Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 19


__ADS_3

Icha membuka mata perlahan, namun Frans kini sudah tidak ada disampingnya, dan saat melihat jam ternyata sudah jam 9,


"Aduh kesiangan lagi, pasti Frans udah berangkat." Gerutu nya.


Buru-buru Icha mencari mamanya yang sudah pasti jam segini ada di ruang tengah,


"Pagi ma,"


"Pagi Cha, wah tidurnya pules ya jam segini baru bangun kamu"


"Hehehe, ma nanti aku mau nyusulin Frans ke kantornya, mau minta maaf soal yang kemaren sekalian mau nganterin makan siang."


"Ternyata anak mama ini sudah mulai bucin ya sama Frans,"


"Mama ih jangan gitu dong, Icha kan cuma pengen seperti wanita-wanita lain ma yang bisa sweet sama pasangannya."


"Hemm iya dehh, yaudah sana kamu mau masak sendiri atau minta tolong sama bibi?"


"Masak sendiri dong ma, aku mau buatin Frans cumi asam manis pasti dia suka. Yaudah aku mask dulu ma."


"Eh kamu makan dulu, baru masak. Kasian tuh yang ada di dalam perut."


"Hehe oke ma." Icha beranjak menuju meja makan, setelah selesai langsung menuju dapur dan ternyata di sana ada bibi yang sedang mencuci piring.


"Pagi bi," Sapa Icha


"Pagi non, tumben non baru bangun?"


"Iya nih bi, eh bi masih ada stock cumi gak?"


"Masih non, saya ambilkan dulu ya." Bibi berlalu sembari mengambil cumi.


"Ini non cuminya."


"Oke makasih bi,"


"Sama-sama non, mau dibantuin non masaknya?"


"Boleh bi, tolong bersihin cuminya ya bi,"


"Baik non,"


Icha dengan dibantu bibi terlihat bersungguh-sungguh mempersiapkan makanan untuk Frans. Kurang lebih 1.5 jam acara memasak pun selesai,


"Bi ini tolong disiapkan di kotak bekal ya,"


"Siap non"


Sementara bibi menata bekal, Icha menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini Icha sangat bersemangat memoles riasan wajahnya hanya untuk bertemu dengan suaminya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, Icha menyambar tas serta dompetnya yang berada di meja, tak lupa segera mengambil bekal yang sudah dia siapkan.


"Ma Icha berangkat dulu," Teriaknya dari garasi, karena mamanya sedang berkebun di taman, mama Icha yang mendengar teriakan anaknya buru-buru melepas sarung tangan dan menghampirinya.


"Cha kamu harus hati-hati di jalan, jangan ngebut pokoknya."


"Iya ma, yaudah Icha jalan dulu."


"Iya Cha, hati-hati."


Icha mengendari mobilnya sembari mendengarkan lagu favoritnya..

__ADS_1


**Saat hatimu terluka


Akulah yang menemanimu


Membasuh air matamu


Namun, mengapa ketika


Hatimu t'lah tersenyum lagi


Aku yang kau lupa?


Tak sadarkah selama ini


Ku juga s'lalu menginginkanmu?


Mengapa sulit


Untuk ku bisa miliki hatimu?


Bahkan s'lama ini


Hadirku tak berharga untukmu


Yang terjadi kini


Ku hanya rumah persinggahanmu di saat kau terluka


Dan di saat semuanya reda


Kau menghilang begitu saja


Jika memang ini tak ada harapan


Saat hatimu terluka, aku yang jadi obatnya


Tanpa pernah kauhargai cinta dan kasih yang setulus ini


Mengapa sulit


Mengapa sulit


Untuk ku bisa miliki hatimu?


Bahkan s'lama ini


Hadirku tak berharga untukmu, ho-ho-ho


Yang terjadi kini


Ku hanya rumah persinggahanmu di saat kau terluka


Dan di saat semuanya reda


Kau menghilang begitu saja


Dan di saat semuanya reda


Kau menghilang begitu saja**

__ADS_1


Tak terasa kini dia sampai di halaman kantor Frans, setelah memarkir mobil Icha masuk ke dalam menuju bagian resepsionis,,


"Siang mbak, bapak Frans nya ada?"


"Ada bu, apa sebelumnya sudah membuat janji dengan pak Frans?" Tanya si resepsionis, ya tentu saja karena di kantornya belum ada yang tau kalau bos nya sudah menikah lagi setelah bercerai dengan Sherin.


"Sudah mbak,"


"Baik silahkan langsung menuju ruangan pak Frans bu, akan saya panggilkan security untuk mengantar ibu." Si resepsionis memanggil security yang bertugas untuk membukakan pintu kantor.


