami lo kemana? Biasanya kan ibu hamil gitu ditemenin suaminya."


"Tau ah, jangan bahas dia dulu. Bt banget gue, dia udah janji mau nganterin eh sampe sekarang hp nya ga bisa dihubungi."


"Yaudah deh jangan cemberut gitu, lagian kan ada gue. Bisa jadi suami lo lagi ada kerjaan yang belum kelar." Icha hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kini sampailah mereka di rumah sakit, tidak perlu menunggu lama akhirnya giliran Icha dipanggil, dokter lalu menyuruhnya untuk menimbang berat badan dan mengecek perut Icha...


"Wah bagus ini berat badannya udah naik mbak Icha, tapi jangan mager ya harus tetap gerak, ringan saja asalkan tidak melulu tiduran."


"Baik dok,"


"Apakah ada keluhan selama ini?"

__ADS_1


"Gak ada dok, malah nafsu makan bertambah."


"Bagus dong, memang harus seperti itu tapi ingat, makanan yang dikonsumsi harus 4 sehat 5 sempurna ya mbak, agar pertumbuhan dan nutrisi janin juga bagus."


"Iya dok, "


"Oh iya ini vitaminnya tetap harus diminum rutin ya."


"Baik dok terima kasih."


"Sama-sama mbak Icha."


Setelah selesai cek kandungan Icha dan Resti lanjut makan di restoran terdekat, namun saat tengah menikmati makanannya Icha melihat Frans sedang makan dengan Aria, dada Icha mendadak bergemuruh, ingin rasanya menangis namun dia urungkan karena sedang bersama Resti dan terlebih mereka sedang di tempat umum.


"Oh jadi karena ini Frans kamu sampai lupa kalau ada janji sama aku." Batin Icha.


Icha adalah tipikal orang yang tidak suka dengan keributan, sekuat tenaga berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan sahabatnya. Acara makan pun selesai, kini Icha dan Resti dalam perjalanan pulang, Icha melihat ada yang berjualan martabak dan meminta Restu untuk menepikan mobilnya...


"Kenapa Cha?"


"Heheh gue mau beli martabak."


"Yeileee lo kan abis makan banyak banget, dasar bumil. Yaudah sana beli, gue tunggu di mobil ya, gapapa kan?"


"Okee," Icha mendekati penjual martabak....


"Martabaknya 2 bang, yang spesial pake telor bebek 5."


"Siap neng, tunggu bentar yak. Duduk dulu neng." Sembari memberikan kursi kepada Icha. Tidak lama kemudian pesanan Icha sudah selesai dibuat, setelah membayar Icha menuju mobil Resti..


"Nih buat lo 1,"


"Lah kan gue gak minta Cha, gue juga udah kenyang banget ini."


"Ntar bayi gue nangis lo kalo lo gamau nerima martabak dari gue."


"Gimana caranya bayi dalam kandungan bisa nangis, ih aneh-aneh aja lo Cha. Yaudah deh iya gue terima, ntar kalo gue gendutan gara-gara lo nih ngajakin makan banyak banget."


"Hehe biar sama dong, kan kita bestie jadi gue gendut lo juga harus gendut haha."


"Sialan lo."


Mereka lalu melanjutkan perjalanan, hingga sampai di halaman rumah Icha terlihat mobil Frans dan mama papanya sudah terparkir di garasi.


"Gue langsung Cha," Pamit Resti


"Oke Restii sayang, makasih ya udah mau gue repotin hari ini"


"Iye sama-sama bumiill. byee."

__ADS_1


"Byee..."


Sesampai di ruang tamu Frans serta mama papanya sudah terlihat menunggunya ..


__ADS_2