"Pak Imam, tolong antar ibu ini ke ruangan pak Frans ya,"


"Oke siap... Mari bu,"


Icha mengikuti security tersebut, tibalah mereka di depan ruangan Frans,


"Ini bu ruangannya, saya permisi dulu."


"Baik pak, terima kasih"


"Sama-sama bu," Ingin rasanya Icha mengetuk pintu dulu sebelum masuk ruangan, namun diurungkannya toh ini juga ruangan suaminya sendiri. Ditekannya ganggang pintu,


Ceklekkk,, terlihat Frans dan Aria yang sedang duduk berdua menikmati makan siang, Frans sangat terkejut karena tiba-tiba istrinya datang,


"S sayang, kamu kok ke sini gak ngabari dulu?" Frans sambil menghampiri Icha, sementara itu Aria menatap Icha dengan senyum sinisnya dan juga merasa menang hari ini karena Icha melihatnya berduaan dengan Frans. Icha setengah mati menahan agar tidak tersulut emosi,


"Ntar kalau gue emosi dan marah pasti si Aria bakal kesenengan karena berhasil buat gue cemburu. Gue harus terlihat biasa aja." Batin Icha.


Segera Icha mendekap Frans dan mengecup bibirnya, hal itu membuat muka Aria menjadi merah padam.


"Sayang kamu makan sama apa? nih aku bawain cumi asam manis kesukaan kamu. Oh iya ini aku sendiri loh yang masak, kamu makan ya." Frans yang melihat tingkah Icha berubah menjadi kebingungan.


"Em oke sayang, aku makan ya." Jawab Frans. Icha menghampiri meja dan mengambil sisa makanan Frans,


"Ini kami beli di mana sayang?'


"Itu tadi dibeliin Aria," Mendengar jawaban itu Icha segera melahap makanannya, Aria dengan gesit mengambil makanan yang sedang dimakan Icha.


"Icha kamu ngapain sih makan ini? ini tuh punya Frans." Aria mengomel


"Loh Frans itu kan suamiku, dan dia juga sedang menikmati makanan yang aku bawakan. Kalau yang ini aku makan ya gak masalah dong."


"Ngeselin banget sih." Aria berlalu meninggalkan ruangan yang kini membuatnya merasa kepanasan karena melihat Frans lebih memilih makanan yang dibawakan Icha. Tak membutuhkan waktu yang lama Frans sudah menghabiskan makanannya,


"Sayang kamu pinter masak juga ternyata, enak banget loh ini." Icha yang sedari tadi menahan emosi akhirnya meledak juga,


"Enak banget kamu ya makan berduaan sama mantan. Di dalam ruangan lagi, emang gak bisa makan di kantin?"


Frans mendekati Icha yang sedang emosi,


"Sayang kerjaan aku hari ini banyak banget, aku gak ada waktu kalau musti ke kantin. Kamu sebenernya percaya gak sih sama kesetiaan aku??"


"Tadinya setelah kamu cerai sama Sherin percaya, tapi setelah mantan kamu si uler itu hadir di kehidupan kita ya jadi ragu. Kamu sebenernya juga peka gak sih kalau aku cemburu?!!"


"Iya aku ngerti, tapi kamu juga gak boleh lupa kalau aku disini butuh asisten yang cekatan kayak Hesti sayang, biar kerjaan aku gak keteteran dan aku bisa pulang tepat waktu biar ada waktu buat kamu, kalau aku sering pulang telat pasti kamu juga ngomel."


Icha hanya diam memang betul apa yang dikatakan Frans, Icha sejenak termenung merutuki keegoisannya. Mungkinkah dirinya hanya terlalu cemburu kepada Frans? sedangkan Frans sendiri berusaha untuk meluangkan waktunya untuk dirinya.


"Udah lah sayang, kamu dengerin aku.

__ADS_1


Aku udah gak ada rasa sama Aria, aku cuma menganggapnya partner kerja, udah itu aja gak lebih. Kamu sabar dulu ya, tahan emosi kamu kalau lagi ketemu Aria sampai Hesti balik dari cutinya."


Akhirnya Icha mau tidak mau harus mengerti keadaan Frans, karena tidak mudah juga untuk mencari asisten yang ada pada kriteria Frans, dan Icha juga harus membuang jauh sifatnya yang mudah cemburuan..Setelah perdebatan itu perlahan hubungan antara Icha dan Frans mulai membaik. Frans juga tidak lupa untuk selalu memberi kabar kepada Icha agar tidak terjadi salah paham lagi.


__ADS_2